Minggu, 14 Februari 2016

UJIAN PAKET A, B, DAN C, BISAKAH DIATUR KEMBALI?

Lama tidak bisa menulis untuk sidang pembaca semua. Kali ini saya akan menulis keprihatinan saya akan salah satu sudut dari system pendidikan di negara tercinta ini, semoga ada yang berwenang merubah kebijakan bisa ikut membaca keprihatinan saya ini, atau ada orang yang dengan sengaja menyampaikan keprihatinan ini pada pejabat pejabat yang berkepentingan.
Seperti apa yang saya tulis dalam judul tulisan ini saya sedikit ingin menyoroti segi kurang bagusnya ujian paket a, b, dan c yang sudah bertahun tahun dilakukan di negri ini. Saya sama sekali tidak ingin menyangkal arti strategis adanya ujian ujian paket ini untuk pengembangan sumber daya manusia Indonesia. Yah ujian paket itu bagaikan sumber air jernih ditengah gurun yang gersang bagi orang orang yang bernasib kurang bagus sehingga tidak bisa mengakes pendidikan formal seperti anggota warga Negara yang lain yang bernasib baik. Adanya ujian paket ini, mereka seperti mendapatkan udara segar setelah kepenatan dan kepengapan hidup yang ereka alami, dan ujian paket adalah secercah aharapan bagi mereka untuk bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik bagi masa depan mereka.
Namun, ternyata ujian paket ini, di sisi lain, bisa juga menghancurkan system pendidikan makronya, atau system pendidikan utamanya yang lebih besar. Oleh karena itu pengambil keputusan di level kementrian hendaknya segera menyadarinya.  Tentu saja tulisan saya ini masih membingungkan pembaca sekalian. Namun yah memang itu saya sengaja hahahaha… Ok lah untuk memperjelas letak permasalahan saya akan bercerita saja dan tidak akan melibatkan opini sama sekali… biar siding pembaca menilai sendiri dalam masalah ini.
Ada beberapa penggiat pendidikan yang bercerita pada penulis tentang murid muridnya.  Ada seorang guru yang cerita betapa sulitnya mengatur siswanya yang sangat malas belajar dan selalu bikin permasalahan di sekolah; dan ketika siswa itu dinasihati bahwa dengan sikap yang begitu tentu sulit baginya untuk sukses dalam sekolahnya dan malah mungkin tidak naik kelas dan juga tidak lulus. Jawaban sang siswa sungguh membuat terperanjat gurunya, “ saya tidak butuh naik kelas maupun lulus dari sekolah ini pak, karena saya akan ikut ujian paket C saja”, begitu kurang lebih jawaban siswa ini. Menurut pengamatan guru ini, siswa yang punya pikiran seperti ini ternyata banyak. Bagaiamana bisa sekolah sekolah mengajarkan ilmu pengetahuan untuk pengembangan sumber daya manusia Indonesia  pada siswanya yang berfikir cari mudah yang ternyata difasilitasi Negara seperti ini? Belum lagi kalau kita bicara pengembangan karakter. Karakter macam apa yang bisa ditanam pada siswa yang sudah melihat jalan keluar mudah dari segala persoalan pendidikannya lewat ujian paket seperti ini?

Apakah Cuma seperti ini permasalahannya?     Tidak!!!, ada yang lebih mengerikan dari itu. Pada suatu hari di awal semester pertama dari tahun ajaran sekolah, seorang kepala sekolah didatangi anak kelas 10 yang baru belajar di SMA 2 bulan. Sang siswa minta ijin kepala sekolah untuk meninggalkan sekolah dengan alasan untuk mendaftar diperguruan tinggi. Wowww kepala sekolahnya melotot besar…bagaimana bisa anak yang baru lulus SMP yang ijasahnya saja belum jadi mau masuk perguruan tinggi? Ahhhh sekali lagi kita boleh terperangah, ternyata itu terjadi Karen efek adanya ujian paket C. Ternyata ada banyak perguruan tinggi swasta yang berbayar mahal sanggup menerima siapa saja yang ingin sekolah tanpa melihat umur calon mahasiswanya yang penting si calon siswa mau ikut ujian paket C nantinya. Untuk kasus anak yang baru lulus SMP, boleh iku kuliah asal berjanji nanti mereka akan mengurus ujian paket Cnya. Jadi anak anak ini boleh kulaih dulu terus nanti pas ada kesempatan ujian paket C mereka harus ikut. Saya tidak perlu menyampaikan banyak opini tentunya siding pembaca bisa memikirkan kira kira apa akibatnya kalau anak lulusan SMP, sekolah di SMA 2 bulan terus kuliah jadi mahasiswa? Mampukah mereka secara mental spiritual berada di lingkungan yang seharusnya mereka belum berada disana? Bagaimana dengan kemampuan kognitifnya? Siapkah mereka disana? Sebagai catatan siswa yang ambil jalan pintas seperti ini kebanyakan malah siswa yang tidak pintar secara akademik disekolah, tapi malah mereka merusaha memangkas satu jenjang pendidikan (SMA) dan langsung naik di jenjang selanjutnya. Dan kasus seperti ini sudah buuuuuuanyak terjadi. Akankah pemerintah diam saja? Atau benarkah hal seperti ini biasa saja? …

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saya sangat berterimakasih kalau anda tinggalkan komentar disini