Minggu, 26 Juni 2016

PENDIDIKAN YANG SEHARUSNYA DISEDIAKAN SEKOLAH UNTUK SISWANYA

(tulisan ini adalah kata sambutan yang saya tulis untuk website sebuah sekolah besar di Jakarta, yang sebentar lagi bakal dihapus dari dunia maya selamanya, maka saya kopi dan tempel disini untuk mengawetkan dan menyelamatkan tulisan pendek saya itu)





I’m really glad to welcome you to S**** N******* Secondary School where students are preparing their future.  We believe that education is actually not about “teaching” but it is completely about “learning”. This belief leads us not to be busy preparing ourselves to teach, but we are here pretty engrossed to make our students learn. We try to facilitate our students’ learning process with safe and comfortable educational environment which will give a good atmosphere for our students not only to achieve useful nowadays knowledge and science but also give them a chance to turn themselves to be reliable thinkers and calculating risk takers who possess mature characters. So in the long run our students will be educated people with fully developed potentials which ensure that they are capable of reaching their utmost capabilities.
                                                                                                   
We surely understand that our students will face different future, something that we cannot imagine today. Society is changing. We watch everything change very rapidly lately. The norms, values, tools, gadgets, social relationship, human preferences are all subjects to change. It means that, in the future of our today students, all aspects of social life, the skills and knowledge required for work and lives will be shifting. That is why we also believe that our educational systems need to be adapted to meet the needs of our students’ future so that they will be able to acclimate to the changing times. They will easily face their time and find solutions to the problems they might get in their future lives.

S**** N****** School offers a teaching and learning strategy to enrich the learning process by developing Science-based curriculum which emphasizes the relationship between subjects (integrated learning).  Our learning process will be supported by the use of multi-media, and various teaching approaches, such as ATL (Approaches To Learning), CTL (Contextual Teaching Learning), Constructivism, Leadership Life Skills, entrepreneurship program to support  our students’ multiple intelligences developments.

After all in S**** N******* Secondary school, students will experience educational process that are holistic, so that students can receive knowledge and skills from many kinds of resources, not only from the teachers and the textbooks. The education we prepare will also in the form of sharing information, teacher will only act as facilitators of learning, not to spoon-feed the knowledge. It means that student-centered learning is a mandatory teaching method in our school. Besides, we will also make sure that our school is  a risk-free studying environment . It will guarantee  our students’ self-development with a good character building. Last but not least, we at S**** N******* Secondary School nourish higher-level thinking skills to our students.


Minggu, 14 Februari 2016

UJIAN PAKET A, B, DAN C, BISAKAH DIATUR KEMBALI?

Lama tidak bisa menulis untuk sidang pembaca semua. Kali ini saya akan menulis keprihatinan saya akan salah satu sudut dari system pendidikan di negara tercinta ini, semoga ada yang berwenang merubah kebijakan bisa ikut membaca keprihatinan saya ini, atau ada orang yang dengan sengaja menyampaikan keprihatinan ini pada pejabat pejabat yang berkepentingan.
Seperti apa yang saya tulis dalam judul tulisan ini saya sedikit ingin menyoroti segi kurang bagusnya ujian paket a, b, dan c yang sudah bertahun tahun dilakukan di negri ini. Saya sama sekali tidak ingin menyangkal arti strategis adanya ujian ujian paket ini untuk pengembangan sumber daya manusia Indonesia. Yah ujian paket itu bagaikan sumber air jernih ditengah gurun yang gersang bagi orang orang yang bernasib kurang bagus sehingga tidak bisa mengakes pendidikan formal seperti anggota warga Negara yang lain yang bernasib baik. Adanya ujian paket ini, mereka seperti mendapatkan udara segar setelah kepenatan dan kepengapan hidup yang ereka alami, dan ujian paket adalah secercah aharapan bagi mereka untuk bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik bagi masa depan mereka.
Namun, ternyata ujian paket ini, di sisi lain, bisa juga menghancurkan system pendidikan makronya, atau system pendidikan utamanya yang lebih besar. Oleh karena itu pengambil keputusan di level kementrian hendaknya segera menyadarinya.  Tentu saja tulisan saya ini masih membingungkan pembaca sekalian. Namun yah memang itu saya sengaja hahahaha… Ok lah untuk memperjelas letak permasalahan saya akan bercerita saja dan tidak akan melibatkan opini sama sekali… biar siding pembaca menilai sendiri dalam masalah ini.
Ada beberapa penggiat pendidikan yang bercerita pada penulis tentang murid muridnya.  Ada seorang guru yang cerita betapa sulitnya mengatur siswanya yang sangat malas belajar dan selalu bikin permasalahan di sekolah; dan ketika siswa itu dinasihati bahwa dengan sikap yang begitu tentu sulit baginya untuk sukses dalam sekolahnya dan malah mungkin tidak naik kelas dan juga tidak lulus. Jawaban sang siswa sungguh membuat terperanjat gurunya, “ saya tidak butuh naik kelas maupun lulus dari sekolah ini pak, karena saya akan ikut ujian paket C saja”, begitu kurang lebih jawaban siswa ini. Menurut pengamatan guru ini, siswa yang punya pikiran seperti ini ternyata banyak. Bagaiamana bisa sekolah sekolah mengajarkan ilmu pengetahuan untuk pengembangan sumber daya manusia Indonesia  pada siswanya yang berfikir cari mudah yang ternyata difasilitasi Negara seperti ini? Belum lagi kalau kita bicara pengembangan karakter. Karakter macam apa yang bisa ditanam pada siswa yang sudah melihat jalan keluar mudah dari segala persoalan pendidikannya lewat ujian paket seperti ini?

Apakah Cuma seperti ini permasalahannya?     Tidak!!!, ada yang lebih mengerikan dari itu. Pada suatu hari di awal semester pertama dari tahun ajaran sekolah, seorang kepala sekolah didatangi anak kelas 10 yang baru belajar di SMA 2 bulan. Sang siswa minta ijin kepala sekolah untuk meninggalkan sekolah dengan alasan untuk mendaftar diperguruan tinggi. Wowww kepala sekolahnya melotot besar…bagaimana bisa anak yang baru lulus SMP yang ijasahnya saja belum jadi mau masuk perguruan tinggi? Ahhhh sekali lagi kita boleh terperangah, ternyata itu terjadi Karen efek adanya ujian paket C. Ternyata ada banyak perguruan tinggi swasta yang berbayar mahal sanggup menerima siapa saja yang ingin sekolah tanpa melihat umur calon mahasiswanya yang penting si calon siswa mau ikut ujian paket C nantinya. Untuk kasus anak yang baru lulus SMP, boleh iku kuliah asal berjanji nanti mereka akan mengurus ujian paket Cnya. Jadi anak anak ini boleh kulaih dulu terus nanti pas ada kesempatan ujian paket C mereka harus ikut. Saya tidak perlu menyampaikan banyak opini tentunya siding pembaca bisa memikirkan kira kira apa akibatnya kalau anak lulusan SMP, sekolah di SMA 2 bulan terus kuliah jadi mahasiswa? Mampukah mereka secara mental spiritual berada di lingkungan yang seharusnya mereka belum berada disana? Bagaimana dengan kemampuan kognitifnya? Siapkah mereka disana? Sebagai catatan siswa yang ambil jalan pintas seperti ini kebanyakan malah siswa yang tidak pintar secara akademik disekolah, tapi malah mereka merusaha memangkas satu jenjang pendidikan (SMA) dan langsung naik di jenjang selanjutnya. Dan kasus seperti ini sudah buuuuuuanyak terjadi. Akankah pemerintah diam saja? Atau benarkah hal seperti ini biasa saja? …