Kamis, 17 Januari 2013

Pengembangan kondisi ruang kelas yang mendukung pendidikan abad 21




Maaf sekali , penulis sudah lama sekali tidak menambah tulisan, tapi syukurlah Alhamdulillah akhirnya tulisan ini bisa sampai di hadapan sidang pembaca. 

Seperti sudah berulang kali penulis sampaikan bahwa kunci keberhasilan pendidikan di sekolah adalah kemampuan guru untuk membangun dua aspek psikologis siswa di kelas yaitu; rasa aman dan nyaman.  Rasa aman yg didapat siswa akan berpengaruh pada tingkat kesiapan kejiwaan siswa dalam menuntut ilmu. Perasaan aman dan terjauh dari ancaman fisik dan ancaman mental membuat siswa bersemangat dalam belajar dan bangkit rasa ingin tahunya. Tiada kecemasan yang bersinggasana di hati membuat siswa makin berani mengeksplorasi ilmu yang mereka butuhkan dan berani mengexplorasi kemampuan diri. Sehingga sehatlah perkembangan intelektualitas, semangat dan jiwanya.
Di lain pihak rasa nyaman akan menjamin tingkat kesiapan siswa secara fisik untuk bertumbuh kembang. Kenyamanan mengindikasikan tidak adanya aral atau gangguan secara fisik pada siswa yang sedang belajar. Kenyamanan menjauhkan siswa dari keluhan dan alasan untuk tidak belajar dgn baik. Kalau dua kondisi tersebut bisa diwujudkan sekolah ataupun bapak/ibu gurunya, betapa dahsyatnya hasil pendidikan yang akan dibawa pulang oleh siswa siswinya.
Nah dalam tulisan ini, mari kita coba apa yg bisa kita lakukan di kelas untuk menciptakan kondisi aman dan nyaman tersebut demi masa depan siswa siswi kita dan masa depan bangsa ini secara umumnya. Karena pengajaran dan pembelajaran itu terjadi di ruang kelas maka tentu tidaklah aneh kalau saya katakan bahwa yang harus kita lakukan adalh membenahi kelas kita.  Kelas memang berwujud fisik namun sejatinya ruang kelas juga memiliki bagian psikisnya. Oleh krena itu untuk menciptakan kelas yang aman dan nyaman bagi siswa siswi kita, kita harus membenahi dua aspek yang melingkupi ruang kelas kita tersebut.
A.      Kita mulai dari pembenahan ruang kelas kita secara fisik dulu.
Hal pertama yang harus kita perhatikan dari ruang kelas kita secara fisik adalah tata letak atau lay-out dari perabot dan peralatan belajar lain di kelas. Karena tata letak kelas ini akan berengaruh pada kemampuan guru menangani dan mengatur kelas serta jalannya belajar selama guru itu mengajar.  Bahkan tata letak / lay-out sebuah kelas akan besar pengaruhnya pada gaya belajar siswa dan metodologi pengajaran yang akan diterapka seorang guru. Tata letak kelas yg tradisional dengan bangku yang berderet deret kebelakang  misalnya, tidak akan memungkinkan guru mengajar dengan metode active learning, atau student-centered learning. Hal ini disebakan oleh kondisi tata letak yang membuat siswa menghadap ke satu arah dan guru hanya bisa berada didepan kelas dalam mengajar. Kondisi ini lebih mendorong guru untuk ceramah ketimbang mendorong guru untuk mengembangkan metodologi pengajaran yang lain. Akhirnya mau tidak mau suka tidak suka, active learning tidak akan pernah terjadi dgn tata letak yang tradisional. Dengan begitu jelas, penulis mendorong gurur untuk mampu membuat lay-out kelas yang lebih fleksibel dan memungkinkannya siswa belajar lebih aktiv namun terasa aman dan nyaman. Sebagai panduan ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam mendisin ulang tata letak di dalam kelasnya:
a.       Tata letak sesuai dengan kebutuhan

Tata letak mebeler dalam kelas harus disesuaikan dgn kebutuhan pengajaran. Untuk memebri ujian, untuk diskusi, untuk presentasi, untuk belajar bersama tentu membutuhkan tata letak mebeler yang berbeda. Silahkan guru dan siswa tentukan tata letaknya mebeler sesuai dgn kebutuhan tersebut.
b.      Jarak yang aman & spacious
Menata letak mebeler kelas bukan asal tidak konvensional saja, namun ada patokan yang harus diperhatikan. Jarak antara perangkat mebeler itu harus diperhatikan jangan sampai penataan yang salah membuat ruang kelas jadi sempit dan jarak antara mebeler itu jadi jarak yang tidak aman. Jraka antar mebeler harus dibuat leluasa (spacious) karena tata letak perabotan kelas tidak boleh menggangu ruang gerak guru dan siswanya sekaligus. Tata letak ruang kelas tetap harus memberi ruang pada guru dan siswa untuk bisa bergerak cepat ke segala arah. Ini penting bagi seorang guru yang harus menjaga ketenangan siswa sekelas.
c.       Perhatikan kenyamanan dalam proses belajar mengajar
Tata letak perabotan kelas juga tidak boleh membuat siswa tidak nyaman dalam belajar krn dia terjepit mebeler atau terhalang pandangannya saat belajar.
d.      Mendukung pengontrolan kelas.
Guru adalah manger kelas, dia wajib mampu mengatur dan mengontrol kondisi dan admosfir belajar dikelasnya. Tata letak perabot dan mebeler kelas harus tidak boleh menghalangi gerak guru untuk bisa mendekati semua siswanya.  Sehingga kalau ada kejadian gawat darurat guru atau siswa yang lain bisa cepat mendatangi lokasi kejadian.
e.      Pastikan semua siswa kelihatan .
Pengaturan ruang kelas juga harus masih memungkinkan guru melihat seluruh siswanya tanpa adaa yang terhalang baik oleh perabot kelas atau oleh temannya. Siswa yang terhalang dari pandangan guru akan cenderung bikin ulah atau tidak memperhatikan tugasnya (tidak on task). Dan artinya guru tidak boleh membeirakan muridnya sembunyi. Murid yang gemar duduk dibarisan belakang adalah tipe siswa yang suka sembunyi. Kalau mereka dibiarkan seperti itu jiwa mereka tidak akan berkembang dengan baik kaarena rasa tidak percaya dirinya terpupuk dengan baik dan tidak ada upaya dari gurunya untuk mengholangkan.
f.        Pastikan semua siswa bisa mengakses bahan bahan dan alat alat belajar yang ada di kelas secara mudah.
Tentu kita maklum kalau kita harus memeprlakukan siswa secara adil termasuk dalam mengunakan fasilitas dan sumber belajar yang ada di ruang kelas.
g.       Tidak ada penghalang gerak di kelas.
Tata letak harus tidak menciptakan blocking di dalam kelas yang membuat siswa mauun guru tidak leluasa bergerak.

 B. Selain aspek fisik kelas juga memiliki aspek psikis atau aspek kebatinan yang harus kita perhatikan juga.

Dalam hal penanganan aspek batiniah ini kita harus perhatikan tiga hal dibawah ini:

1.       Aspek intelektual
Dalam hal intelektualitas yang akan dikembangkan dalam kelas, seorang guru harus memastikan bahwa bahan ajarnya, selain menambah wawasan dan pengetahuan para siswanya, guru juga harus memastkan hal yang diajarkan bisa juga menyokong perkembangan disiplin dan sikap mental serta karakter siswanya. Oleh karena itu dalam mengajar guru harus menyampaikan expektasi atau harapan yang harus dipenuhi siswanya secara jelas.  Itulah sebabnya guru wajib menjelaskan apa yang akan diajarkan dan apa gunanya bila siswa menguasai hal tersebut dan seberapa jauh siswa harus memahami dan mengerti nahan ajar tersebut. Expektasi tersebut bisa dipenuhi bila mana didukung dengan tugas tugas yang menantang dan menggugah rasa ingin tahunya siswa. Guru jangan sampai terjebak dalam pemberian tugas yang kering dan membosankan pada siswanya. Kedisiplinan siswa dalam mengerjakan tugas dan belajar juga harus tetap dijaga dalam irama yang tinggi, itulah kenapa guru harus memberikan masukan yang jelas dan cepat pada semua kerjaan yang dilakukan siswanya.

2.       Aspek mental spiritual
Selain intelektualitas yang memadahi, siswa juga harus diajarkan pengembangan kepribadian, sikap dan karakternya. Semua sikap mental ini akan lengkap dan mantap apabila guru juga bisa memasukan nilai nilai spiritualitas pada diri siswanya. Sehingga siswa bisa mengembangkan rasa percaya dirinya, daya tahannya terhadap stress, kemampuan memecahkan permasalahannya berdasarkan nilai nilai religius dan spiritual yang baik.

3.       Aspek sosial
Dalam proses belajar mengajar guru juga wajib memastikan adanya aturan ataupun standard tingkah laku yang jelas pada siswanya. Sehingga siswa bisa saling menghormati dengan sesamanya dan juga tunduk patuh dan hormat pada gurunya. Untuk mengembangkan kemampuan berinteraksi dan komunikasinya, siswa wajib diberi kesempatan bekerjasama dalam proses belajarnya. Selain itu guru harus menghidupkan semangat kebersamaan, kesamaan penanganan, keadilan, semangat saling menghormati. Untuk membangun itu semua guru diharapakan banyak pengetahuannya, tidak menjaga jarak, dan cepat tanggap pada segala situasi.
4.       Aspek emosional
Secara emosional guru wajib menjaga semangat belajar, rasa ingin tahunya siswa dan yang paling penting kehormatan siswa. Oleh karena itu buatlah situasi yang nyaman dalam belajar; hilangkan suasana kompetisi dalam kelas yang akan menempatkan banyak siswa jd pecundang karena tidak bisa juara kelas atau tidak mampu mengerjakan tugas dgn sempurna. Menempatkan posisi pecundang pada siswa akan mengganngu mereka secar emosional yang akanmembuat tidak nyaman suasana belajarnya. Kenali latar belakang dan sifat masing masing siswa agar bisa menangani emosi siswa secara tepat. Kealahan kesalahan kecil yang dilakukan siswa ada;ah biasa jangan terlalu diperbesar agar tidak merusak suasana emosinya.