Selasa, 26 Februari 2013

Menawarkan Program Pendidikan Leaderpreneurship pada Dunia pendidikan Indonesia



Dibanyak kesempatan dan juga ditulisan tulisan kami di blog ini, berulang kali kami telah paparkan kelemahan sistem pendidikan yang ada dan akibat buruknya yang sudah terjadi dan betapa pentingnya untuk tidak dilanjutkan. Sebagai solusi pengembangan program pendidikan yang lebih baik, yang mengakomodir semua keperluan siswa untuk bertumbuh dan berkembang, di dalam tulisan yang buruk ini, saya mencoba untuk menawarkan sebuah program pendidikan dan bertukar pikiran tentang program pendidikan yang kita sebut saja Program leaderpreneurship.
Sebuah program yang mampu mengakomodir perkembangan kognitif, berupa peningkatan kecerdasan dan bertambahnya ilmu pengetahuan peserta didik, juga perkembangan psikomotorik siswa yang akan menghantarkan siswa pada ketrampilan hidup secara fisik dan juga akan mendorong bertumbuhnya perkembangan afektif siswa yang berupa perkembangan karakter karakter unggul, sikap mental, dan berkembangany ketrampilan hidup siswa secara psikologis lainnya.
Program ini kalau dijalankan dengan benar akan menuntun siswa untuk mampu menyerap ilmu dengan lebih mudah dan lebih nyaman karena siswa tidak dalam tekanan. Juga mendorong siswa untuk memiliki kecakapan hidup yang beragam. Selain itu, program ini juga mengarahkan siswa untuk memiliki karakter yang dinamis, aktif, persuasive, komunikatif, kreatif dan inovatif. Siswa juga akan didik untuk bisa memiliki kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat dan kebutuhan pasar, serta mampu mendeteksi peluang peluang inovasi dan peluang peluang pasar. Pendek kata ketiga aspek penting pendidikan, mulai dari ranah kognitif (daya nalar), afektif (character) sampai dengan ranah psikomotorik (ketrampilan dan kreatifitas) semua diramu dan dikembangkan secara seimbang dalam kurikulum leaderpreneurship program ini.
              Dalam pelaksanaan kurikulum leaderpreneurship ini, kami meramu cara untuk membentuk siswa menjadi pemimpin masa depan melalui tiga tahapan belajar yang kami sesuaikan tahapan taksonomi pembelajaran yang mulanya digagas oleh Benyamin Bloom. Namun kita tidak mengaplikasikan begitu saja taksonomi bloom ini, namun kita bisa modifikasi sedikit agar juga sesuai dengan tiga ranah pendidikan (kognitif, afektif dan psikomotorik)yang akan dicapai dalam proses pengajaran disekolah. Tahapan belajar tersebut adalah berikut ini:

1.   TAHAP EXPLORATION.
Pada tahap ini anak akan belajar mengembangan intelektualitas atau dengan kata lain pengembangan aspek kognitifnya akan lebih menonjol. Namun tentu saja siswa tidak akan hanya belajar pintar saja di tahap ini, namun sesungguhnya pengembangan karakter (afektif) pun sudah pula berjalan. Dengan membagi dua bagian pada tahap ini kita berharap banyak charakter cantik yang tertanam di diri siswa. Pada bagian ‘data collecting”, sebetulnya siswa bukan saja diajarkan untuk memupuk dan mengembangkan intelektualitas mereka, tapi siswa juga sudah dirangsang untuk mengembangkan rasa keingintahuannya, rasa tanggung jawab, pengorganisasian diri,pengorganisasian informasi dan manajemen waktu. Pada bagian reporting siswa akan mengasah kemampuan mereka berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan, selain akan berkembang pula rasa percaya dirinya dan kejujurannya serta kemampuan menghargai karya dan pendapat orang lain. Watak lain yang berkembang antara lain kemampuan menerima perbedaan, belajar mengenal diri sendiri, mengenal orang lain, dan percaya diri.
2.   TAHAP APPLICATION

Pada tahap ini siswa akan
melalui sebuah proses belajar yang akan mendorong siswa meningkatkan kemampuan psikomotorik atau ketrampilannya, walau juga masih terbuka lebar bagi siswa untuk menginternalisasi watak dan karakter cantik lain dalam dirinya. Tahap ini juga mempunya dua bagian; bagian pertama, planning dan yang kedua creating.
Pada bagian pertama, panning, siswa akan belajar ketrampilan kepemimpinan dan mangemen, karena siswa akan membuat perencanaan proyek, menetukan besaran biaya, menentukan berapa lama waktu yang diperlukan serta siapa saja dan berapa banyak orang yang akan terlibat. Dengan demikian siswa akan belajar bekerja sama, belajar manajemen keuangan, manjemen waktu, manajemen sumberdaya manusia, belajar berorganisasi, belajar memimpin, belajar bisa dipimpin, belajar mendengarkan orang lain, belajar mengemukakan pendapat, belajar bertoleransi, mampu berfikir aktif dan kreatif, mampu membuat analisa analisa dan mampu berfiki sintesis dan membuat perencanaan inovatif , selain itu siswa belajar memanage waktu, mampu membuat tahapan pengerjaan sebuah project, mampu menghitung cost, dan prediksi keuntungan yang bisa didapat dari projek itu. Pada bagian ‘creating’ siswa dimungkinkan belajar ketrampilan hidup, belajar mencipta sesuatu dan mengembangkan aspek psikomotoriknya. Selain itu siswa juga belajar management waktu, financial dan sumber daya manusia, dan pengembangan kemampuan komunikasi serta kerjasama. Diatas semua itu dalam tahap ini siswa diharapkan mampu membuat terobosan baru, inovasi baru atau produk baru yang bisa di serap pasar sehingga nantinya siswa bukan Cuma siap kerja tapi siap jadi pemberi kerja orang lain.

3.
 TAHAP EVALUATION
Walauapun disemua tahapan siswa dipastikan akan berkembang aspek pembentukan karakternya (afektif) namun ditahapan terakhir ini, aspek pembentukan karakter (afektif) sangat terasa dominan. Pada bagian pertama tahap ini, market testing, siswa diajak belajar kemampuan komunikasi dan mengembangkan kemampuan daya nalarnya, pengembangan ketrampilan inter dan intrapersonal, kemampuan mawas diri, dan kemapuan untuk menerima kritik serta masukan, dan siswa belajar menerima keberhasilan ataupun kegagalan dengan sikap yg dewasa dan elegan. Pada baian refleksi, siswa diajarkan untuk berani berkaca pada diri sendiri, melihat kelemahan diri dan berani membuat keputusan untuk mampu mengeliminir kelemahan sehingga muncul kekuatan baru dalam diri siswa. Siswa diajarkan mencari akar permasalhan yang dihadapi dan seklaigus mencari solusinya (problem solving)
        Dalam ketiga tahapan belajar ini kita akan memasukkan seluruh karakter kepemimpinan dan kewirausahaan sebagai kurikulum yang tersembunyi (hidden curriculum) agar siswa siswi kita benar bisa terbentuk dengan karakter dan profil siswa seperti yang saya sebutkan dimuka. Dan dengan lima tahapan pembelajaran tersebut Sekolah akan mencetak murid murid atau siswa siswinya menjadi pemimpin pemimpin masa depan yang matang intelektualitas dan mentalnya serta memiliki kepekaan terhadap perubahan dan punya emphati terhadap sesama.
                Dengan program leaderpreneurship ini kita akan memberikan kebebasan seluas luasnya pada siswa untuk mengembangkan diri sehingga seluruh potensi yang ada dan seluruh kecerdasan yang dimiliki siswa bisa berkembang sempurna.

Senin, 25 Februari 2013

yang saya harapkan ada di kurikulum baru tahun 2013



Pernahkan sidaang pembaca merasakan begitu tersiksanya batin berada diruang kelas, ingin rasanya sekolah segera berakhir dan tidak lagi dengar suara pak atau bu guru? Sehingga saat bel sekolah berakhir berdentang, terasa lega rasanya. Cuma sayang kita sadar besok harus balik lagi ke sekolah dengan situasi yang sama lagi. Capek dech!!!! Puluhan juta siswa dan bekas siswa pernah mengalami hal tersebut, dan anda salah satunya mungkin.
Kenapa hal seperti itu bisa terus terjadi? Jawanya adalah hal ini terkait dengan kurikulum dan cara ngajar guru yg kurang tepat. Kurikulum yang bermain pada kemampuan berfikir kelas rendah,menurut taksonomi bloom, yang menekankan pada pemahaman dan kemampuan menghafal telah menjadikan sekolah terasa seperti penjara yang menghancurkan semangat hidup dan harga diri siswa selama ratusan tahun. Seperti yang kita pahami kemampuan menghafal manusia begitu terbatas, sehingga sudah bisa dipastikan tidak akan banyak siswa yang akan berhasil ‘pintar” disekolah. Siswa berprestasi adalah sesuatu yang langka, padahal seharusnya setiap siswa punya hak yang sama untuk berprestasi. Dan sekolah punya kewajiban untuk membuat semua siswa berprestasi. Namun seperti yang diterangkan diatas. Sekolah jarang sekali menghasilkan siswa berprestasi. Artinya misi sekolah gagal total.
Kita mungkin tidak terlalu peduli apa yg sudah dihasilkan oleh sekolah sekolah kita. Sehingga murid yang tidak berprestasi yang jumlahnya hampir sama dengan seluruh murid yang ada, dianggap biasa saja. Padahaal itu bukan hal yang biasa saja. Itu kegagalan dan itu adalah bencana nasional. Ketidak berhasilan siswa untuk berprestasi akan berbuntut pada rendahnya mutu SDM negara ini. Rendahnya mutu SDM akan berdampak pada kemajuan negara. Kemajuan negara akan berpengaruh pada kemakmuran dan harga diri serta kehormatan bangsa. Tapi anehnya kok tidak banyak orang yang peduli dengan kegagalan pendidikan nasional kita ini yah? Kacau dech...ya itulah kenapa kita yang kaya sumberdaya alam merdeka sudah lebih 65 tahun masih jadi negara yg dibilang sebagai “such a random country” oleh seorang penyanyi muda yang otaknya juga ga begitu encer. Akankah kita mau mulai peduli?
Ya uwis lah, kita kembali saja ke dunia pendidikan. Sekolah sekolah kita seperti yang saya tulis di atas dalam proses belajar mengajarnya masih dititik beratkan pada ketrampilan berfikir rendahan. Proses berfikir rendahan yg berisi usaha untuk menghafal dan ngarti ternyata gagal membuat siswa “pintar” apalagi berprestasi (sorry kok jadi diulang ini ngomongnya?). Sementara ketidakberhasilan untuk ‘pintar’ bagi siswa disekolah akan menimbulkan rasa kurang percaya diri, dan  rasa tidak mampu pada diri siswa, dan ini akan diperparah kalau sang guru sering memposisikan siswa sebagai siswa yang bodoh dan yang pintar. Bagi siswa yang pintar tentu akan tumbuh kebanggaan pada diri sendiri. Tapi bagaiamana siswa yang mendapat jatah posisi dibodoh bodohkan sepanjang masa oleh semua gurunya? Siswa yang terposisi seperti ini, akan malu pada saat itu dan habis harga dirinya saat sang guru menunjuknya sebagai contoh siswa yang bodoh. Dalam jangka panjang, siswa ini akan merasa bahwa jadi pecundang adalah nasibnya, sikap apatis dan sebodo amat akan menjadi ciri kepribadiannya. Menjadi siswa yang baik atau siwa yang bengal akan terasa sama saja bagi mereka, karena sejarah mereka sudah mati disekolah itu. Masa depan sudah tidak nampak di mata mereka. Agar merasa juga punya kelebihan dibanding teman temannya, mereka akan cenderung memposisikan sebagai siswa nakal. Dengan menjadi nakal, siswa akan merasakan dua hal; satu, dia akan punya alasan kegagalan belajarnya, karena mereka bisa bilang aku gagal sekolah karena saya badung. Yang kedua, mereka walau merasa kalah dalam bidang akademik, tapi mereka akan bangga karena ternyata mereka lebih bernyali dihadapan guru dan sekolah sebagai institusi belajar, dan mereka pun akan panen perhatian. siswa badung itu semakin direndahkan dengan ditunjukan kegagalannya di sekolah atau di kerasi karena sikap menyimpang mereka, mereka bukan sadar dan memperbaiki diri, tapi malah akan makin tak bisa dikendalikan. Hal ini terjadi karena  mereka telah terluka harga dirinya.
Oleh karena itu sudah selayaknya sekolah punya pendekatan pendidikan yang tidak melukai harga diri siswa. Terlukanya harga diri siswa  akan membaut sekoalh seperti neraka bagi siswa. Kalau siswa sudah pada posisi memandang sekolah seperti neraka, apalagi yang bisa siswa harapkan dari sekolah, dan apa yang bisa diharapkan oleh sekolah dari siswa tersebut? Oleh karena itu penataan pendekatan dan penentuan metodologi pengajarn di sekolah haruslh menjadi prioritas yang besar yang harus diselesaikan sekolah dan dijadikan kebijakan secara menyeluruh sebelum prose belajar mengajar terjadi. Hal ini perlu dilakuakn agar semua siswa yang ada adalah siswaa yang berhasil. Siswa yang berprestasi.
Ada baiknya sekolah mulai memikirkn untuk tidak hanya mengajarkan berfikir tingkat rendah pada siswanya, karena terlalu rendahnya target berfikir siswa teryata malah membawa bencana baik padaa siswanya maupun pada masyarakat bangsa dan negara. Mulai sekarng kita harus menyadari bahwa  kegagalan menghafal yg ditandai nilai buruk dalam ujian adalah palu godam yang menghancurkan rasa ingin tahu siswa, merasa bodoh dan dengan iklas menerima kondisi bodoh itu, dan malah memposisikan pada ujung yang lain sebagi siswa badung. Tentang masa depan mereka ga pikirkan lagi. Mereka pikir masa depan hanya milik orang pintar, dan kebetulan orang pintar itu bukan mereka. Maraknya tawuran pelajar adalah contoh konkrit dari siswa yg sdh tidk berfikir ttg masadepan, karena mereka selalu merasa bodoh di sekolah yang artinya tidak punya masa depan. Jadi sepertinya sekolah kita hanya menghasilkan banyak lulusan yang berhasil dihancurkan semangat dan mentalitasnya, ketimbang siswa yg telah berhasil dididik dgn benar.
Kalau boleh berpandepat hal ini sumber pokok masalahnya adalah pendekatan pembelajarn yang textual dengan ngedepankan cara berfikir rendahan yang mengacu pada kemampuan mengerti dan hafal thok. Dan ini dilegitimasi dengan  bentuk evaluasi yang sangat beraroma hafalan. Padahal adaa bentuk evaluasi yang lebih baik yang disebut evaluasi autentik yang tidak akan membuat siswa kita terpecah jd yang pinter dan yang bodoh, namun kok kesadaran pendidikan kita belum kesana. Untuk kurikulum yang baru di tahun 2013 ini saya sangat berharap, pak mentri membuat kebijakan kurikulum yang tidak memperpanjang situasi yang saya gambarkan ini.

Kamis, 21 Februari 2013

Guru hebat yang akan merubah dunia (bagian 2)






Kini saatnya kita lanjutkan untuk membicarakan hal hal yang harus ada dan dilakukan seorang guru hebat yang bisa membawa perubahan di dunia ini. Di artikel sebelumnya, Guru hebat yang akan merubah dunia (bagian 1), kita sudah membicarakan lima hala yang harsus dilakukan guru hebat ini dan sekarang kita akan lanjutakan dengan hal hal lain yang sama pentingnya untuk segera dilakukan calon calon guru hebat indonesia. Baiklah kita mulai dari;

w  Have self-awareness
Seorang guru yang baik harus memiliki kesadaran diri yang tinggi. Hanya dengan kesadaraan diri yang tinggi orang bisa mengontrol tingkahlakunya dan mampu membuat perencanaan yang matang akan semua hal yang dilakukannya. Keasadaran diri ibaratnya adalah sebuah program bagi komputer. Tanpa ada programnya apa yang bisa dilakuakn sebuah komputer? Kesadaran diri seorang guru akan tumbuh apabila guru tersebut bisa memiliki empat hal;
Pertama kehormatan, seorang guru haruslah meyakini bahwa profesinya adalah profesi yang terhormat dan oleh karena itu dia harus yakin bahwa dia adalh orang yang terhormat dan menjaga kehormatan itu haruslah diyakini sebagi suatu hal yang harus dilakukan. Itu artinya seorang guru tidak boleh bertingkah, berlku, berbuat dan bertutur kata yang akan merusak kehormatannya.
Yang kedua adalah kebanggan,seorang guru yang hebat harus yakin bahwa profesinya adalah profesi yang penting dan membanggakan. Guru yang hebat tidak akan mencederai kebanggaannya terhadap profesi yang dia sandang. Itulah kenapa menjadi guru atau kalau sekolah memilih guru haruslah orang yang secara naluriah punya panggilan jiwa untuk jadi guru, karena hanya orang orang yang memiliki natural call inilah yang akan bisa menjaga kebanggannya sebagai guru dan oleh karena itu akan bekrja dengan sebaik baiknya sebagai guru. Beda dengan guru yang bekerja karena kepepet tidak ada pekerjaan lain, golongan ini pasti tidak membanggakan profesinya dan oleh karena itu mereka akan bekerja dengan malas dan ogah ogahan karena mereka tidak memiliki kebanggaan dalam hal ini.
Yang ketiga adalah penghargaan diri. Setelah terkumpul rasa hormat dan bangga pada diri sendiri dan profesinya, seorang guru akan memiliki rasa penghargaan diri yang tinggi. Penghargaan diri ini sangat penting dimiliki seorang guru karena penghargaan pada diri sendiri  yang tinggi dari seorang gurulah  yang akan membawa guru pada point keempat yaitu rasa percaya diri.
Tak bisa diragukan lagi bahwa seorang guru sangat memerlukan rasa percaya diri, karena hanya dengan rasa percaya dirilah seorang guru mampu mengajar siswanya dan mengendalikan kelas yang harus mereka ajar. Selain itu rasa percaya diri juga diperlukan seorang guru untuk bisa menghadapi orang tua siswa dan masyarakat pada umumnya. Rasa percaya diri seorang guru akan menyiratkan  mutu dari sekolah dimana guru itu mengajar. Tentu anda sendiri akan sangsi dengan mutu sekolah yang bila diajak bicara gurunya nampak grogi dan plendas plendus bukan? Dan itu artinya rasa percaya diri seorang guru akan menentukan puas atau tidak puasnya orangtua terhadap ppendidikan yang diberikan di sekolah.

w  Create safe and comfortable environment
Seorang guruyang hebat adalah juga seorang guru yang mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Sudah berulang kali dan dibeberapa artikel, penulis bicara tentang pentingnya kondisi aman dan nyaman untuk belajar ini. Karena siswa hanya akan bisa belajar dengan benar dan fokus bila mereka merasa aman secara psikologis dan nyaman secara fisik badaniah. Untuk memperoleh susanan itu guru harus memastikan hal hal berikut:
a.       Lingkungan belajr yang baik bagi siswa adalah lingkungan belajar yang terbebas dari hal hal yang membuat siswa tertekan (stressors). Oleh karena itu guru harus mampu mengidentifikasi stressors yang mungkin timbul dalam ruangan kelasnya dan membuangnya jauh jauh.  Stressor bisa dikarenakan situasi lingkungan misal, kebisingan, suasana panas dan sumpeg, tugas tugas guru yang kebanyakan melebihi batas kemampuan siswa untuk mengerjakannya, atau dari lingkungan pergaulan siswa itu sendiri misal ada satu dua siswa yang suka melakukan bullying terhadap siswa yang lain. Bahkan stressor itu bisa gurunya sendiri yang sok galak, sok berwibawa, omongannya kurang santun, suka memepermalukan siswa didepan teman temannya dll. Namun bisa juga stressor itu berasal dari luar kelas, misal saja diluar sana ada preman atau anak nakal yang suka menghadang dan mmemalak siswa. Semua hal itu harus dihilangkan oleh guru yang hebat kita.
b.      Lingkungan yang nyaman untuk belajar, juga harus memberikan semua siswa kesempatan yang sama untuk bertumbuh dan berkembang. Guru harus mampu meningkatkan partisipasi semua siswanya dalam belajar. Jangan biarkan ada anak yang tertinggal dan tidak terlibat dalam proses belajar. Istilah kerennya “ no one left behind”.
c.       Suasana belajar akan semakin enak dan nyaman kalau guru mampu memuat suasan yang bisa mengembangkan fungsi otak kiri maupun otak kanan. Karena dengan pelibatan kedua belahan otak. Siswa akan makin merasa pintar dan tertanntang untuk maju sehingga mereka bisa merasa nyaman dalam belajar. Belajar akan terasa menyenangkan bagi siswa kalau mereka bisa mengembangkan kemampuan kedua belah belahan otaknya secara bersamaan. Caranya? Yah pikir sendiri atuh mas.....hahahha...

w  Possess creative thinking
Banyak siswa kehilangan semangat belajarnya bukan karena mereka malas atau bodoh, tapi karena cara dan metode pengajaran yang dipakai guru begitu saja, monotone. Guru datang berdiri buka buku bicara sendiri dengan nada datar. Waduh... betapa ngeboseninnya guru macam ini. Nah tugas guru hebat adalah mencari methode dan pendekatan pembelajaran yang tepat dan beragam bagi masing masing siswa. Siswa tidaklah seragam dalam hal gaya belajarnya, dan guru haruslah mengakomodasii semua gaya belajar siswanya, dengan metode dan pndekatan yang monotone bagaimana guru bisa mengakomodasi semua gaya belajar? Oleh karean itu tidaklah salah kalau salah satu kwajiban guru adalah banyak banyak baca buku tentang pendidikan dan banyak diskusi dengan sesamam guru untuk saling bertukar best practices  dalam hal pendidikan dan pengajaran. Dengan banyak belajar, membaca dan berdiskusi dengan sesma guru diharapakan gru mempunyai pikiran yang kreatif baik dalam hal pengajaran maupun dalam hal materi yang diajarkan. Begitulah guru hebat bertindak.

w  Learn how to learn
Diatas sudah disinggung tentang perbedaaan gaya belajar yang dipunyai siswa siswi kita, ada yang punya gaya belajar auditory, kinestetik, taktil, visual dan seterusnya. Nah tugas guru adalah mampu mendorong siswanya untuk bisa belajar untuk belajar. Maksudnya mendrong siswanya untuk memahami gaya belajar yang tepat bagi dirinya sendiri. Selain itu untuk memepertajam kepandaian siswa guru yang hebat harus juga mampu dan memberi waktu semua siswanya saling belajar dan mengajar. Siswa diijinkan untuk saling mengajari. Dengan cara ini siswa juga akan semakin mudah untuk mengetahui gaya belajar yang tepat bagi mereka sendiri. Selian itu akan mudah dan enak untuk bertanya daan memperdalam ilmu bilan yang mengajar adalah teman sendiri.
Dengan berlandaskan kesadaran bahwa setiap siswa punya karakter dan punya gaya belajarnya sendiri sendiri, tentu guru harus meyakikan diri bahwa tidak akan menggunakan pendekatan yang sama baik untuk mendorong siswa belajar maupun untuk memecahkan permasalahan psikis dan sosialnya.
w  Teach from the heart
Yang berikutnya, guru hebat haruslah melakukan tugasnya dengan tulus dan iklas. Niat yang tulus untuk mendidik putra putri tunas bangsa demi kemajuan bangsa dan negara di masa depan harus dimiliki oleh guru hebat. Ketulusan niat akan membawa kesabaran apabila menghadapi permasalahan selama menjalankan tugasnya sebagi guru. Ketidaktulusan niat sebaliknya akan membawa sikap tidak sabar dan amarah dalam menjalankan tugas bila ada permasalahan dalam bertugas. Itulah kenapa mencari guru haruslah yang memang memiliki panggilan jiwa menjadi guru. Jangan ambil guru dari orang yang kebetulan sarjana lagi nganggur sehingga kerja apa saja diiyakan termasuk jadi guru. Guru yang karena kepept begini tidak bisa diandalkan kesabarannya dalm menjalankan tugasnya yang jelas butuh kesabaran membimbing siswa. Oleh karena itu psikotest sepertinya layak dilakukan untuk menjaring guru yang benar memiliki natural call ini.


w  Keep it clear.
Semua yang jelas akan menimbulkan rasa nyaman dan tenang. Semua orang akan senang kalau semua hal yang dihadapinya jelas. Nah sebagai guru anda haruslah membuat semua hal jadi jelas bagi siswa dan siswi anda, agar mereka juga bisa merasakan nyaman dan tenang dalam belajarnya. Nah apa saja yang harus jelas dan bagaimana membuatanya jadi jelas baca saja artikel saya yang lain dengan judul “KEEP IT CLEAR” di blog ini juga kok.

w  Listen to what to listen to
Sebagai guru anda akan didengar oleh siswa, namun sebaliknya anda juga akan mendengar banyak hal, oleh karena  itu seorang guru harus mampu memilah dan memilih apa yang harus didengarkan. Artinya  seorang guru harus bisa memilih mana yang harus ditanggapi dari semua yang didengar. Tidak semua hal yang didengar di kelas harus ditanggapi. Sebagai guru janganlah terlalu berperasaan sensitif, sehingga setiap ada omongan sedikit saja dijadikan masalah. Kalau anda termasuk yang memiliki perasaan sensitif begini saya pastikan anda akan sangat capai bermasalah dalam bekerja sebagai guru, dengan begitu mulailah memilih milih apa yang harus ditanggapi dari apa yang anda dengar di dalam kelas. Anda cukup memperhatikan hal  hal yang penting saja. Jangan sibukkan dii dengnhal hal yang tidak penting, tindakan sia sia yang menguras tenaga. Kata orang barat “  It is not good to have sensitive feeling but it will helpful to have sensitive mind


w  Able to manage classes
Guru yang hebat juga wajib mampu mengatur suasana kelas sehingga kondusif untuk belajar, selain itu juga wajib menjaga tingkah laku siswanya agar ruang kelas tetap dalam kondisi aman dan nyamman untuk belajar. Untuk bisa menciptakan suasana yang seperti ini, guru hebat wajib mempunyai pemahaman dan ketrampilan tentang:
w       Classroom managements
w                                            Behavior managements
Classroom management akan berguna bagi guru untuk mendisgn atau men-setting bentuk dan suasana kelas sehingag cocok dan sesuai dengan proses belajar mengajar yang akan berlangsung, sementara behaviour management adalah upaya yang terprogram dari seorang guru untuk menata dan mengatur tingkah laku siswa dengan standard standard yang sudah dipersiapkan dan ditentukan. Kedua hal ini sedikit banyak sudah saya tulis juga di blog mini. Kalau pembaca ingin tahu ya muter muter sebentar dech di blog ini.

w  Make good assessments and evaluations
Penilaian dan evaluasi yang baik dan tepat untuk kemajuan siswa juga akan sangat berdampak pada motivasi dan semangt siswa untuk maju. Oeh karena itu guru waji tahu bagaimana memberi evaluasi yang baik pada siswanya. Boleh dikata penilaian autenthik adalah penilaian yang terbaik bagi siswa kita, Cuma sayangnya penilaian authentik tidak sejalan dengan kebijakan kemtrian pendidikan di negara Indonesia ini. Satu kalimat dlam bahasa inggris yang berkesan dalam hati saya tentang evaluasi siswa adalah “It is important to make students know the right answers, but the most important is making them have the proper reasons to the right answers”. Semoga kaliamat ini memberi inspirasi bagi bapak dan ibu guru semuanya untuk mampu membuat alat evaluasi yang baik bagi siswanya.
Terima kasih. Semoga berguna....

Rabu, 20 Februari 2013

Guru hebat yang akan merubah dunia (bagian 1)




Ada satu kalimat , yang ditulis oleh salah satu pembaca blog  ini dalam mesin pencari,  yang akhirnya menghantar pembaca tersebut menemukan blog ini. Tulisan itu sangat menarik perhatian saya karena terasa sangat indah di dalam pikiran saat membacanya. Kalimat pencarian itu adalah “ guru masa depan yang mengubah dunia”.  Tentu saya belum pernah menulis artikel dengan judul seperti itu, namun semua artikel yang saya tulis bertujuan untuk menciptakan guru macam itu sebanyak banyaknya. Makin banyak guru seperti itu yang muncul dimuka bumi semakin baguslah masa depan pendidikan bagi anak naka kita di dunia ini, khususnya di indonesia. Nah harapan saya sebagai penulis blog, guru guru macam itu terjadi karena terinspirasi oleh tulisan dalam blog ini, sehingga saya bisaikut merasakan pahala dari kebaikan yang  tercipta untuk kebahagian penulis fidunya wal akhirah begitu kira kira. Pendek kata, tulisan ini saya maksudkan untuk sedikit memberi jawaban pada kalimat yang ditulis di mesin pencari (search engine) tersebut.

Nah, sekarang kita mulai diskusikan siapa sich guru yang hebat itu? Atau seperti apakah guru yang mampu merubah dunia itu? Saya pribadi tidak bisa menjelaskan guru yang mana yang memiliki kekuatan hebat bisa merubah dunia itu. Saya Cuma bisa membantu dengan memberikan ciri ciri guru yang akan mampu merubah dunia itu. Nah silahkan sidang pembaca mencari sendiri guru yang mana yang mampu merubah dunia itu berdasarkan ciri ciri yang akan saya sebutkan satu persatu dibawah ini;


 Possess positive attitude
Ada peribahasa dalam bahasa Inggris yang berbunyi  “Your attitude determines your altitude”,  yang kira kira maksudnya adalah “sikapmu menentukan ketinggian (pencapaian)mu”. Hal ini juga sangat saya yakini kebenarannya. Saking yakin saya akan hal ini,  ada beberapa kali dalam tulisan saya di blog ini,  selalu saya katakan sikap atau karakter kita yang akan menentukan keberhasilan kita di masa datang, dan bukan kepandaian kita. Pun begitu bagi kita yang berprofesi guru, sukses tidaknya kita jadi guru akan sepenuhnya ditentukan sikap, watak, dan tingkah laku kita sendiri yang ditunjang tingkat intelektualitas yang kita miliki. Berulang kali saya sampaikan kepandaian intelektualitas hanya memberi 10-15 % kesempatan untuk sukses. Intelektulitas ibarat kata Cuma memberikan tiket emas pada kita. Yang 85-90% kesuksesan akan sangat ditentukan oleh sikap dan karakter kita. Karena sikap karakter dan tingkah laku kitalah yang akan menjaga kesuksesan kita agar tidak runtuh.
Kita sebagi guru juga termasuk yang terkena hukum itu, kesuksesan kita sebagi seorang pendidik akan sangat dipengaruhi sikap mental dan karakter serta tingkah laku kita sendiri. Jadi jaga sikap ya pak dan bu guru? Lagi pula bagaimana kita bisa mendidik dan mengembangkan sikap dan watak siswa kalau kita sendiri belum dewasa dalam bersikap dan belum matang kita punya karakter. Iya nggak bu dan pak guru? Pendek kata ciri pertama guru yang mampu merubah dunia adalh guru yang punya sikap positif dalam dirinya dan mampu menyebarkan sikap itu pada siswa siswinya. Karena kita yakini sikap yang baik yang akan membawa perubahan pada nasib anak didik. Perubahan nasib anak didik di  masadepan tentu akan merubah dunia mereka dan dunia diluar mereka.


 Spread positive energy
Ciri kedua dari guru yang akan membawa perubahan bagi dunia adalah guru yang mampu menyebarkan dan menularkan energy positif pada lingkungannya dan tentu pada siswa siswinya. Energy positif itu bisa ditularkan guru melalui banyak cara, salah satu diantaranya adalah kemampuan dan kebiasaan guru dalam menggunakan bahasa dan kata yang positif dalam berbicara dan bergaul setap harinya, terutama pada siswa siswinya. Siswa siswi kita sangat memerlukan energy positif dari guru gurunya karena diluar sekolah mereka lebih banyak dicekokin dengan energi negatif. Menurut laporan De Porter and Hernacki, anak anak kita itu rata rata mendapatkan 460 komentar negatif dalam sehari dan hanya 75 komentar positif yang di dapat. Artinya anak anak kita ini lebih banyak mendapatkan energi negatif yang menghancurkan rasa percaya diri dan harga diri siswa ketimbang energi positif yang melambungkan harapan, memompa rasa percaya diri dan memperkuat harga diri siswa. Guru yang baik akan melawan itu dengan memberikan energi positif sebanyak mungkin agar energi negarif yang didapat siswa diluar sekolah bisa tawar atau dikalahkan dan berganti energi positif yang menguasai anak anak didiknya.
Selain itu guru yang baik akan menyebarkan energi positif lewat cara bicaranya yang enghindari kata kata “tidak” dan “jangan” karena kedua kata itu menyebarkan aura negarif dengan membuat siswa tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Arahkan siswa, tunjukkan siswa apa yang harus mereka lakukan dengan perintah langsung yang bisa dipahami siswa. Kata ‘tidak” dan “jangan” hanya membuat siswa berhenti melakukan sesuatu tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Enregi posisitif juga bisa terpancar dengan penciptaan lingkungan yang ramah dan menyenangkan, dengan begitu sudah seharusnya seorang guru yang hebat haruslah melakukan dan mengajarkan untuk tersenyum pada semua orang yang dijumpai, ucap salam, tebarkan kalimat assalamualaikum waruhmatullahhi wabarohkatu pada semua orang,  juga jagalah lidah untuk selalu berkata baik, sopan dan positif pada semua orang, komentar negatif buanglah jauh jauh dari lingkungan pendidikan. Begitulah sikap guru yang hebat.


  Adopt new teaching paradigm
Yah sudah selayaknya guru yang profesional juga selalu mengasah pengetahuan dan ilmunya, oleh karena itu seorang guru juga wajib merubah paradigma dan mindset-nya sesuai dengan perkemangan ilmu pengetahuan dan perubahan lingkungan sosial budaya dan ekonomi yang terjadi. Untuk lebih jelasnya tentang paradigma guru ini adaa baiknya sidang pembaca, membuka artikel saya yang lain; PARADIGMA GURU PADA PEMBELAJARAN ABAD 21 (21st CENTURY LEARNING) (bagian 1) dan Paradigma guru pada pembelajaran abad 21 (21st century learning) (bagian 2)


  It’s not about you but it’s about them.
Yah kegiatan belajar mengajar di sekolah itu semua tentang siswa anda dan bukan tentang anda sendiri sebagi guru. Oleh karena itu jadikan ruang kelas bersuasana belajar dan bukan bersuasana mengajar. Tahukan bedanya? Yah sejauh ini ruang belajar selalu bersuasana”mengajar”, artinya gurulah yang mendominasi waktu dan tempat. Gurulah yang aktif belajar. Guru pula yang jadi aktor dan seklaigus peran utama dalam drama “pendidikan” itu. Dengan begitu artinya semua masih tentang anda, tentang pak/bu guru. Guru yang hebat harus bisa membalikkan keadaan. Jadikan ruang kelas itu tentang siswa, biarkan siswa yang mendominasi waktu dan ruang, biarkan siswa yang menjadi aktor dan bintang utama dram ‘pendidikan” dikelas bapak dan ibu semua. Dengan begitu bapak dan ibu guru harus membuat semuanya bersuasana tentang siswa. Siswa bapak dan ibu akan lebih aktif dan berhasil belajar, dan ruang kelas bapak dan ibu akan bersuasana “belajar” dan sebaliknya “suasana ‘mengajar”nya akan hilang.  Ingat “ It’s not about you but it’s about them”, dan anda akan jadi guru yang hebat dan the best dech.
Dan satu hal lagi yang harooooom dilakukan guru dalam kelas; cerita tentang pribadi guru. Banyak sekali guru yang setiap masuk kelas bukannnya mengarahkan anak untuk belajar pada materi pelajaran tertentu tapi malah sibuk bercerita tentang masalalunya, prestasinya, permaslahanya, kondisi dia sekarng, cerita tentang anak anaknya dan yang lainnya yang sangt tidak penting bagi siswa.  Guru yang hebat tidak akan curhat pada siswanya karena siswanyalah yang harus curhat pada gurunya. Guru yang suka curhat dan cerita tentang pribadinya tidak akan dihormati siswanya, karena disamping guru sudah tidak punya rahasia, siswa juga juga bosan dengan cerita gurunya. Anda masih begitukah sebagi guru? Hentikan segera......

  
  Well-planned
Banyak sekali guru yang beranggapan bahwa guru itu cukup hadir masuk ke kelas dan mengajar begitu saja sesuai dengan buku pegangan atau text book yang dipunya siswa. Saya pasikan guru yang seperti ini akan berhasil buang waktu siswa dengan percuma di dalam kelas dan tidak akan memberi pencerahan pada siswanya. Proses pengajran dan pembelajran yang baik haruslah dipersipakan dengan matang dan direncanakan. Guru harus sangat paham dulu dengan apa yang akan dipelajari dan membuat perencanaan cara mengajarnya dan sekaligus membuat perencanaan dan menyiapakan alat alat bantu yang mungkin diperlukan dalam proses belajar mengajar. Mengandalakan sedikit pengetahuan dan text book untuk mengajar adalah usaha mensia siakan waktu siswa untuk belajar lebih baik. Murid malas itu salah satunya disebabkan oleh guru yang malas juga.
Oleh karena itu sudaah seharsnya guru itu terus menimba ilmu untuk memeprtajam pengetahuannya sendiri dan juga memahami dan membuat silabus serta rencana pengajaran. Namun sayangnya Pak mentri akan membaut guru guru kita malas lagi, karena kurikulum terbaru tahun 2013 ini nanti katanya guru tinggal ngajar saja tidak perlu membuat rencana pengajaran. Mo jadi apa pendidikan kita kedepan kalau benar seperti itu? Guru akan jd malas dan tidak akan pernah terpikir dengan apa yang disebut alat bantu, pengajaran akan monoton karean gurunya malas.  Hallo pak mentri wake up...
Oh ya maaf ya..saya potong disini dulu, nanti saya lanjutkan lagi. Masih ada kok poin poin lain yang harus dipahami guru hebat yang akan merubah dunia...tunggu saya tulis kelanjutannya yah..cherrio....eh...ceria juga...

*) lanjutan dah bisa dibaca di Guru hebat yang akan merubah dunia (bagian 2)

Minggu, 17 Februari 2013

Pendidikan karakter yang sesuai dengan leaderpreneurship program.




Sebelumnya kita pernah membahas peran penting ketrampilan hidup bagi siswa di masa depan mereka. Namun perlu diketahui ketrampilan hidup seberapapun hebatnya tak lebih hanya sekadar kotak kosong,  chasing  tanpa isi. Yang tentu saja belum akan berguna selama isinya tidak segera ada. Ibarat manusia , bagaikan wadag kosong tanpa jiwa, mayat hidup tanpa jiwa. Zombie kata anak anak sekarang. Untuk mengisi wadag kosong itu kita perlu membangun karakter peserta didik kita di sekolah. Hal ini penulis tuliskan karena didorong oleh keyakinan bahwa ketrampilan yang hebat haruslah di dukung dengan karakter yang luar biasa.  Kalau ketrampilan hidup dan karakter yang tepat sudah menyatu dalam diri siswa kita, akan ada bayak hal yang bisa mereka lakukan untuk berperan dalam kehidupan ini. Peran yang bisa diharapakan bukan saja akan berguna bagi dirimereka sendiri tapi akan bermanfaat bagi orang orang disekitarnya dan orang orang yang berada dalam jangkauannya.
Hal ini tidak terlepas dari keyakinan beberapa sarjana yg menyatakan;  kesuskesan kita ,85% akan sangat dipengaruhi oleh karakter yang terbagun dalam diri kita sediri.  15% sisanya, kesuksesan kita ditentukan oleh kepandaian dan ketrampilan hidup yang kita punya. Sebegitu besar pengaruh karakter pada masa depan kita semua dan masa depan siswa siswi kita. Oleh karena itu kita sebagai guru tentu tidak boleh tidak memperdulikan hal ini. Kita dan sekolah harus punya kiat dan kebijakan yang mendorong terciptanya karakter karater hebat dalam diri setiap siswa peserta pembelajaran  di sekolah.
Sekolah harus mampu merumuskan karakter apa saja yang diperlukan siswa bagi masadepannya dan menentukan kebijakan kurikulum dan akademik untuk mensukseskan kebijakan pengemebangan karakter siswa ini.
Kesadaran akan pentingya karakter ini sudah merata diseluruh tanah air Indonesia. Setiap sekolah  sudah ada pembicaraan tentang pengembangan karakter. Setiap sekolah sudah mulai mengklaim bahwa mereka menjalankan pendidikan karakter di sekolah masing masing, walau kalau ditanya bagaimana cara mereka menginternalisasi karakter karakter itu dalam diri siswa mereka, mereka akan memberi jawaban yang beragam seberagaamnya pemahaman mereka tentang pendidikan karkter itu sendiri. Mereka belum memiliki visi dan metode yang seragam tentang pembangunan karakter bangsa itu. Bekal mereka cuma daftar 18 karater yang ditetapkan oleh kementrian pendidikan, dan 18 karater itulah yang mereka hafalkan dan jadi bahan diskusi untuk diterapakan dalam pengajaran. 
Nah dalam tulisan pendek ini, penulis juga ingin mengajukan 15 karakter (yang mungkin berbeda dari punya dinas pendidikan) yang seharusnya kita tanamkan dalam diri siswa.  Kelimabelas karakter yang penulis ajukan ini adalah karakter karakter yang penulis yakini bisa dipadukan menjadi jiwa dari ketrampilan hidup yang diperlukan siswa kita di masa depan seperti telah dibahas ditulisan saya sebelumnya ,   Ketrampilan Hidup Leaderpreneurship untuk Sekolah Masa Depan,.
Dengan begitu bisa dibilang bahwa karakter untuk pengembangan leaderpreneurship akan sedikit berbeda dengan karakter siswa besutan kementrian pendidikan Republik Indonesia. Namun tentu kita tidak perlu minduskusikan perbedaan itu. Apalagi sampai berantem bukan? Nah inilah karakter yg harus  di miliki siswa itu:
Ø    Tolerance
Ø     respective
Ø     productive
Ø     enthusiasm
Ø     caring
Ø     creative
Ø     motivated
Ø     innovative
Ø    self-controlled
Ø    assertive
Ø    persuasive
Ø    integrated
Ø    independent
Ø    effective
Ø    efficient  
nah membuat daftar karakter tentulah sangat mudah, namun bagaiman cara menginternalisasikan watak wataak ini dalm diri siswa itulh yang paling sulit dilakukan.  Sebetulnya kita sudah siapkan sebuah program yang untuk gampangnya kita sebut ‘leaderpreneurship prorgam” yang bisa membantu para guru menanamkan semua karakter itu dalam diri siswa.  Pingin rasanya bisa berbagi disini namun sepertinya tidak bisa ditulis dalam bentuk artikel pendek seperti ini. Jadi nampaknya agak terlalu sulit bagi saya untuk menjelaskan di sini. Namun untuk memberi gambaran program ini berlandaskan  pada pembelajaran berbasis project atau orang barat menyebutnya Project based learning. Silahkan pelajari project based learning dan terapakan karakter karakter pilihan di atas pada anak didik kita. Semoga berguna.....

Sabtu, 16 Februari 2013

Paradigma guru pada pembelajaran abad 21 (21st century learning) (bagian 2)





Dari pada bengong yuk kita lanjutakan bicara tentang paradigma baru yang harus dipunyai seorang guru di abad 21 ini. Pada bagian pertama, di  PARADIGMA GURU PADA PEMBELAJARAN ABAD 21 (21st CENTURY LEARNING) (bagian 1) kita sudah bicarakan empat paradigma baru guru, nah sekarang kita lanjutkan pada pradigma ke;

5.      Isolated works             harus dirubah menjadi                         collaboration works
Pada proses pembelajarn yang umum terjadi di masa kini dan masa lalu, guru selalu menempatkan siswa sebagi pribadi pribadi yang tersendiri dan tidak saling terhubung. Mereka dibiarkan menjalani sendiri sendiri nasib mereka sebagi pembelajar. Yang pintar akan pintar sendirian, yang kurag beruntung akan nampak bodoh juga sendirian. Hal ini tentu terkait dengan cara evaluasi yang dilakukan guru. Pada ujung evaluasi siswa akan menerima raport secara personal oleh karena itu guru akan selalu menempatkan siswa sebagi individu yang saling terpisah, pun begitu tugas tugas sekolah yang mereka berikan. Tugas yang biasanya berbentuk PR pun akan berupa pekerjaan rumah yang dikerjakan sendiri sendiri.  Memang benar ada sesekali guru memberi tugas kelompok, namun tugas kelompok ini tidak disertakan aturan main yang jelas, sehingga tugas kelompok yang harusnya dikerjakan berkelompok cukup dikerjakan salah satu dari anggota kelompok dan dinamai ramai ramai. Setelah dikerjakan guru pun tidak terlalu peduli apakah itu hasil kerja kelomok atau bukan.
Ke depan guru harus membentuk atmosfir yang bisa menyuburkan kerja kelompok di dalam kelas. Kerja kelompok bukan saja akan membuat siswa belajar bersama dan saling tukar menukar informasi, namun tugas kelompok akan membuat siswa belajar berorganisasi, belajar managemen, mempertajam kemampuan intra dan extra personalnya, memupuk kemampuan komunikasi, kemampuan bekerjasama dan tidak kalah pentingnya mereka belajr bertanggungjawab dan kemandirian. Banyak hal bisa dipelajari siswa dengan membuat mereka diberikan pekerjaan kelompok.  Dan boleh sedikit saya sampaikan di dunia ini sekarng ini sedaang gandrung dengan apa yang mereka sebut sebagi Project based learning, artinya itu adalh mengajarkan siswa untuk belajar bekerja sama.


6.   Knowledge based                    harus dirubah menjadi               information based decision making
Karena yang diajarkan guru adalah teori teori maka biasanya guru memberikan instruksi instruksi untuk berlatih membuat keputusan keputusan penting berdasarkan logika tau setidaknya memberikan saran pada siswanya untuk menggunakan logika dan kepantasan umum untuk setiap langah yang diambil. Paradigma ini harus segera dirubah, bukan karena penggunaan logika dan pengetahuan umum  itu salah, namun logika dan pengetahuan umum tidak pernah menjamin ketepatan langkah yang diambil dengan kondisi riil lapangan. Oleh karena itu informasi yang real time sanagt diperlukan siswa pada masanya nanti untuk ambil keputusan. Nah sebelum waktunya siswa harus ambil keputusan tersebut ada baiknya guru sudah membiasakan siswanya untuk mempunyai informasi yang terkini  atau yg real time dari setiap kondisi yang dihadapi.

7.  Passive learning                   harus dirubah menjadi                  active/ inquiry based learning
Ini terkait dengan pendekatan pengajaran yang dilakukan guru di dalam kelas. Sejauh guru tetap menjadikan dirinya satu satunya sumber referensi pengetahuan, seperti yang pernah kita bicarakan, maka yang akan sibuk dikelas adalah gurunya,  karena posisi ini akan cenderung membuat guru sebagai orator. Siswa cukup sebagi pendengar yang setia. Cara pembeljaran yang seperti ini bukan saja akan membuat siswa jadi pasif namun juga membuat siswa menjadi bodoh karena informasi yang mereka terima akan sangat terbatas jumlahnya dan yang lebih menyedihkan lagi siswa hanya akan menerima kira kira 10-15% saja dari informasi yang terbatas itu.
Oleh karena itu Cara belajar siswa aktif haruslah yang dijadikan paradigma pengajaran yang terbaru. Dengan membuat siswa aktif belajar dengan strategi yang tepat, mereka bukan saja akan menjadi pintar, tapi mereka akan menjadi super cerdas karena mereka akan mendapatkan informasi yang tanpa batas. Keaktifan merekalah yang akan mendekatkan para siswa itu pada banyak sumber informasi dan mereka bisa menyerap semua infomasi yang tanpa batas tersebut.


8.  Reactive response               harus dirubah menjadi                   proactive response
Sudah menjadi tabiat guru guru dimanapun berada, mereka meraasa bahwa tugas mereka hanyalah mengajar seperti kemarin dia mengajar. Tidaklah terlalu diperlukan untuk berfikir dan bertindak lebih jauh dibanding apa yang mereka kerjakan kemarin.  Mereka kebanyakan tidak punya visi yang agak jauh ke depan sehingga tidak juga mempunyai langkah langkah preventif proaktif. Mereka akan bergerak dan melangkah kalau sudah ada suatu kejadian. Semua tindakannya bersifat responsif reaktif. Adaa muridnya badung dia panggil untuk dinasihati, ada yang terluka dia bawa ke UKS atau ke rumah sakit, siswa bodoh baru dia panggil dia suruh untuk rajin belajar.
Apakah tindakan reaktif begitu salah? Kalau dibilang salah juga tidak tepat, namun yang jelas tindakan tindakan reaktif itu sangat terlambat.  Menunggu rumah kebaakar dulu baru sibuk memadamkan adalh tindakan yang sangat terlambat bukan? Menunggu kebanjiran dulu baru membersihkan saluran air dan got got juga perbuatan yang nampak bodoh bukan? Sama dan sebangun dengan itu,  semua permasalahan kenakalan dan kebodohan siswa hendaknya dibuatkan langkah langkah antisipasinya jangan hanya menunggu kejadian baru bereaksi. Untuk sekedar diketahui saja siswa badung tidak akan tiba tiba menjadi baik hanyadengan dinasihatidan dihukum siswa bodoh tidak akan mendadak pintar dengan di nasihati dan disuruh iku les. Strategi  yang menyeluruh ketat dan konsisten  yang dijadikan kebijakan sekolah adalah solusi dari semua itu


9.   Single media                       harus dirubah menjadi                   multi media
Kalau saya bicara multi-media pasti saja ada yang salah tafsir dengan perangkat kompoter dan alat aat digital lainnya. Tapi baiklah kita terangkan dulu yang saya maksud dengan single media terlebih dahulu. Media disini yang saya maksud adalh media atau sumber atau alat belajar. Single media disini maksudnya media belajar siswa Cuma satu. Ini kembali berbicara pada peran guru lagi. Sistem pengajaran jaman dulu guru adalah satu satunya sumber pengetahuan dan papan tulis jadi satu satunya  media belajar untuk menstransfer ilmu. Jaman sudah sedemikian majunya sumber pengetahuan harus sudah bervariasi pun begitu media pembelajaran. Koran majalah tabloid, jurnal ilmiah sangat banyak beredar, semua itu bisa jadi sumber belajar dan media belajar seklaigus. Kenapa guru tidak mencoba untuk memnafaatkan? Internet bukan barang langka lagi itu bisa jadi sumber belajar dan media pembelajaran sekliagus. Penggunaan laboratorium, tape recorder, in focus, televisi, film, komputer, vcd player , tugas kelompok, pembuatan project dan yang lainnya sangat dianjurkan untuk media pembelajaran.  Jangan hanya ceramah melulu, siswa nya ngantuk.

10.   Single sense stimulation            harus dirubah menjadi             multi-sensory stimulations
Pada abad yang lalu pendidikan disekolah masih terfokus pada metode ceramah bahkan samapi hari ini juga masih banyak guru yang tiap hari kerjanya ceramah di depan siswanya. Ini artinya guru masih beranggapan bahwa untuk membuat siswa pintar siswa haruslah mendengar informasi dan pengetahuan, kemudian mencerna di dalam otak untuk memhami dan menghafalkan. Setelah hafal maka siswa akan pintar. Apakah kenyataan begitu yang terjadi? Ohhh...my..yang terjadi jauh panggang dari api. Siswa terbukti hanya sedikit yang bisa pintar;  dari 40 siswa di dalam kelas tidak akan lebih dari lima yang bisa dibilang pintar bukan?
Oleh karena itu guru sekarang haruslah berfikir bahwa tidak semua siswa bisa paham dengan mendengar ada sekian abnayk siswa yang bisanya pintar karena melihat, ada yang bisanya pintar karena meraba, ada yang bisanya pintar karena saat belajar diperbolehkan sambil jalan jalan, ada siswa yang bisa pintar karena melakukan atau mengalaamilangsung apa yang sedang mereka pelajari. Yang saya tulis ini adalah apa yang oleh orang pintar sebagi gaya belajar. Setiap siswa punya gaya belajarnya sendiri. Dan tentu saja tidak semua siswa bergaya belajar auditori atau mendengar, oleh karena itu guru jangan ceramah melulu. Belajarlah tentang gaya belajar. Atau tunggulah saya sampai ada waktu untuk menulis tentang gaya belajar.

11.    Single-path progression            harus dirubah menjadi              multi-path progression
Hal yang terakhir ini terkait dengan  evaluasi siswa.  Sejauh ini sekolah sekolah di indonesia hanya memfokuskan pada penilaian kemampuan akademis siswa. Oleh karena itu semua sekolah akan keluarkan buku rapor yng berisi nilai matematika, Ipa , bahas inggris dst. Sekali lagi kemampuan intelegensia akademislah fokus penilaian dan ukuran kemajuan siswa. Padahal kalau kita mau sadari ada banyak orang sukses yang tidak genius. Penyanyi, bintang film, pelawak, pengusaha, seniman, pedagang, pesulap rata rata hidup makmu, kecukupan bahkan kaya raya, mereka tidak bermodalkan “pintar”. Merka punya bakat, mereka punya ketrampilan, mereka punya watak dan sifat pribadi yang kuat. Kenapa sekolah yang katanya ingin membuat masa depan siswanya cerah Cuma terpaku pada membuat siswanya “pintar”, cobalah pantau kemajuan bakatnya, kemajuan, karakternya, pengembangan pribadinya, perkembangan ketrampilan hidupnya. Itu akan lebih bermanfaat bagi mereka ketimbang anda sebagi guru hanya sibuk membuat siswa anda pintar.
Semoga bermanfaat.....