Senin, 25 Februari 2013

yang saya harapkan ada di kurikulum baru tahun 2013



Pernahkan sidaang pembaca merasakan begitu tersiksanya batin berada diruang kelas, ingin rasanya sekolah segera berakhir dan tidak lagi dengar suara pak atau bu guru? Sehingga saat bel sekolah berakhir berdentang, terasa lega rasanya. Cuma sayang kita sadar besok harus balik lagi ke sekolah dengan situasi yang sama lagi. Capek dech!!!! Puluhan juta siswa dan bekas siswa pernah mengalami hal tersebut, dan anda salah satunya mungkin.
Kenapa hal seperti itu bisa terus terjadi? Jawanya adalah hal ini terkait dengan kurikulum dan cara ngajar guru yg kurang tepat. Kurikulum yang bermain pada kemampuan berfikir kelas rendah,menurut taksonomi bloom, yang menekankan pada pemahaman dan kemampuan menghafal telah menjadikan sekolah terasa seperti penjara yang menghancurkan semangat hidup dan harga diri siswa selama ratusan tahun. Seperti yang kita pahami kemampuan menghafal manusia begitu terbatas, sehingga sudah bisa dipastikan tidak akan banyak siswa yang akan berhasil ‘pintar” disekolah. Siswa berprestasi adalah sesuatu yang langka, padahal seharusnya setiap siswa punya hak yang sama untuk berprestasi. Dan sekolah punya kewajiban untuk membuat semua siswa berprestasi. Namun seperti yang diterangkan diatas. Sekolah jarang sekali menghasilkan siswa berprestasi. Artinya misi sekolah gagal total.
Kita mungkin tidak terlalu peduli apa yg sudah dihasilkan oleh sekolah sekolah kita. Sehingga murid yang tidak berprestasi yang jumlahnya hampir sama dengan seluruh murid yang ada, dianggap biasa saja. Padahaal itu bukan hal yang biasa saja. Itu kegagalan dan itu adalah bencana nasional. Ketidak berhasilan siswa untuk berprestasi akan berbuntut pada rendahnya mutu SDM negara ini. Rendahnya mutu SDM akan berdampak pada kemajuan negara. Kemajuan negara akan berpengaruh pada kemakmuran dan harga diri serta kehormatan bangsa. Tapi anehnya kok tidak banyak orang yang peduli dengan kegagalan pendidikan nasional kita ini yah? Kacau dech...ya itulah kenapa kita yang kaya sumberdaya alam merdeka sudah lebih 65 tahun masih jadi negara yg dibilang sebagai “such a random country” oleh seorang penyanyi muda yang otaknya juga ga begitu encer. Akankah kita mau mulai peduli?
Ya uwis lah, kita kembali saja ke dunia pendidikan. Sekolah sekolah kita seperti yang saya tulis di atas dalam proses belajar mengajarnya masih dititik beratkan pada ketrampilan berfikir rendahan. Proses berfikir rendahan yg berisi usaha untuk menghafal dan ngarti ternyata gagal membuat siswa “pintar” apalagi berprestasi (sorry kok jadi diulang ini ngomongnya?). Sementara ketidakberhasilan untuk ‘pintar’ bagi siswa disekolah akan menimbulkan rasa kurang percaya diri, dan  rasa tidak mampu pada diri siswa, dan ini akan diperparah kalau sang guru sering memposisikan siswa sebagai siswa yang bodoh dan yang pintar. Bagi siswa yang pintar tentu akan tumbuh kebanggaan pada diri sendiri. Tapi bagaiamana siswa yang mendapat jatah posisi dibodoh bodohkan sepanjang masa oleh semua gurunya? Siswa yang terposisi seperti ini, akan malu pada saat itu dan habis harga dirinya saat sang guru menunjuknya sebagai contoh siswa yang bodoh. Dalam jangka panjang, siswa ini akan merasa bahwa jadi pecundang adalah nasibnya, sikap apatis dan sebodo amat akan menjadi ciri kepribadiannya. Menjadi siswa yang baik atau siwa yang bengal akan terasa sama saja bagi mereka, karena sejarah mereka sudah mati disekolah itu. Masa depan sudah tidak nampak di mata mereka. Agar merasa juga punya kelebihan dibanding teman temannya, mereka akan cenderung memposisikan sebagai siswa nakal. Dengan menjadi nakal, siswa akan merasakan dua hal; satu, dia akan punya alasan kegagalan belajarnya, karena mereka bisa bilang aku gagal sekolah karena saya badung. Yang kedua, mereka walau merasa kalah dalam bidang akademik, tapi mereka akan bangga karena ternyata mereka lebih bernyali dihadapan guru dan sekolah sebagai institusi belajar, dan mereka pun akan panen perhatian. siswa badung itu semakin direndahkan dengan ditunjukan kegagalannya di sekolah atau di kerasi karena sikap menyimpang mereka, mereka bukan sadar dan memperbaiki diri, tapi malah akan makin tak bisa dikendalikan. Hal ini terjadi karena  mereka telah terluka harga dirinya.
Oleh karena itu sudah selayaknya sekolah punya pendekatan pendidikan yang tidak melukai harga diri siswa. Terlukanya harga diri siswa  akan membaut sekoalh seperti neraka bagi siswa. Kalau siswa sudah pada posisi memandang sekolah seperti neraka, apalagi yang bisa siswa harapkan dari sekolah, dan apa yang bisa diharapkan oleh sekolah dari siswa tersebut? Oleh karena itu penataan pendekatan dan penentuan metodologi pengajarn di sekolah haruslh menjadi prioritas yang besar yang harus diselesaikan sekolah dan dijadikan kebijakan secara menyeluruh sebelum prose belajar mengajar terjadi. Hal ini perlu dilakuakn agar semua siswa yang ada adalah siswaa yang berhasil. Siswa yang berprestasi.
Ada baiknya sekolah mulai memikirkn untuk tidak hanya mengajarkan berfikir tingkat rendah pada siswanya, karena terlalu rendahnya target berfikir siswa teryata malah membawa bencana baik padaa siswanya maupun pada masyarakat bangsa dan negara. Mulai sekarng kita harus menyadari bahwa  kegagalan menghafal yg ditandai nilai buruk dalam ujian adalah palu godam yang menghancurkan rasa ingin tahu siswa, merasa bodoh dan dengan iklas menerima kondisi bodoh itu, dan malah memposisikan pada ujung yang lain sebagi siswa badung. Tentang masa depan mereka ga pikirkan lagi. Mereka pikir masa depan hanya milik orang pintar, dan kebetulan orang pintar itu bukan mereka. Maraknya tawuran pelajar adalah contoh konkrit dari siswa yg sdh tidk berfikir ttg masadepan, karena mereka selalu merasa bodoh di sekolah yang artinya tidak punya masa depan. Jadi sepertinya sekolah kita hanya menghasilkan banyak lulusan yang berhasil dihancurkan semangat dan mentalitasnya, ketimbang siswa yg telah berhasil dididik dgn benar.
Kalau boleh berpandepat hal ini sumber pokok masalahnya adalah pendekatan pembelajarn yang textual dengan ngedepankan cara berfikir rendahan yang mengacu pada kemampuan mengerti dan hafal thok. Dan ini dilegitimasi dengan  bentuk evaluasi yang sangat beraroma hafalan. Padahal adaa bentuk evaluasi yang lebih baik yang disebut evaluasi autentik yang tidak akan membuat siswa kita terpecah jd yang pinter dan yang bodoh, namun kok kesadaran pendidikan kita belum kesana. Untuk kurikulum yang baru di tahun 2013 ini saya sangat berharap, pak mentri membuat kebijakan kurikulum yang tidak memperpanjang situasi yang saya gambarkan ini.