Jumat, 26 April 2013

Tujuan yang akan dicapai program leaderpreneurship dalam pengembangan sekolah




Seperti yang berulang kali saya sampaikan pendidikan sudah seharusnya diarahkan pada penciptaan sumberdaya manusia yang bukan saja intar secara intelektualitas tapi juga mampu mengantisipasi dan beradaptasi dengan perkembangan jaman sehingga mereka sanggup menghadapi dan mencari solusi atas permasalahan hidup mereka sendiri dimasa masa mendatang. Itu artinya pendidikan tradisional klasikal yang masih jadi dasar pendidikan di Indonesia ini harus segera di akhiri. Kalau tidak selamanya pelajar kita akan terjebak pada cara pengajaran yang menekankan pada hafalan dan pemahaman sempit sebagai buah dari focus pengajaran yang hanya berkutat pada stimulasi berfikir tingkat rendah.
Pendekatan pengajaran tradisonal ini tak akan lebih dari menghasilkan lulusan yang berfikiran sempit dengan kepribadian yang mentah karena memang belum ada upaya untuk membangun karakternya. Hal ini sangat terlihat sewaktu selesai Ujian nasional beberapa hari yang lalu, selesai ujian nasioanal hari terakhir mereka sudah mulai konvoi sepeda motor dengan baju dan rambut yang dicat. Namapak sekali pelajar pelajar kita tak dewasa dan tidak punya kepribadian. Meraka masih belum punya pegangan dan belum mengenal jati dirinya. Pendidikan tradisional kita telah terbukti mandul. Hal ini bias kita pahami karena memang pelajar pelajar ini selama ini kita perlakukan seperti alat perekam, guru berbbicara menerangkan siswa disusruh merekam dan menghapalkan. Mereka kita perlakukan seperti mesin tanpa jiwa. Akibatnya bias ditebak, mereka menjadi lulusan yang tak terkembangkan dengan baik. Character mereka masih mentah dan cenderung liar tak punya idealisme dan bahkan tak ada pegangan hidup bahkan tokoh panutanpun mereka belum bias memilih dengan baik.
Program leaderpreneurship dibuat bukan untuk menentukan apa yang akan diajarkan tapi lebih berkutat pada bagaimana kita mengajarkannya sehingga pelajr kita mamapu menyerap kemampuan berfikir tingkat tinggi dan sekaligus mengembangkan kepribadian dan karakter mereka. Program ini telah dirancang secar sistematis dengan memeperhatikan, pengembangan otak kiri dan otak kanan secar berimbang, mengacu pada taxonomi bloom, berlandaskan juga tiga unsure pendidikan yang masih diakui sampai sekarang; kognitif, afektif dan psikomotorik, sesuai juga dengan multiple intelligences ala gardner. Dan sudah pasti berkesesuaian dengan  empat pilar pendidikan yang dianut UNESCO: Learning to know, Learning to do, Learning to be, Learning to live together.
Namun begitu tulisan ini tak penulis maksudkan untuk membahas itu semua ataupun salah satu dari itu. Dengan tulisan ini, penulis hanya ingin mencoba berbagi tentang tujuan yang akan dicapai dengan program leaderpreneurship ini, yang kebetulan bisa kita bagi menjadi beberpa hal berikut:

1.    Menciptakan kondisi dan lingkungan pendidikan dan pengajaran dan pembelajaran yang efektif, aman dan nyaman. Hal pertama yang harus diperhatikan sekolah adalah menciptakan kondisi pengajaran dan pembelajaran yang efektif. Hal ini sangat penting diperhatikan, karena system pendidikan yang ada sekarang telah terbukti gagal dalam menggapai misinya untuk menciptakan sumberdaya manusia yang tangguh untuk masadepan bangsa dan Negara. Lulusan sekolah kita, adalah lulusan cengeng, berkarakter mentah dan masih sangat bergantung pada orang lain untuk kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu efektifitas pengajaran dan pembelajaran harus jadi prioritas utama sekolah untuk dibenahi. Selain pengembangan metode dan pendekatan pengajaran yang tepat factor keamanan fisik dan kenyamanan psikis pelajar juga harus mendapat jaminan dari sekolah, kalau ingin menelurkan lulusan lulusan SDM yang super.
2.    Menjadikan sekolah sebagai organisasi yang belajar (learning organization). Kita harus meyakini bahwa kwalitas individu akan berpengaruh pada kwalitas organisasi. Kehebatan seorang guru akan berimbas pada kemampuan organisasi sekolah dalam mempertahankan eksistensinya di dalam masyarakat. Kalau seorang guru yang hebat saja akan berpengaruh , apalagi kalau ada dua, tiga, empat atau bagaimana kalau semua anggota organisasi  adalah kumpulan orang hebat? Tentu saja oragnisasinya juga akan jadi organisasi yang hebat, oleh karena itu sangat lah perlu kita semua terus belajar meningkatkan kwalifikasi diri agar mampu mendukung perkembangan organisasi. Kalau semua orang dalam organisasi menyadari itu dan semua mulai belajar meningkatkan diri, maka organisasi itu akan menjadi organisasi yang belajar, karena perubahan paradigm organisasi akan cepat terjadi kalau organisasi itu berisi orang orang nan hebat dan pintar.
3.    Mengembangan karakter siswa. Kenapa sekolah wajib terfokus pada pengembangan karakter siswa? Diyakini oleh banyak ahli pendidikan bahwa kemampuan intelektualitas hanya memberi “golden ticket’ pada kesuksesan seseorang. Artinya intelektulitas tidak banyak berpengaruh pada kesuksesan sesorang. Intelektulitas digambarkan hanya memebri sumbangan tak lebih 15% dari kesuksesan, selebihnya kesuksesan sesorang banyak ditentukan oleh karakter dan kepribadian orang itu. Hal ini sebetulnya telah menjawab kenapa orang lulusan Sd atau SMP jadi BOSS tapi yang lulusan S3 bisa dipekerjakan oaring yang Cuma lulus SD. Semua bersumber jadi karakter. Bahkan sekedar untuk mencari kerja, kita ini akan diseleksi pertama tama berdasarkan karakter kita oleh manager sumberdaya manusia perusahaan tempat kita melamar kerja. Itulah kenapa pengembangan karakter adalah hal yang penting diperhatikan sekolah, jadi jangan terpaku pada pengembngan intelektulitas terus, apalagi pengembangan intelektulitas Cuma sekedar suruh menghafal. Itu lebih kacau lagi…hal ini akan lebih efektif kalau jadi keputusan politis kementrian pendidikan. Kementrian pendidikan jangan Cuma pintar bikin UN yang ga penting, tapi kurang cerdas mengembangkan karakter peserta didik yang sangat penting ini.
4.    Meningkatkan kwalitas lulusan dengan pengembangan ketrampilan hidup yang dibutuhkan di masa depan. Ketrampilan hidup jangan dipersempit pada ketrampilan kriya, sehingga kementrian pendidikan tergopoh gopoh mau menjejalakan ketrampilan kriya sebagi pelajaran di kurikulum baru 2013. Ketrampilan kriya membantu memnag tapi sangat tidak banyak. Hari ini banyak manusia punya ketrampilan kriya yang luar biasa tapi tetap miskin, karena mereka tidak punya ketrampilan hidup yang sesungguhnya. Ketrampilan hidup yang sesungguhnya adalah ketrampilan manusia berbaur dan berkomunikasi dengan oranglain serta kemampuan inovasi dan kreatifitas yang didorong ketrampilan berwirausaha dan kemampuan jadi pemimpin. Itulah ketrampilan hidup yangsesungguhnya. Dan itulah kenapa program ini kita sebut sebagaiprogram leaderpreneurship.
5.    Mengembangkan kreatifitas dan inovasi sebagai antisipasi menghadapi ekonomi kreatif di masa depan. Dijaman dimana sumberdaya alam sudah makin menipis dan di lain pihak terjadi perkembangan tehnologi yang luarbiasa pesat akan membuat manusia kehilangan kesempatan kerja karena industry akan menyusut krn kurangnya sumberdaya alam yang akan diolah dan andai masih ada industry mereka akan memperkerjakan robot dan bukan manusia. Untuk menghadapi masa itu pelaajar kita harus dibekali dengan kemampuan inovasi dan kreatifitas yang tinggi, karena mereka akan hidup di jaman ekonomi kreatif.
6.    Mendorong berkembangnya jiwa dan pola pikir kewirausahaan (entrepreneurship). Ah yang ini terkait dech dengan hal hal yang saya sampaikan diatas. Tidak usah saya jelaskan lagi yah? Udah pegel nich tangan. Maklum penulis mengetik dengan 11 jari.
7.    Mengembangkan peserta didik menjadi pemimpin di masa depan. Menjadikan para pelajar menjadi pemimpin dimasadepan haruslah jadi komitmen kita pengelola sekolah. Tinggalkan paradikma lama yang mengatakan sekolah akan menciptakan tenaga kerja siap pakai. Tahukan arti siap pakai? Artinya kita menciptakan buruh. Dan itu terbukti lulusan sekolah kita Cuma mampu jadi TKI dan TKW. Oelh karena itu kita harus merubah paradigm ini. Kalau ada dorongan dari otoritas Negara paradigm ini akan lebih mudah dirubah saya kira. Program leaderpreneurship sudah mencoba mengantisipasi ini dengan strategi penanaman jiwa kepemimpinan pada anak didik.
8.    Menciptakan hubungan dan ikatan yang kuat antar anggota di dalam organisasi sekolah. Hubungan yang solid, kuat, utuh saling menghargai dan merasa saling membutuhkan perlu dibina di sekolah kalau ingin menjadi organisasi yang tangguh dan maju menjadi organisasi atau sekolah panutan oleh sekolah yang lain, karena hanya dengan ikatan dan kerjasam yang kuat semua kibajak sekolah bias dilakukan dengan baik.
9.    Menciptakan hubungan kerjasama saling menguntungkan dengan stakeholders yang lain. Sekolah perlu juga menjaga hubungan dengan stakeholders Karen sekolah tidak bias hidup sendiri. Sekolah perlu dukungan, dorongan dan bahkan partisipasi pihaklain untuk bias tetap ada dan berkiprah ditengah masyarakatnya.
Hal ahal itulah yang akan jadi pusat perhatian dan pengembangan bila sekolah menerapkan program leaderpreneuship ini. Semoga berguna dan bermanfaat bagi siding pembaca….