Sabtu, 16 Februari 2013

Paradigma guru pada pembelajaran abad 21 (21st century learning) (bagian 2)





Dari pada bengong yuk kita lanjutakan bicara tentang paradigma baru yang harus dipunyai seorang guru di abad 21 ini. Pada bagian pertama, di  PARADIGMA GURU PADA PEMBELAJARAN ABAD 21 (21st CENTURY LEARNING) (bagian 1) kita sudah bicarakan empat paradigma baru guru, nah sekarang kita lanjutkan pada pradigma ke;

5.      Isolated works             harus dirubah menjadi                         collaboration works
Pada proses pembelajarn yang umum terjadi di masa kini dan masa lalu, guru selalu menempatkan siswa sebagi pribadi pribadi yang tersendiri dan tidak saling terhubung. Mereka dibiarkan menjalani sendiri sendiri nasib mereka sebagi pembelajar. Yang pintar akan pintar sendirian, yang kurag beruntung akan nampak bodoh juga sendirian. Hal ini tentu terkait dengan cara evaluasi yang dilakukan guru. Pada ujung evaluasi siswa akan menerima raport secara personal oleh karena itu guru akan selalu menempatkan siswa sebagi individu yang saling terpisah, pun begitu tugas tugas sekolah yang mereka berikan. Tugas yang biasanya berbentuk PR pun akan berupa pekerjaan rumah yang dikerjakan sendiri sendiri.  Memang benar ada sesekali guru memberi tugas kelompok, namun tugas kelompok ini tidak disertakan aturan main yang jelas, sehingga tugas kelompok yang harusnya dikerjakan berkelompok cukup dikerjakan salah satu dari anggota kelompok dan dinamai ramai ramai. Setelah dikerjakan guru pun tidak terlalu peduli apakah itu hasil kerja kelomok atau bukan.
Ke depan guru harus membentuk atmosfir yang bisa menyuburkan kerja kelompok di dalam kelas. Kerja kelompok bukan saja akan membuat siswa belajar bersama dan saling tukar menukar informasi, namun tugas kelompok akan membuat siswa belajar berorganisasi, belajar managemen, mempertajam kemampuan intra dan extra personalnya, memupuk kemampuan komunikasi, kemampuan bekerjasama dan tidak kalah pentingnya mereka belajr bertanggungjawab dan kemandirian. Banyak hal bisa dipelajari siswa dengan membuat mereka diberikan pekerjaan kelompok.  Dan boleh sedikit saya sampaikan di dunia ini sekarng ini sedaang gandrung dengan apa yang mereka sebut sebagi Project based learning, artinya itu adalh mengajarkan siswa untuk belajar bekerja sama.


6.   Knowledge based                    harus dirubah menjadi               information based decision making
Karena yang diajarkan guru adalah teori teori maka biasanya guru memberikan instruksi instruksi untuk berlatih membuat keputusan keputusan penting berdasarkan logika tau setidaknya memberikan saran pada siswanya untuk menggunakan logika dan kepantasan umum untuk setiap langah yang diambil. Paradigma ini harus segera dirubah, bukan karena penggunaan logika dan pengetahuan umum  itu salah, namun logika dan pengetahuan umum tidak pernah menjamin ketepatan langkah yang diambil dengan kondisi riil lapangan. Oleh karena itu informasi yang real time sanagt diperlukan siswa pada masanya nanti untuk ambil keputusan. Nah sebelum waktunya siswa harus ambil keputusan tersebut ada baiknya guru sudah membiasakan siswanya untuk mempunyai informasi yang terkini  atau yg real time dari setiap kondisi yang dihadapi.

7.  Passive learning                   harus dirubah menjadi                  active/ inquiry based learning
Ini terkait dengan pendekatan pengajaran yang dilakukan guru di dalam kelas. Sejauh guru tetap menjadikan dirinya satu satunya sumber referensi pengetahuan, seperti yang pernah kita bicarakan, maka yang akan sibuk dikelas adalah gurunya,  karena posisi ini akan cenderung membuat guru sebagai orator. Siswa cukup sebagi pendengar yang setia. Cara pembeljaran yang seperti ini bukan saja akan membuat siswa jadi pasif namun juga membuat siswa menjadi bodoh karena informasi yang mereka terima akan sangat terbatas jumlahnya dan yang lebih menyedihkan lagi siswa hanya akan menerima kira kira 10-15% saja dari informasi yang terbatas itu.
Oleh karena itu Cara belajar siswa aktif haruslah yang dijadikan paradigma pengajaran yang terbaru. Dengan membuat siswa aktif belajar dengan strategi yang tepat, mereka bukan saja akan menjadi pintar, tapi mereka akan menjadi super cerdas karena mereka akan mendapatkan informasi yang tanpa batas. Keaktifan merekalah yang akan mendekatkan para siswa itu pada banyak sumber informasi dan mereka bisa menyerap semua infomasi yang tanpa batas tersebut.


8.  Reactive response               harus dirubah menjadi                   proactive response
Sudah menjadi tabiat guru guru dimanapun berada, mereka meraasa bahwa tugas mereka hanyalah mengajar seperti kemarin dia mengajar. Tidaklah terlalu diperlukan untuk berfikir dan bertindak lebih jauh dibanding apa yang mereka kerjakan kemarin.  Mereka kebanyakan tidak punya visi yang agak jauh ke depan sehingga tidak juga mempunyai langkah langkah preventif proaktif. Mereka akan bergerak dan melangkah kalau sudah ada suatu kejadian. Semua tindakannya bersifat responsif reaktif. Adaa muridnya badung dia panggil untuk dinasihati, ada yang terluka dia bawa ke UKS atau ke rumah sakit, siswa bodoh baru dia panggil dia suruh untuk rajin belajar.
Apakah tindakan reaktif begitu salah? Kalau dibilang salah juga tidak tepat, namun yang jelas tindakan tindakan reaktif itu sangat terlambat.  Menunggu rumah kebaakar dulu baru sibuk memadamkan adalh tindakan yang sangat terlambat bukan? Menunggu kebanjiran dulu baru membersihkan saluran air dan got got juga perbuatan yang nampak bodoh bukan? Sama dan sebangun dengan itu,  semua permasalahan kenakalan dan kebodohan siswa hendaknya dibuatkan langkah langkah antisipasinya jangan hanya menunggu kejadian baru bereaksi. Untuk sekedar diketahui saja siswa badung tidak akan tiba tiba menjadi baik hanyadengan dinasihatidan dihukum siswa bodoh tidak akan mendadak pintar dengan di nasihati dan disuruh iku les. Strategi  yang menyeluruh ketat dan konsisten  yang dijadikan kebijakan sekolah adalah solusi dari semua itu


9.   Single media                       harus dirubah menjadi                   multi media
Kalau saya bicara multi-media pasti saja ada yang salah tafsir dengan perangkat kompoter dan alat aat digital lainnya. Tapi baiklah kita terangkan dulu yang saya maksud dengan single media terlebih dahulu. Media disini yang saya maksud adalh media atau sumber atau alat belajar. Single media disini maksudnya media belajar siswa Cuma satu. Ini kembali berbicara pada peran guru lagi. Sistem pengajaran jaman dulu guru adalah satu satunya sumber pengetahuan dan papan tulis jadi satu satunya  media belajar untuk menstransfer ilmu. Jaman sudah sedemikian majunya sumber pengetahuan harus sudah bervariasi pun begitu media pembelajaran. Koran majalah tabloid, jurnal ilmiah sangat banyak beredar, semua itu bisa jadi sumber belajar dan media belajar seklaigus. Kenapa guru tidak mencoba untuk memnafaatkan? Internet bukan barang langka lagi itu bisa jadi sumber belajar dan media pembelajaran sekliagus. Penggunaan laboratorium, tape recorder, in focus, televisi, film, komputer, vcd player , tugas kelompok, pembuatan project dan yang lainnya sangat dianjurkan untuk media pembelajaran.  Jangan hanya ceramah melulu, siswa nya ngantuk.

10.   Single sense stimulation            harus dirubah menjadi             multi-sensory stimulations
Pada abad yang lalu pendidikan disekolah masih terfokus pada metode ceramah bahkan samapi hari ini juga masih banyak guru yang tiap hari kerjanya ceramah di depan siswanya. Ini artinya guru masih beranggapan bahwa untuk membuat siswa pintar siswa haruslah mendengar informasi dan pengetahuan, kemudian mencerna di dalam otak untuk memhami dan menghafalkan. Setelah hafal maka siswa akan pintar. Apakah kenyataan begitu yang terjadi? Ohhh...my..yang terjadi jauh panggang dari api. Siswa terbukti hanya sedikit yang bisa pintar;  dari 40 siswa di dalam kelas tidak akan lebih dari lima yang bisa dibilang pintar bukan?
Oleh karena itu guru sekarang haruslah berfikir bahwa tidak semua siswa bisa paham dengan mendengar ada sekian abnayk siswa yang bisanya pintar karena melihat, ada yang bisanya pintar karena meraba, ada yang bisanya pintar karena saat belajar diperbolehkan sambil jalan jalan, ada siswa yang bisa pintar karena melakukan atau mengalaamilangsung apa yang sedang mereka pelajari. Yang saya tulis ini adalah apa yang oleh orang pintar sebagi gaya belajar. Setiap siswa punya gaya belajarnya sendiri. Dan tentu saja tidak semua siswa bergaya belajar auditori atau mendengar, oleh karena itu guru jangan ceramah melulu. Belajarlah tentang gaya belajar. Atau tunggulah saya sampai ada waktu untuk menulis tentang gaya belajar.

11.    Single-path progression            harus dirubah menjadi              multi-path progression
Hal yang terakhir ini terkait dengan  evaluasi siswa.  Sejauh ini sekolah sekolah di indonesia hanya memfokuskan pada penilaian kemampuan akademis siswa. Oleh karena itu semua sekolah akan keluarkan buku rapor yng berisi nilai matematika, Ipa , bahas inggris dst. Sekali lagi kemampuan intelegensia akademislah fokus penilaian dan ukuran kemajuan siswa. Padahal kalau kita mau sadari ada banyak orang sukses yang tidak genius. Penyanyi, bintang film, pelawak, pengusaha, seniman, pedagang, pesulap rata rata hidup makmu, kecukupan bahkan kaya raya, mereka tidak bermodalkan “pintar”. Merka punya bakat, mereka punya ketrampilan, mereka punya watak dan sifat pribadi yang kuat. Kenapa sekolah yang katanya ingin membuat masa depan siswanya cerah Cuma terpaku pada membuat siswanya “pintar”, cobalah pantau kemajuan bakatnya, kemajuan, karakternya, pengembangan pribadinya, perkembangan ketrampilan hidupnya. Itu akan lebih bermanfaat bagi mereka ketimbang anda sebagi guru hanya sibuk membuat siswa anda pintar.
Semoga bermanfaat.....