Senin, 13 Mei 2013

PERLUNYA MENDIDIK ORANGTUA SISWA.



Judul tulisan saya ini mungkin sedikit terasa provokatif, saya merasa bahwa sudah saatnya gagasan ini saya lempar untuk saya sharing-kan pada siding pembaca semuanya. Di muka bumi ini sepertinya tak ada satu orangtuapun yang tidak ingin melihat anaknya sukses. Terkait dengan pendidikan tentu tak ada satu orangtuapun yang menginginkan anaknya gagal dalam belajar untuk memperoleh pendidikan yang baik. Mereka rela banting tulang ibarat kaki dipakai kepala dan kepala dipakai kaki agar mampu membiayai sekolah anak anaknya.
Begitu juga guru, sebagai orang tua kedua, tak satupun guru dimuka bumi ini yang menginginkan siswa siswinya gagal belajar, baik belajar ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang berguna bagi masa depan siswa siswa tersebut maupun belajar sopan santun, etika dan tingkah laku yang baik sehingga siswa siswa itu berhasil jadi manusia yang matang dan Nampak beradap.  Dari paparan saya ini sebetulnya tak terbantahkan lagi bahwa kedua belah pihak orangtua siswa ini (baik orangtua asli yang dirumah, maupn orangtua disekolah, guru) mempunyai tujuan mulia yang sama, menjadikan anak anak mereka manusia yang terdidik dan terpelajar.  Secara teoritis dua orang atau dua kelompok orang yang mempunyai tujuan yang sama seharusnya dengan gampang dipersatukan untuk bahu membahu bekerjasama menggapai tujuan bersama.
Namun anehnya hal itu tidak berlaku di dunia pendidikan. Walau orangtua dan guru mempunya visi, misi dan tujuan yang sama terhadap anak anak mereka. Dua kelompok orangtua siswa ini sulit sekali dipersatukan. Di seluruh dunia, terlebih lebih di Indonesia, sekolah selalu punyaa keluhan dan kesulitan mengumpulkan orangtua untuk memebicarakan soal pendidikan anak anak mereka. Orangtua sebagian besar akan menghindari dan menolak dating kalau sekolah mengundang mereka dalam rapat orangtua siswa, rapat undangan pembentukan komite, seminar pendidikan dan ahkan banyak orangtua yang menolak atau tidak mau datng untuk ambil raport/ laporan hasil belajar anaknya di sekolah. Orangtua jaman sekarang akan ke sekolah hanya kalau anaknya laporan kalau mereka ‘dizolimi” atau tidak mendapat perlakuan yang baik dari teman, guru, atau karyawan atau civitas akademika lain disekolah. Orangtua akan enteng melangkahkan kaki ke sekolah hanya kalau ingin marah, ngomelin guru atau kepala sekolah.  Seperti yang saya tulis diatas, kalau ada urusan penting tentang pendidikan, rapat, seminar, konferensi dengan siswa, pameran karya siswa, assembly dan yang lainnya, mereka enggan untuk pergi ke sekolah.
Tentu tidak semua guru atau sekolah menyerah akan kondisi seperti ini.  Buku harian siswa atau ada yang menyebut buku jurnal siswa adalah contoh kreatifitas sekolah untuk melibatkan orangtua dalam pendidikan. Buku macam ini muncul tentunya dikarenakan sulitnya engundang orangtua ke sekolah. Ada juga sekolah yang bermodal cukup sampai mebuat newsletter, atau majalah sekolah tujuannya sama untuk menyampaikan pesan kemajuan pendidikan dan melibatkan orang tua dalam upaya pendidikan anak anak mereka. Namun saying disayang kedua benda hasil kreatifitas sekolah itupun jangankn dibaca disentuh oleh orangtua juga tidak. Bahkan surat undangn rapat yang dititip ke siswa banyak yang tidak diperhatikan oleh orangtua atau wali siswa.  Tentu hal ini tidak sesuai dengan harapan mereka bahwa anaknya harus sukses dibangku sekolah. Inilah anomaly pendidikan kita. Aneh bukan?
Banyak factor yang menyebabkan orangtua tidak terlalu hirau akan ajakan sekolah memikirkan pendidikan anaknya ini; factor factor seperti latar belaakang pendidikan orangtua, kesibukan oratua dengan pekerjaaanya, anggapan bahwa orangtua itu cukup mengeluarkan uang dan pendidikan adalh urusan sekolah, kemampuan sekolah mengkomunikasikan tujuan pendidikan sekolah sampai ketakutan orangtua ditagih uang SPP yang belum dibayarkan. Apapun alasan ketidakpedulian orangtua akan undangan sekolah untuk membicarakan ttg pendidikan  anaknya ataupun menunjukkan hasil belajar anak dan siswa mereka, tentu tidak boleh dibiarkan berlarut larut karena hal ini akan memperlemah strategi pendidikan yang digelar sekolah, memperlebar kesenjangan persepsi orangtua dan sekolah akan tujuan dan keberhasilan pendidikan bagi anak anak mereka, menjadikan sekolah tumpuan kesalahan dan kegagalan pendidikan, menjadikan guru dan kepala sekolah tempat menumpahkan amarah orangtua yang anak anaknya gagal terdidik dengan baik, dan ujung akhirnya semua itu akan memperlemah daya sekolah menggapai tujuan luhur pendidikan bagi semua siswanya.
Sekilas terpikir oleh penulis ternyata kita masih perlu mendidik orangtua siswa. Menambah wawasan orangtua akan arti penting, proses  serta arti penting peran orangtua dalam pendidikan sangat perlu dilakukan agar tumbuh kesadaran dan  makin besarnya peran orangtua dalam proses pendidikan. Kalau kesadaran dan peran orangtua dalam pendidikan bisa bertumbuh dan berkembang, maka bisa diharapkan pendidikan bagi putra putrid bangsa ini bisa makin sempurna karena siswa benar benar bisa mengalami belajar di semua lini pendidikan; seperti yang kita yakini bahwa pembelajaran itu terjadi di tiga tempat; di sekolah, di rumah dan di masyarakat. Proses belajar siswa di ketiga tempat ini benar benar bisa efektif terlaksana kalau kesadaran masyarakat (orangtua siswa) benar benar telah terbagun sempurna.
Kementrian pendidikan yang memegang 20% anggaran Negara untuk pendidikan, mungkin satu satunya institusi yang mampu merancang dan melaksanakan pendidikan bagi orangtua ini. Semoga berguna.