Minggu, 24 Maret 2013

Mengapa Pendidikan berbasis leaderpreneueship program diperlukan?




Saya sendiri tidak tahu persis sejak kapan dan kenapa pendidikan itu selalu dikaitkan dengan kemudahan mencari pekerjaan yang enak dan bergaji tinggi. Semua orang yang sekolah dan semua orangtua yang mengirimkan anaknya ke bangku sekolah punya harapan yang sama agar selepas sekolah, mereka atau anak mereka akan mudah mencari pekerjaan. Makin tinggi anak di sekolahkan makin tinggi juga harapan orangtua agar anaknya dan siswa yang sekolah itu sendiri untuk mendapatkan pekerjaan yang mantap dengan gaji besar dan hidup mapan. Persepsi bahwa sekolah merupakan pintu gerbang untuk berebut pekerjaan sudah sangat kuat tertatanam dalam maind set masyarakat kita, bahkan mungkin masyarakat dunia.
Namun begitu, ternyata realitas punya logikanya sendiri. Tidak semua yang sekolah tinggi bias dapat pekerjaan. Tidak semua juara kelas jadi direktur. Sebaliknya tidak semua anak badung di kelas berakhir jadi gelandangan. Namun, realitas nampaknya tinggalah realitas, keyakinan bahwa anak sekolah harus jadi pegawai seperti tak tergoyahkan dari benak kita. Akibatnya tatkala mereka benar benar lulus sekolah, lulus kuliah, mereka tidak bertindak layaknya seorang intelektual, tapi lebih mirip robot yang terprogram. Langkah yang mereka ambil seragam, tulis surat lamaran. Kalau mereka harus menelan pil pahit tidak mendapatkan kesempatan kerja, mereka tidak tahu lagi harus berbuat apa, karena mereka hanya punya satu program, cari kerja. Kalau program ini tidak jalan. Aka mereka tidak punya program cadangan. Softwarenya Cuma satu, program cari kerja. Padahal seharusnya sebagi orang yng berpendidikan, mereka tidak sepatutnya bertindak seperti robot yang bergerak berdasarkan program. Mereka seharusnya mampu berfikir, bertindak secara dinamis dan kreatif sesuai dengan tingkat pendidikan masing masing. Kenapa hal ini tidak dijalankan? Jawbannya balik lagi ke pembicaraan awal, mereka sudah terindoktrinasi untuk mencari kerja, bukan yang lain.
Salahkah itu? Ini bukan masalah salah dan benar, tapi masalah pilihan hidup. Kalau apa yang terjadi menurut pembaca baik baik saja, ya tentu indoktrinasi macam itu tidak salah. Tapi bagi sebagian yang berfikir seharusnya tidak seperti itu, berarti mind set masyarakat tentang pendidikan itu ada yang keliru dan perlu perubahan yang mendasar, agar nantinya lulusan sekolah dan lulusan perguruan tinggi tidak buntu kalau tidak dapat pekerjaaan. Mereka mampu memeperkerjakan diri mereka sendiri.
Bagi golongan yang kedua ini, tentu akan setuju kalau kita usulkan adanya perubahan pola pendidikan di sekolah sekolah kita. Sekolah harus mampu merubah mind set siswa dari mind set lama pencari kerja menjadi mind set baru yang mendorong siswa untuk mengekplorasi semua kemungkinan kreatif untuk dijadikan jalan kehidupan yang lebih baik. Untuk maksud ini, sekolah harus meramu dan mengkonstruksi model pendidikannya agar mind set lama hilang dan berganti dengan mindset baru yang tertanam pada benak siswa dan orang tua siswanya. Artinya sekolah harus mampu menciptakan mind set baru bagi masyarakat.
Program penidikan LEADERPRENEURSHIP yang menggabungkan ketrampilan hidup kepemimpinan dan kewirausahaan adalah salah satu jawaban dari kekeliruan pola pendidikan yang ada sekarang ini. Setidaknya ada empat alasan utama kenapa program leaderpreneurship itu diperlukan untuk merombak kemapanan dan kemapetan mind set masyarakat tentang pendidikan ini;
1.    Sumber daya alam yang sudah menipis.

Pendidikan yang ada sekarang ini sebetulnya adalah  model pendidikan abad 18an. Abad dimana mulai ditemukannya mesin dan terjadi revolusi industry yang merubah masyarakat agraris menjadi masyarakat industry. Pendidikan ditujukan untuk mencetak tenaga tenaga trampil yang memiliki pengetahuan tentang permesinan, sehingga bisa masuk ke dunia industry yang menekankan pada bidang produksi, yaitu pengolahan bahan mentah menjadi barang jadi. Mereka di sekolah selain diajari baca tulis juga diajarkan untuk memahami ilmu pengetahuan. Penulis sangat yakin mindset sekolah untuk mencari kerja itu terbentuk sejak jaman ini. Karena sekolah ditujukan untuk menghasilakn tenaga kerja yang berpengetahuan maka pola ajarnya adalah guru menyampaikan materi sang murid harus menyerap apa yang disampaikan guru kalau ingin disebut pintar. Inilah rupanya jawaban kenapa sekolah adalah tempat siswa menghapalkan pengetahuan. Ujiannya pun tentu saja akan berbentuk soal soal yang dapat dijawab dengan hapalan. Dan seperti sejak saat itu juga pola pengajaran berpusat pada guru dilakukan, sejak saat itu pula murid itu wajib jadi penghafal mata pelajaran sampai saat ini. Namun yang perlu kita pahami adalah bahwa saat ini sumber daya alam sudah tidak semelimpah abad 18 lagii. Sumber daya alam sudah mulai langka dan perekonomian sudah tidak bertumpu pada penciptaan barang jadi. Dengan begitu pola pendiddikan yang ada juga otomatis menjadi rombeng. Mindset kita seharusnya juga harus diganti. Tapi sayangnya masyarakat belum sadar mindsetnya salah dan sekeloah juga belum ngerti kalau sudah tersesat.


2.    Terjadinya perubahan sosio-kultural dan perekonomian masyarakat

Seperti sudah penulis uraikan diatas, bahwa tumpuan ekonomi sdh tidak lagi pada industrialisasi karena semakin menipisnya sumberdaya alam. Perekonomian sudah lama bergeser dari perekonomian berbasis industry kearah perekonomian yang lebih modern yang berbasisi informasi dan bahkan kini perekonomian yang berbasis real time information pun telah usang dan kini kita masuk pada era ekonomi kreatif.  Perubahan perubahan landasan perekonomian ini tidak berjalan sendirian, tapi dibarengi dengan perubahan tehnologi yang dipakai masyarakat. Itulah sebabnya dua decade terakhir ini kita menyaksikan perubahan tehnologi informasi yang begitu pesat. Tehnologi itu berubah bukan semata mata karena banyak orang pintar bisa menemukan alat ini alat itu, namun sesungguhnya perubahan tehnologi itu mendukung perubahan system ekonomi yang diperlukan masyarakat manusia. Karena system ekomoni yang baru tidak mungkin bisa ditopang dengan peralatan yang lama. Bagaimana dengan dunia pendidikan? Ternyata dunia pendidikan masih tertidur pulas dan tidak menyadari perubahan perubahan ditingkat makro social masyarakatnya. Pendidikan usang abad 18 masih juga dipertahankan.


3.    Perubahan ketrampilan hidup yang diperlukan dalam dunia kerja.

Mengingat telah terjadi perubahan yang sangat signifikan di dalam pola dan landasan perekonomian dunia, yang ditemani pesatnya perkembangan tehnologi, maka sudah dapat dipastikan bahwa tenaga kerja yang terlibat dalam system perekonomian terkini haruslah memiliki kompentensi yang berbeda dari tenaga kerja lama di jaman lama. Ketrampilan yang kita ajarkan di abad 18-19-20 tentu sudah tidak akan relevan dengan keperluan ketrampilan yang kan dibutuhkan di abad 21. Namun kenapa sekolah masih mengajarkan ketrampilan yang lama, ketrampilan abad 18-19? Tidak sadarkah bahwa pekerjaaan yang kemarin ada di abad 20 sekarang sudah banyak yang hilang dan tidak ada lagi di abad 21? Dan tidakkah kita menyaksikan banyak pekerjaan pekerjaan baru yang muncul di abad21 ini yang mana pekerjaan itu tak terpikirkan adanya di abad sebelumnya? Tidakkah kita melihat cara pandang kita, cara bergaul kita, hubungan kekerabatan kita, hubungn kemasyarakatan kita, cara berinteraksi dan cara berkomunikasi antar manusia juga sudah berubah? Tapi kenapa sekolahan dan pendidikan tidak berubah?


4.    Perubahan kesadaran dalam bidang pendidikan secara global.

Sekarang masyarakat dunia sudah mulai menyadari bahwa system pendidikan kita telah usang dan perlu diganti. Terjadi perubahan kesadaran dan perlunya merombak  pola pendidikan yang merata diseluruh dunia. Mereka menamainya dengan pola pendidikan abad 21. Sebuah pola pendidikan yang mencoba menjawab tantangan zaman dan memenuhi kebutuhan pendiidkan yang sesuai dengan jaman sekarang. Pola pendidikan ini ditandai dengan, sifatnya yang lebih terbuka, yang bebas resiko dengan mengutamakan keamanan dan kenyamanan dalam belajar, mejadi tempat berbagai informasi, tempat mengembangkan diri dan yang jelas sekolah akan mereka jadikan tempat yang mendorong siswa untuk menggunakan kemampuan mereka berfikir tingkat tinggi, bukan lagi menjadikan sekolah sebagi tempat untuk menghafalkan pelajaran lagi. Baca juga: PRINSIP PRINSIP DASAR PENDIDIKAN ABAD 21

Program leaderpreneurship adalah salah satu upaya untuk menjawab tantangan jaman ini. Untuk lebih jelasnya tentang program ini, baca juga artikel kami yang berjudul, Menawarkan Program Pendidikan Leaderpreneurship pada Dunia pendidikan Indonesia


Rabu, 13 Maret 2013

Sedikit Masukan bagi Program Kewirausahaan Kemendiknas




Dari apa yang saya dengarkan di Radio Elshinta  beberapa hari yang lalu, saya bisa tarik kesimpulan bahwa pemerintah, lewat kementrian pendidikan telah menyadari perlunya jiwa kewirausahaan ditanamkan pada para siswa agar pemuda kita  punya pola piker yang lebih baik, yaitu sebuah pola piker yang mengarah  pada penciptaan lapangan kerja dan bukan hanya punya pola pikir yang mengarahkan pemuda Indonesia  untuk berlomba mencari kerja setelah selesai dari bangku sekolah maupun bangku perkuliahan.
Kita sebagai warga Negara yang baik haruslah bersyukur dan mendukung langkah departemen pendidikan ini. Bersyukur karena kesadaran untuk menciptakan wirausahawan wiraushawan handal sudah bertumbuh di pemikiran dan bahkan di kebijakkan pemerintah kita. Artinya kita bisa berharap, kalau upaya ini berhasil dalam waktu dekat Negara ini akan semakin maju dan pertumbuhan ekonominya akan semakin pesat berkat kreatifitas dan inovasi yang dibuat oleh para pengusaha dan wirausahawan muda kita.  Mendukung, tentu upaya pemerintah itu tidak akan berhasil tanpa partisipasi dan dukungan kita sebagai warga negaranya.
Namun begitu, ada sedikit catatan yang perlu saya sampaikan atas program kewirausahaan yang digagas pemerintah ini, bukan untuk menggurui ataupun untuk berlagak sok pintar, tapi saya ingin bahwa pemerintah membuat program yang sangat bagus dan brilian ini sematang mungkin.  Jangan sampai program yang dicanangkan pemerintah bubar dijalan atau tidak mengarah pada target yang diharapakan hanya karena program dibuat tergesa gesa  dan tidak matang. Bukan apa apa,  program kewirausahaan ini adalah bagian dari kurikulum baru 2013 yang oleh beberapa pengamat pendidikan juga dibuat dianggap sebagai kurikulum yang amat tergesa gesa juga pembuatannya. Jadi wajar saja kalau saya sinyalir program kewirausahaan ini juga amat tergesa gesa jadinya.
Dari apa yang disampaiakan salah seorang pejabat Kemendiknas yang diwawancarai oleh penyiar radio Elshinta waktu itu, bisa saya tarik kesimpulan bahwa program pengembangan kewirausahaan itu akan dilakukan disekolah sekolah, terutama SMK, dalam bentuk matapelajaran tersendiri yang disebut  mata pelajaran “kewirausahaan”. Lebih lanjut disampaikan bahwa kemendiknas meminta masyarakat membantu menyebarkan mind set kewirausahaan ini kepada para siswa dengan tidak mengharapkan anak anaknya bersekolah untuk cari kerja tetapi lebih di dorong untuk mampu berusaha sendiri. Bahkan lebih jauh lagi, pak pejabat ini menegaskan bahwa  sudah seharusnya sekolah mulai membuat hubungan dengan pengusaha untuk bisa menyerap ilmu kewirausahaan langsung dari praktisi wirausaha dan juga mencari dukungan atas program kewirausahaan yang dijalankan sekolah. Bahkan waktu itu ada penelepon yang mengaku pengusaha mau membantu sekolah untuk jadi guru kewirausahaan.
Memang sepertinya semuanya baik dan tidak ada masalah. Permintaan meminta pada warga masyarakat untuk membantu menyebarkan mind set wirausaha  adalh tindakn yang benar, karena semua tindakan dipengaruhi oleh mind set, dan sebagi warga tentu kita harus turut serta membantu pemerintah mensukseskan program yang luar biasa bagus ini. Bantuan pengusaha dan wirausahawan juga tidak kurang pentingnya untuk mensukseskan program penciptaan entrepreneur entrepreneur muda di Negara ini. Anmun yang membuat janggal dari program ini adalah bahwa pendidikan kewirausahaan Cuma disimplifikasi dalam bentuk mata pelajaran. Seakan akan sebuah kurikulum itu hanya sekedar urusan tentang mata pelajaran, bahkan lebih bikin trenyuh dihati, seminggu yang lalu saat saya bincang bincang dengan salah satu kepala sekolah swasta, pak kepla sekolah ini mengatakan bahwa program entrepreneurship pemerintah untuk jenjang smp/sma hanya akan berbentuk pelajaran prakarya. Saya agak sedikit bengong mendengarnya. Apakah ini hasil ketergesaan pemerintah dalam membuat kurikulum?
Coba kita melihat lagi jauh kebelakang.  Pelajran kewirausahaan itu bukan barang baru bagi anak anak SMK ataupun SMEA pada waktu yang lalu. Pelajaran prakarya itu sudah lama dinikmati oleh siswa Indonesia, bahkan sejak awal tahun 1970an sudah ada peljaran prakarya disekolah sekolah kita. Apakah itu semua membantu menciptakan wirausahawan?  Jawabannya tentu saja tidak, kalau jawabn iya tentu tidak aka ada wacana pengembangan kewirausahaan lagi di kemendiknas bukan? 
Semua program ini sudah lama dilakukan dan gagal, kenapa harus diulang lagi? Sudah seharusnyalh kita membuat program baru yang lebih mengena, jangan lagi kita  berharap daur ulang  produk gagal yang sudah diuji cobakan.
Kalau saya boleh ikut urun rembug, program pengembangan kewirausahaan ini seharsunya berbentuk program yang sangat komprehensif yang mampu melakukan brainwashing pada siswa Indonesia, rminset seorang entrepreneurs sejati, bukan sekedar lulusan sekolah dengan mind set kuli yang punya pengetahuan tentang kewirausahaan.  Dan hal ini tentu saja sangat tidak cukup kalau program yang sangat bagus ini disederhanakan dengan pemberian mata pelajaran kewirausahaan dan prakarya.
Boleh saya katakana, yang jadi sangat penting bukanlah kewirausahan, karena pelajaran Cuma akan menjadi pengetahuan dan pemahaman tapi tidak akan pernah menjadi karakter dan mind set siswa. Artinya dengan belajar danpaham kewirausahaan tidaklah sekonyong konyang orang akan jadi pengusaha, karena untuk jadi pengusaha orang butuh kreatifitas, butuh keberanian menghadapi resiko, butuh kemampuan negosiasi, butuk memapuan intra dan ekstra personal, butuh juga jiwa kepemimpinan dan lain sebagainya.  Dan hal ini semualah yang sejatinya sangat vital bagi seorang entrepreneur, bukan pengetahuan yang bisa dibukukan itu atau ketrampilan tangan yang bisa dilatihkan. Oleh karena itu saya, dengan tulisan pendek ini, Cuma mengajak semua kalangan untuk berfikir ulang dalam menerapkan program kewirausahaan ini.
Yang kita perlukan sekali lagi bukan pelajaran kewirausahaan tapi, sebuah metode pengembangan karakter peserta didik sehingga nantinya akan didapatkan lulusan yang memiliki karakter dan profile pengusaha. Jadi focus kita adalah pengembangan pendekatan pembelajaran bukan pada pengembangan mata pelajaran itu sendiri, kalau kita memang menginginkan bertumbuhnya entrepreneurship muda di Negara kita. Kita harus mengandaikan adanya sebuah program komprehensif yang bisa memastikan pengembangan karakter, pengembangan ketrampilan dan pengembangan profile pelajar pengusaha dalam sebuah sistem pendekatan pengajaran, bukan pada sebuah mata pelajaran. sebuah program pendektan pengajaran yang mampu memastikan siswa menyerap ketrampilan hidup kepengusahaan yang yang lengkap dengan penanaman karakter kepemimpinan dan karakter kewirausahaan yang komprehensif.
 Ada sedikit sumbangan pemikiran dari kami bagaimana mengembangkan karakter pengusaha pada diri siswa, bapak ibu bisa baca di…

Menawarkan Program Pendidikan Leaderpreneurship pada Dunia pendidikan Indonesia

blog ini juga. Semoga bermanfaat bagi sidang pembaca. krsitik saran, pertanyaan bisa bapak dan ibu tulis di kolom komentar dibawah ini....