Senin, 28 Januari 2013

HAL HAL YANG HARAM DILAKUKAN GURU DALAM KELAS (Bagian 2)



Baiklah kita lanjutkan lagi pembicaraan kita tentang hal hal yang tidak seharusnya dilakukan seorang guru didepan siswa siswinya. Hal hal yang akan saya sebutkan adalh mutlak untuk dihindari guru kalau sebagi guru anda berharap bisa mengembangkan suasana kelas yang aman dan nyaman serta kondusif untuk proses belajar mengajar. Hal haram berikutnya yg tidak boleh didekati oleh guru adalah:


n  Menunjukkan diri yang paling hebat.
Untuk meredam kenakalan siswa atau untuk mengambl hati siswa agar mudah diatur selama berlangsungnya proses belajar mengajar, tidaklah perlu sampai guru menyomongkan dirinya dengan menunjukan kehebatan dan prestasinya. Apalagi kalau prestasi yang dibangga bangakan itu diceritakn setiap hari. Selain nantinya guru tidak akan ngajar karena fokus pembicaraan bukan diarahkan ke pelajran tapi diarahkan ke pribadi sang guru beserta segala bualannya, cerita yang sama yg diulang ulang cuma akan menimbulkan ejekan pada sang guru dan menjadikan sang guru jd bahan candaan siswa. Dampaknya sdh bisa ditebak tdk akan ada respek yg bisa diterima oleh sang guru. Hal ini erlu saya samppaikan karena ada sekian banyak guru yang senengnya cerita ttg kehebatan diri, kehebatan anak anaknya, kehebatan cucunya atau bahakan cerita kesuksesan anggota keluaga besarnya. Sejauh pengamatan guru yang begini kurang disuka oleh siswa siswinya.
n  Menempatkan diri sebagai yang paling benar.
Hal yang dibenci siswa dari gurunya yang lain adalah sikap guru yang sok merasa paling jago, paling ngerti dan paling benar sendiri. Guru yang seperti ini akan cenderung membenarkan pendapatnya sendiri dan selalu menyalahkan apa yang disampaikan siswanya. Sikap yang demikian bisa menimbulkan rasa tidak hormat pada guru tersebut dari siswa siswinya karena mereka merasa tidak dihargai oleh sang guru yang sebetulnya diharapakan bisa menghargai mereka sebagi perwujudan rasa sayang guru pada siswanya. Harapan yang bertolka belakang ini akan menimbukan sikap yang mengecilkan dan tidak menghargai guru. Sebagai guru selayaknya kita menghargai apapun pendapat siswa dan memberi apresiasi agar semangat belajarnya tumbuh dan berkembang. Andai pendapat siswa kurang benar tidak seharusnya langsung dibilang “salah” begitu saja. Ada banyak cara agar siswa lebih mengerti persoalannya selain menempatkan pada posisi “orang bodoh”. Lagi pula jaman ini guru bukanlah satu satunya sumber belajar lagi, ada banyak sumber disekitar kita yang memeungkinkan siswa dapat informasi yang bukan dari gurunya. Sehingga akalau ada perbedaan pendapat anatar siswa dan guru ada baiknya guru mencari tahu dulu, siapa tahu siswanya yang benar dan gurunya yang ketinggalan informasi. Sehingga merasa yang paling benar dan paling pintar tidak lagi menjadi sifat bagi kita sebagi guru.
n  Main kayu
Hal lain yang tabu dilakukan guru dalam menenangkan dan mengatur siswanya adalah main kayu atau menggunakan kekerasan fisik terhadap siswa siswinya. Jelas tugas guru itu mendidik dan mengajar siswa bukan menebar sakit hati, dan dendam. Penanganan siswa dengan kekerasan fisik pada siswa tidak akan bisa mengarahkan siswa pada disiplin dan rasa tanggungjawab, justru sebaliknya kekerasan yang dilakukan guru terhadap siswa akan membuat siswa merasa dipermalukan didepan teman temannya. Sebagai akibatanya siswa akan menyimpan dendam pada sang guru dan tentu rasa dendam ini akan memepengaruhi semangat dan motivasi belajar siswa. Bagaimana kita bisa berhrap menciptakan SDM unggul di sekolah kalau  siswa yang ada dipenuhi rasa dendam dalam hatinya? Lagi pula keadaran hukum dan kesadaran akan pendidikan yang baik telah mewabah dikalang orang tua, sehingga kekerasan fisik bisa diartikan bahwa pendidikan di sekolah itu kurang bagus dan kurang bermutu. Bahkankan kekerasan fisik bisa berbuntut jadi ersoalan hukum untuk jaman sekarang. Jangan disamakan dengan jaman tahun 60-70an dimana guru boleh seenak udelenya nempelng siswanya.
n  Melebarkan permasalahan ke tempat lain.
Adakalanya dalam menangani kasus siswa secara tidak sengaja menunjuk siswa yang lain lagi untuk kesalahan yang sama atau mnunjuk siswa lain sebagi sama sama siswa yang badung dengan kasus lain yang sudah lalu. Tindakan ini tidak bijaksana karena guru akan memperluas permasalahan dengan mengundang konflik dengan orang oarang yang tidak perlu.  Ada baiknya bila ada ksus pada salah satu siswa, guru berkonsentrasi untuk menyelesaikan kasus itu dan terfokus pada siswa yang bersangkutan. Tidak perlu kiranya guru memeprluas permasalahn dengan menunjuk kesalaha siswaa yang lain lagi yang ada disekitar situ. Jadi kalimat seperti ‘kamu tuh sama saja bandelnya dengan dia” semesti jangan samapi dikeluarkan.
n  Tidak sesuai antara ucapan dan tindakan.
Ucapan seorang guru haruslah bersifat “sabda pandita ratu tan kena wola wali”, tetap dan mengikat baik pada siswa maupun pada guru itu sendiri. Jangan sampai ucappan guru tidak sesuai dengan tindakannya. Kalau seorang guru mengatakan bahwa membuang sampah harus pada tempatnya kepada siswa siswinya, mka guru tersebut kalau buang sampah tidak boleh sembarangan dan harus pada tempatnya. Kalau siswa disuruh menghormati orang berbicara dengan cara mendengarkan dengan baik, sudah seharusnya kalau siswa berbicara guru juga harus mau mendengarkan siswanya sampai selesai bicara. Jangan sampai guru membuat standard ganda, kalau siswa harus begini begitu, sedang akalu guru boleh suka suka sendiri. Kalau ini terjadi siswa akan kehilangan rasa percaya pada gurunya.
n  Tidak konsisten dalam menangani kasus siswa.
Di dunia ini disebelah manapun, orang sangat menghargai konsistensi, konsistensi itu menunjukkan jati diri dan pendirian yang kuat. Kekonsistenan juga memudahkan orang bersikap padanya, itulah kenapa orang senang dgn orang yang konsisten. Berkaitan dengan sikap konsisten yang dipunya guru, murid akan mengapresiasi tinggi karena sikap konsisten guru menyiratkan keadilan, dan ketidakberpihakkan. Guru harus memastikan bahwa pelanggaran yang sama akan mendapatkan konsekwensi yang sama, perbuatan baik yang sama akan mendapatkan imbalan yang sama. Kalau seorang guru bisa menjaga konsistensinya itu, dia ga akan pernah diprotes siswanya.
n  Menggoda siswanya.
Sempat beberapa kali melihat guru laki yang masih lajang menggoda siswinya. Menurut penglihatan saya sang guru memang tertarik secara seksual atau jatuh cinta pada siswanya. Hal ini sangat haram dilakukan. Karena wajah orang jatuh cinta atau tertarik secar seksusal dgn lawan jenisnya itu sangat kelihatan. Kalau ada guru yang seperti ini tentu akan jd bahan tertawaan siswa siswanya.Apalagi kalau cintanya tidak ditanggapi oleh siswanya,  guru akan menanggung beban psikis yang berat karena suka disindir siswanya, sementara cintanyapun tak berhasil. Ruang kelas akan jadi ruang siksaan bagi si guru dan tempat kurang ajar bagi siswa. Hati hati.
n  Menyentuh siswi / murid perempuan.
Dalam ajaran islam menyentuh lawan jenis yang bukan muhrim (keluarga) itu haram hukumnya. Namun selalu ada saja guru laki yang suka main pegang, main peluk siswanya. Hal ini sangat berbahaya karena perbuatan guru ini akan menurunkan wibawa guru. Siswa tidak akan menaruh hormat padanya malah cenderung menjauh. Furu yang seerti ini tentu sudah susah untuk dihrapkan bisa mengatur siswa untuk tidak berisisik dan fokus dalam belajar. Selain itu kalau sampai disalah mengerti dan dilaporkan sebagai pelecehan seksual akan jadi masalah yang lain lagi.
n  Membandingkan siswa satu dengan siswa yang lainnya.
Walau sessulit apa mengatur tingkah laku siswa, janganlah pernah seorang guru membandingkan si siswa “nakal” dengan temannya yang mudah diatur. Karena dalam membandingkan bisa saja guru terlepas kata yang menyakitkan hati si siswa “nakal’. Kalau proses pembandingan ini berlangsung lama dan terus menerus, siswa ‘nakal” ini bukan saja akan membenci gurunya karena merasa selalu diremehkan , dikecilkan dan dihinakan, tapi si siswa ‘nakal” ini bisa timbul dendam pada siswa baik yang selalu dipakai sebagai perbandingan. Dengan membandingkan siswa, tak sengaja guru bisa mencarikan musuh bagi siswanya yang sudah sesuai aturan yg diharapkan gurunya tersebut.  

OK lah bapak Ibu guru diamanapun anda berada sekian yang bisa saya sampaikan. Saya berkeyakinan kalau bapak ibu guru mampu mnghindari hal hal yang saya jelaskan di dua artikel saya terakhir ini. Insyaallah, bapak dan ibu guru akan jad guru yang dihormati siswanya dan akan mudah mengatur mereka sehingga terciptalah suasana yang aman, dan nyaman di kelas bapak dan ibu semua, yang kondusif untuk jadi tempat belajar bagi siswa siswi ibu dan bapak guru semua. Semoga bermanfaat.

HAL HAL YANG HARAM DILAKUKAN GURU DALAM KELAS (Bagian 1)




Tak bisa dipungkiri kalau ketenangan dan kenyamanan belajar siswa di dalam kelas adalah syarat mutlak yang harus ada bila kita menginginkan kesuksesan dan tercapainya tujuan penangajaran dan pembelajaran di kelas kelas kita. Oleh karena itu penciptaan kondisi aman dan nyaman dalam kelas adalah sebuah kwajiban yg mutlak juga melekat pada diri setiap guru.
Kwajiban ini tidaklah mudah, karena memang adakalanya kita masuk ke sebuah kelas yang sama sekali belum teratur dengan baik sehingga kekacauan masih mewarnai setiap detik dari keberadaaan kita dikelas tersebut. Namun seberat apapun kondisi ketidakteraturan kelas yang kita masuki, hendaklah tidak membuat guru kalut dan ambil langkah yang tidak tepat untuk mengendalikan kelas. Kesalahan tingkah ataupun tindakan kita dalam mengatur kelas akan memepersulit kita sendiri dalam mengendalikan kelas tersebut dibelakaang hari.
Di dalam tulisan  saya kali ini, saya bermaksud sedikit mengingatkan hal hal yang tidak boleh guru lakukan dikelas dalam mengatur kedisiplinan dan ketenangan kelas. Sekali hal hal “haram” ini ibu dan bapak guru lakukan di kelas, maka bappak dan ibu guru jangan terlalu berharap akan memiliki sebuah lingkungan belajar yang aman dan nyaman baik untuk belajar maupun untuk mengajar sampai bapak dan ibu benar benar kehilangan otoritas untuk mengajar di kelas tersebut.
Inilah hal hal yang harus dihindari oleh guru tersebut;

n  Meninggikan suara agar bisa didengar seluruh siswa yang sedang ribut.
Usaha ini dilatar belakangi pemikiran keliru sang guru yang beraanggapan bahwa kalau suara dia lebih kencang dan lebih keras dari seluruh siswa yang sedang berisik maka seluruh siswa akan mendengarkan dan bisa dikendalikan. Pemikiran ini sanagt sangat sesat, justru sebaliknya siswa tidak akan mendengarkan guru yang bersuara tinggi. Suara tinggi guru akan ditanggapi siswa bukan sebagai peringatan bahwa mereka telah melanggar keteraturan dalam kelas, tapi malah dinggap sebagaai legalitas dari gurunya untuk melanjutkan kebisingan yang mereka ciptakan, karena toh terbukti gurunya juga ikut berisik. Jadi jangan berharap terlalu banyak bila anda sebagai guru sudah ikutan membuat kegaduhan yang lebih keras dibanding kegaduhan yang dibuat oleh siswa anda sendiri.
Yang terbaik bagi guru adalaah meredakaan suara siswanya dengan cara lain terlebih dahulu, setelah siswa siswinya diam dan fokus perhatiannya barulah gurunya berbicara, memeberi nasihata ataaupun melanjutkan pengajarannya.
n  Bereriak dan membentak siswa.
Dalam menangani kasus kenakalan siswa, guru sudah seharusnya mengendalikan emosinya.  Jangan sampai guru mengeluarkan bentakan dan teriakan pada salah seorang atau sekelompok siswa di dalam kelas yang anda semua ajar. Memang betul sebuah teriakan/akan yang lantang akan mampu mengejutkan dan mendiamkan siswa. Namun ongkos yang harus dibayar bisa terlalu mahal. Karena bentakan emosional itu bukan saja akan membekas dihati siswa tapi juga akan meninggalkan luka dihati guru itu sendiri. Siswa yang dibentak secara naluriah akan merasa terancam dan secara instingtif juga akan berusaha membela diri. Dengan demikian diamnya siswa ukan diam karena sadar akan kesalahannya tapi diam karena menunggu tindakan guru selanjutnya itu apa. Diamnya sisw disertai naluri untuk menyerang balik. Walau memang tidak ada lanjutan tindakan guru tapi kesiap siagaan siswa akan bahaya yg secar instingtif muncul tersebut akan meninggalkan rasa waspada dan mencoba akan menjauhi dan membenci sumberbahaya itu. Dan sayangnya yang harus dibenci siswa itu adalh gurunya. Bagi guru sendiri, teriakan emosional yg dilakukan terhadap muridnya juga akan menutup kemungkinan kemungkinan membuat hubungan yang baik dengan siswanya. Bentakan  adalah bentuk upaya penyerangan secara psikologis, dan itu pada akhirnya akan disadari oleh sang guru. Kesadaran telah menyerang atau membuka front “perang” dengan siswanya akan membuat guru kehilangan kesempatan untuk menjalain hubungan yg baik dengan siswanya setidaknya untuk hari itu. Kalau dua kubu telah ada perasaan tidak enak seperti ini bentuk pengajaran seperti apa yang bisa diharapakan terjadi di kelas itu?
n  Mengatakan “saya yang berkuasa di kelas ini”
Pengalaman pribadi penulis, dulu sewaktu masih SMA, saya punya guru Bahasa Inggris yang mencoba menunjukan otorotas dia sebagai guru dengan mengatakan, Saya nggak suka kamu mengganggu saya menhajar di kelas ini. Sekarang kamu yang keluar atau saya yang akan keluar dari kelas ini?”. Sontak penulis berdiri dan keluar kelas sambil membanting pintu kelas.  Semenjak itu hubungan saya dengan guru itu sangat buruk. Saya tidak suka dengan guru tersebut dan pelajaran yang diajarkan sehingag prestasi saya jeblok. Sebaliknya guru tersebut selalu salah tingkah kalau lagi ngajar di kelas saya, saya bersikap seenak saya, cuek, dan tidak pernah menganggap kalau sedang ada guru yang sedang mengajar. Bahkan ada kecenderungan saya memancing lagi kemarahan guru tersebut. Kondisi ini sungguh tidak membuat guru saya itu merasa nyaman, terbukti dia sering tidak masuk ngajar di kelas saya.  Sering sekali Cuma kasih buku suruh catat. Kalau guru itu lewat dan saya pura pura batuk , hremm hremmm, guru itu sama sekali tdk berani menoleh. Dia terteror  selama tiga tahun selama keberadaan saya di SMA itu, krn guru itu melakukan kesalahan di awal saya sekolah disana. Anda ingin merasakan suasana yang sama?
n  Berdebat dengan siswa.
Adakalanya krn kesalahan pendekatan dan kesalahan intonasi dari ucapan guru, siswa yang dinasehati bukannya sadar tapi malah membantah atau cari cari alasan. Guru yang kurang wawasan akan terpancing untuk berdebat dengan siswa tersebut sampai siswa tidak bisa berucap apa apa lagi. Hal ini sangat buruk untuk dilakuakn seorang guru karena perdebatan itu akan menurunkan minat belajar seluruh siswa dikelas tersebut dan juga membuat kikuk guru untuk malnjutkan mengajar. Jagalah hati sendiri dan jagalah hati siswa anda dengan tidak mendebat siswa. Tunjukkan kesalahannya dan jalankan konsekwensi seperti prosedur dan aturan kelas yang berlaku. Jangan pedulikan kalau siswa mengajak berebat anda.
n  Sok berwibawa dengan muka yang diserem seremin atau dengan gerakan tubuh kaku patah patah agar kelihatan hebat dan wibawa.
Satu kalimat saja untuk ini. Sikap dan gerak tubuh anda yg ingin sok wibawa ini Cuma akan jadi bahan candaan siswa baik anda ada di dalam kelas ataupun anda tidak di dalam kelas.  Anda sendiri bapak dan ibu guru yang akan menentukan masih akan berbuat begitu atau tidak di masa yang akan datang.
n  Menghina dan merendahkan siswa.
Usaha membuat diam siswa dengan merendahkan atau menghina siswa adalah usaha yang sangat salah. Hinaan seorang guru bagi siswanya itu lebih menyakitkan dari hinaan yang lain, karena siswa banyak berharap gurunya menyayangi dia bagai orangtua kedua. Harapan yang lebih terhadap guru inilah yang membuat hinaan , cacian dan makian guru terasa lebih menusuk dan melukai siswa. Apalagi kalau hinaan guru ini (walau diucap sambil becanda) diikuti oleh tawa temen teman sekelasnya. Anda sebagaai guru pasti tidak akan membayangkan balasan apa yang akan dilancarkan siswa yang anda hina. Jadi sebaiknya hal seerti ini jangan dilakukan. Dulu temen saya ada yang bergumam “ ntar lewat mana tuh guru?’. Ucapan lirih teman saya yang bisa didengar guru dan siswa sekelas itu, sempat membuat guru tergagap dan sulit berucap.
n  Sinis
Ucapan sinis menunjukkan betapa anda sebagai guru tidak menghargai dan menghormati siswa anda. Sperti hukum dimanapun, anda hanya akan mendapatkan apa yang anda beli. Kalau anda tidak menghormati siswa anda,  bagaimana anda bisa berharap mendapatkan penghormatan dari siswa. Ingat peptah yang mengatakan “siapa yang menanm dia yang mengetam” tanamlah kebaaikan dan anda akan panen kebaikan.
n  Memberi cap siswa.
Memberikan “cap” negatif pada siswa seperti mencapa siswa sebagai siswa yang nakal, bodoh, atau tukang ribut adalah tindakan yang kurang tepat. Siswa yang diberi cap, kalau dia dari golongan yang introvert, siswa tersebut akan meyakini kalau dirinya bodoh dan tidak berguna, ini akan membuat siswa makin kehilangan percaya diri, kehilangan semangat belajar, dan menambah beban penderitaan bathin siswa karena merasa bahwa dia terlahirkan dengan kondisi yang buruk dan tak punya masa depan. Percayalah tidak akan ada guru yang bisa membuat siswa seperti ini pintar. Bukan itukan tentunya tujuan bapak dan ibu guru berada di dalam kelas? Bagi siswa yang ektrovert dan pencari perhatian, mereka akan senang dengan cap itu karena mereka merasa ada yang memperhatikan. Mereka akan sebisa mungkin capa itu tiddak lepas dari dirinya. Mereka akan sangat bangga ketika ada orang cerita tentang kenakalannya dan keberaniannya terhadap guru di kelas. Memberi cap pad siswa Cuma akan membuat guru mati gaya.
Wahhh dah ngantuk, saya cukupkan disini dulu yah...nanti insyaallah akan saya tulis kelanjutannya............