Senin, 07 Mei 2012

KETIDAKTEPATAN PEMILIHAN BUKU REFERENSI DALAM PELAJARAN BAHASA INGGRIS


Sebelumnya pernah saya uraikan bagaimana sekolah salah dalam mengatur dan menata pelajaran Bahasa Inggris dalam tulisan dengan judul Menyoal Ketidaktepatan Manajemen Pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah Kita.  Dan dalam yang pendek ini saya Cuma mau berbagi pengalaman tentang kesalahan dalam pemilihan buku pelajaran bahasa Inggris yang digunakan di sekolah. Dengan harapan sebagai kepala sekolah atau sebagai guru  bahasa Inggris, sidang pembaca bisa menghindari kesalhan yang saya maksud.

Pendek kata saya menemukan ada 4 kesalahan yang tidak disadari sekolah dalam memilih Buku Bahasa inggris atau oleh pengarang bukunya itu sendiri. Kesalhan kesalhan yang saya maksud adalh sebagi berikut;


A.  Tidak sesuai dengan psikologi perkembangan anak
Seperti yang pernah saya  jelaskan ditulisan saya terdahulu, di Negara kita banyak buku pelajaran bahasa inggris yang asal tulis dan diedarkan untuk begitu saja ke sekolah sekolah kita tanpa memeperhatikan tahapan psikologis siswa yang akan menggunakan buku dimaksud. Untuk pembahasan perkembangan psikologis siswa kita bisa berkaca pada teori perkembangan  yang digagas oleh Jean Piaget (1896–1980).  Menurut Piaget ada empat tahap perkembangan psikologis manusia:
- sensorimotor stage, (lahirsampai usia 2 tahun)
- preoperational stage (2–8 tahun)
- concrete operational stage (8–11 tahun)
- dan formal stage (11–15 tahun keatas).

Masing masing tahap perkembangan mempunyai dinamika, kecenderungan dan hambatan sendiri sendiri yang berbeda satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang memeperhatikan dan menyesuaiakan tahapan psikologis siswa tersebut. Ambil contoh, anak SD sedang dalam tahap concrete operational stage dan yang mereka perlukan bahasan yg sesuai dalam belajar  dan banyak ilustrasi, model, gambar, dan kegiatan-kegiatan fisik lain, karena otak mereka belum sanggup membuat pemahaman pemahaman tingkat tinggi yang memerlukan analisa maupun abstraksi. Mereka masih memiliki kemampuan terbatas dalam pemahaman terhadap lingkungan diluar tubuh mereka. Semua hal yang bisa diindra adalah batas pemahaman dan kebenaran bagi mereka, itulah sebabnya dalam pengajaran bahasa inggris mereka juga perlu melihat, mendengar menyentuh dan mengalami langsung. Tanpa ada rangsangan syaraf di panca indranya pelajaran bahasa inggris, juga pelajaran lain, akan sia sia karena akan sangat sulit mereka mengerti dan otomatis akan sulit mereka pikirkan dan mereka hafalkan. Oleh karena itu carilah biuku buku yang memancing syaraf syaraf sensorik mereka agar pelajaran bahasa inggris bisa diterima secara penuh oleh anak anak seusia ini.
Anak dengan tingkat kedewasaan yang lebih tinggi suadah akan berada pada tahapan formal stage disini siswa sudah mulai bisa mengabstaraksi apa yang mereka dengar dan lihat dan imaginasi mereka sudah mulai mampu bekerja dengan sempurna. Buku pelajaran dengan segala macam gambar dan warna bukan sudah tidak diperlukan lagi tapi malah menggangu imaaginasi dan kemampuan abstraksi dan analisa  mereka. Buku yang cocok adalh buku yang mampu memberikan tantangan pada kemampuan analisa dan abstarksi  mereka; yaitu buku yang memebri keleluasaan mereka dalam melatih kemampuan bahasa mereka bukan dalam mengerjakan soal soal yang kaku dan mati tapi dalam mempraktekkan langsung bahasa sasaran pembelajaran mereka.
B. Tidak mendorong pada kondisi active learning.
Pelajaran bahasa inggris bukanlah pelajaran tentang ilmu penegtahuan. Bahasa inggris adalh pelajaran KETRAMPILAN. Ketrampilan tidak bisa ditransfer melalui pengajaran teoritis tapi bisa disebarluaskan dengan pengajaran yang bersifat praktis. Ibarat orang mau belajar main gitar tentu tidak cukup hanya membaca buku tentang bagaimana bermain gitar yang baik, tapi perlu kiranya kita pegang gitar dan membunyikannya agar pengajaran dan pembelajaran bermain gitar efektif dan efisien. Begitu juga belajar bahasa inggris, yang diperlukan bukanlah teori bahasa dan struktur bahasa yang rigid tapi kesempatan mempraktekan apa yg dipelajari. Oleh karean itu pastikan buku pelajaran bahasa inggris tidak hanya berisi hal hal berikut:
- Soal soal isian
- Teori struktur bahasa
- Kata kata yg harus dihapalkan
Tapi carilah buku pelajaran bahasa inggris yang menggiring pembacanya  pada situasi yang tepat yang mengharuskan orang mengucapkan ungkapan yang tepat sehingaga pembelajar bisa belajar dan mempraktaekkan bahasa inggrisnya.
C. Tidak mencakup seluruh kompetensi  bahasa
Metode Alami (Natural Method) berkeyakinan bahwa manusia belajar bahasa melalui tahapan tahapan yang berjumlah empat yaitu; mendengarkan (listening), seperti bayi yang pada awalnya mendengarkan pembicaraan orangtuanya . baru kemudian bayi akan mencoba untuk berbicara dan berakap (speaking). Setelah itu pada umunya orang akan belajar membaca (reading), kemudian setelah punya kemampuan membaca, orang akan cenderung untuk mencoba mengekspresikan diri lewat tulisan (writing). Nah tidak banyak buku peljaran bahasa Inggris yang menyediakan latihan untuk keempat komponen pokok bahasa ini. Oleh karena itu bagi sekolah atau guru bahasa inggris yang baik, cobalah mencari buku pelajarn bahasa inggris yang mampu memacu siswa untuk melatih kempat komponen bahasa tersebut.

D. Tidak mengarahkan pada penguasaan ungkapan ungkapan yg berguna.
seorang pelajar bahasa harus menguasai empat makna utama bahasa yaitu makna bahasa sebagai simbolisasi ungkapan tentang persepsi (baik/ buruk), perasaan (suka/tdk suka), rasio (benar/salah), dan keinginan (mau/tidak mau) (Nababan).  Buku pelajarn Bahasa Inggris yang baik haruslah berisi pengajaran dan pelajaran tentang ungkapan ungkapan yang terkait dengan 4 makan diatas beserta kapan dan bagaiman cara mengungkapkannya. Jangan memilih buku pelajaran dengan ungkapan ungkapan yang tidak jelas dan Cuma asal banyak tulisannnya di dalam buku.

Selamat berburu buku pelajaran yang baik….bagi penerbit buku ada baiknya ikuti saran gratis dari saya ini….

Selasa, 24 April 2012

Design Thinking: Langkah kreatif merubah paradigma manajemen konstrain menjadi daya inovasi bagi organisasi sekolah.

Artikel ini sebetulnya sudah saya kirim ke sebuah jurnal tapi kok tidak juga dimuat, akhirnya ya wis lah saya taruksini saja, siapa tahu pembacanya malah lebih banyak dan bermanfaat sehingga saya bisa dapat sedikit tambahan pahala dari usaha yang saya lakukan ini tuk meringankan beban dosa yang saya tanggung dihadapan Ilahi Robbi nantinya. :)





Pendahuluan

Ironi terbesar dalam kehidupan manusia terletak pada permasalahan yang mereka hadapi. Di satu sisi semua orang sangat tidak nyaman, tidak suka dan sangat membenci adanya permasalahan dalam segala urusannya, namun di sisi lain permasalahanlah yang sejauh ini mendorong kemajuan kehidupan manusia sedemikian pesat. Sejarah mencatat penemuan tehnologi baik tehnologi  yang sederhana maupun tehnologi yang maju, semua dipicu dari timbulnya permasalahan.
Tidak jauh berbeda dengan  aspek kehidupan manusia yang lainnya, dalam pendidikan yang namanya kendala, hambatan, permasalahan , problema, konstrain atau apalah namanya juga merupakan menu keseharian bagi para guru dan kepala sekolah serta pengambil keputusan yang lain. Mengingat sebegitu akrabnya dunia pendidikan dengan permasalahan tak heranlah kalau pada dasarnya pemikiran pemikiran manajerial selalu diarahkan pada satu titik pusat, pemecahan masalah (problem solving). Seluruh teori dan analisa manajerial didasarkan pada pengandaian adanya permasalahan. Keyakinan bahwa organisasi dalam hal ini sekolah memiliki tugas tunggal menghancurkan permasalahan dipertegas keluarnya teori hambatan (theory of constraints) yang disuguhkan Dr. Eliyahu M. Goldratt  seperti yang ditulis Dettmer, H. William (1997) dalam bukunya   yang berjudul  Goldratt's Theory of Constraints: A Systems Approach to Continuous Improvement yang dimaksudkan untuk membantu management mengurai permasalahan yang dihadapi sebuah organisasi dalam mencapai tujuan tujuannya secara berkelanjutan.
Teori konstrain yang digagas Goldratt sebetulnya hanyalah puncak gunung es keyakinan kita bahwa apa yang kita harus hadapi dan apa yang harus kita kerjakan adalah permasalahan dan pemecahannya. Jauh sebelum teori itu muncul seluruh ahli manajemen sepakat membuat teori dan menyarankan berbagai macam cara analisa yang kesemuanya, kalau diperhatikan, mengarah pada pendekatan yang langkah awalnya adalah  mencari cari permasalahan. Dengan demikian bisa dipastiakan bahwa sejauh ini didunia dan  seluruh isinya selalu dipandang sebagai masalah yang harus dicarikan jalan keluarnya. Pendakatan manajerial tradisional yang selalu menitik beratkan perhatian pada ada tidaknya permasalahan telah mendorong organisasi dan badan badan  usaha lain untuk menyibukkan diri dengan upaya mencari hambatan dan kekurangan organisasinya. Analisa SWOT yang laris manis diajarkan dibangku bangku sekolah dan perkuliahan dalam hal ini bisa kita pakai sebagai contoh bagaimana selama ini semua organisasi bisnis sibuk mencari kekurangan dan kelemahan diri.
Pencarian kekurangan organisasi baik dalam bentuk kelemahan (weakness) maupun ancaman (threat) (Kotler, 1997) pada umumnya malah membuat sebuah organisasi mengalami ketakutan yang tidak perlu. Fokus pada pemikiran tentang kelemahan kelemahan dan kekurangan organisasi yang ada, pada prakteknya bukan menjadikan organisasi mampu mengerti kondisi riil yang dihadapi dan tahu apa yang harus dilakukan, malah sebaliknya seluruh anggota organisasi dengan jelas mampu melihat kekurangan organisasi dan bukan berusaha menutup kelemahan kelemahan itu tapi malah mulai dapat angin intuk  mengeluhkan kurangnya fasilitas, kurangnya peralatan, kurangnya ketersedian bahan, lambannya aliran kebijakan, kurang tegasnya pimpinan, kurang jelasnya perencanaan dan seterusnya. Pun begitu terjadi di dunia pendidikan dalam managemen sekolah.
Alih alih menemukan kelemahan dan kekurangan sekolah bisa dipakai menjadi acuan penentuan kebijakan sekolah kedepan , kelemahan dan kekurangan sekolah malah menjadi  pelemah keyakinan dan semangat kerja , menghilangkan rasa percaya diri organisasi, tidak bisa melihat dan menghargai kemampuan organisasi, serta memperuncing silang sengketa karena saling tuduh dan melemparkan kesalahan pada pihak lain. Kambing hitam laku keras untuk menangkis tuduhan kinerja yang kurang. Timbul rasa curiga dan saling tidak percaya dan konflik adalah sesuatu yang tidak terhindarkan. Untuk pembuktian thesis ini, tolong dijawab adakah dimuka bumi ini organisasi yang kosong dari keluhan dan konflik? Mungkin kearah inilah saran agar kita selalu mempunyai fikiran positif (positive thinking)(Carnegie, 1948) itu bermakna.
Kebuntuan pendekatan manajemen tradisional dengan cara pandang pemecahan masalah ini, dipenghujung akhir abad 20 dan diawal abad 21 mendorong sekelompok jenius untuk mencoba memandang kerja sebuah organisai dengan cara yang lebih elegan, manusiawi dan lebih proporsional. Dengan kepeloporan Tim Brown, seorang CEO dari IDEO, sebuah lembaga konsultan design, muncullah pandangan baru bagaimana mengelola tantangan organisasi dengan pemikiran kreatif yang tidak mendasarkan lagi pada kelemahan organisasi yang mereka sebut sebagai berfikir design (design thinking)

 Permasalahan.
Seperti yang sudah diuraikan diatas pendekatan organisatoris tradisonal selalu mengandaikan bahwa didepan ada permasalahan dan kita harus mencari solusi terbaik dari permasalahan yang ada. Mudah sekali ditebak bahwa pada akhirnya baik pemikiran maupun solusi yang kita ambil pasti tidak akan pergi telalu jauh dari pokok persoalan yang kita temukan. Pikiran, konsep, visi, daya khayal, kreatifitas kita hanya berputar selingkup permasalahn yang kita temukan.  Kondisi ini akan membuat solusi yang kita hasilkan untuk permasalahan yang ada jadi tidak kreatif dan kebanyakan selalu berbentuk perbaikan dari kondisi yang sebelumnya, jarang sekali solusi dari permasalahan itu berbentuk inovasi manajerial. Ketidakkreatifan kita atas permasalahan organisasi ini sering kali membuat keputusan yang kita ambil tidak tepat dan pada gilirannya akan membuahkan ketidakberhasilan organisasi dalam mewujudkan tujuan (goal) bersamanya. Seluruh proses managerial itu tidak jarang diakhiri dengan penutupan organisasi atau badan usahanya.
Hal ini pernah juga disadari oleh Tim Brown yang dalam sebuah kesempatan menulis apa yang pernah disaksikannya dalam pengalaman managerialnya. Tim brown pernah bertanya kenapa bangunan yang dirancang arsitek jarang yang runtuh, dan jarang ada produk barang yang tidak berfungsi seperti yang diharapkan, tapi kenapa perancangan financial sebuah perusahaan ataupun sebuah Negara bisa ambruk padahal  mereka sama sama melalui proses perancangan (design) yang baik dan meyakinkan? Dan kitapun bisa melanjutkan pertanyaan  pertanyaan tersebut, misalnya; apakah yang salah dalam perancangan financial perusahaan, organisasi sekolah,  atau bahkan negara bila dibanding dengan perancangan sebuah bangunan atau sebuah mobil? Dan bisakah konsep perancangan sebuah bangunan atau perancangan sebuah produk tangible lainya diterapkan pada perancangan financial perusahaan atau perancangan social network, perancangan struktur organisasi, rancang bangun pemasaran desain organisasi, rencana strategis, perencanaan bisnis baru, pengembangan komunitas, perancangan manajemen sekolah dan seterusnya?

Design Thinking

Design thinking adalah sebuah metode berfikir yang mengadopsi cara seorang designer memikirkan dan mengerjakan proses kreatifnya dalam mendesign sesuatu. Perbedaan yang menonjol dari proses berfikirnya seorang designer dibanding proses berfikir pada umunya adalah bahwa dalam proses kreatifnya, designer tidak memulai pemikirannya dengan pendekatan permasalahanya apa (problem -centered approach) melainkan memulai proses kreatifnya melalui empathy terhadap kebutuhan manusia. Design thinking tidak mengajarkan mencari akar permasalahan dan menemukan solusinya, namun secara unik designer dengan empathinya akan mencari kebutuhan mendasar manusia dan sama sekali tidak perlu tahu permasalahannya . Oleh karena itu dalam design thinking seorang pemikir design akan merumuskan kendala yang akan dihadapi dalam proses kreatif dan  inovatifnya secara lebih hati hati. Pemilihan kata dalam merumuskan kendala awal proses kreatif sangat penting agar tidak terjebak pada pemikiran negative. Kalimat “ bagaimana cara memindahkan orang dengan lebih nyaman” akan lebih bagus jadi pilihan dari pada mengatakan  “mobil ini ternyata terlalu keras sehingga penumpang tidak nyaman berkendara”, atau “apa yang dibutuhkan seorang siswa untuk bisa belajar dengan baik?” akan lebih elegan dari pada menyatakan “sekolah ini tidak memeberi rasa nyaman dan aman untuk belajar siswa”.
Dengan begitu jelas bahwa design thinking tidak terfokus pada permasalahan, tapi mengarahkan segenap kemampuan pada upaya mencari solusi agar kehidupan manusia lebih baik, selain itu design thinking juga tidak meributkan bagaimana mencari solusi atas sebuah masalah, tapi mengutamakan tindakan nyata yang cepat untuk mendapatkan solusi bagaimana membuat sejahtera kehidupan manusia. Dalam bekerja pemikir design bukan saja melibatkan pemikiran tapi juga analisa dan bahkan khayalan untuk mencapai tujuannya.
Karena design thinking tidak terfokus pada permasalaham dam kelemahan maka, proses manajerial yang didasarkan pada design thinking ini akan terlihat lebih fleksibel gerak langkahnya. Fleksibilitas berfikir design ini disebabkan karakter karakter positif yang menyertai gaya manajerial anyar ini seperti, pandangan yang lebih obyektif, ketelitian dalam detail, kemampuannya menampung pertanyaan yang paling menggelikan sekalipun, keluasannya dalm menjembatani ide paling konyol sekalipun, keberanian ambil resiko dan kesempatan yang luas akan munculnya ide ide baru yang brilian. Semua hal ini bisa muncul pada pemikiran design karena gaya pemikiran ini tidak terfokus pada masalah  tapi terfokus pada upaya mencari cara mensejahterakan manusia. Jadi pemikiran pemikiran positiflah yang mendominasi prosesnya dan bukan ketakutan seperti saat pikiran terpusat pada permasalahan.
Tentu saja, sebagai sebuah metode berfikir, design thinking dalam berkreasi dan inovasi tidaklah tanpa batasan.  Karena proses berfikir kreatif yang tidak ada rel dan batasannya akan cenderung terlalu tinggi awan dan tidak lagu menginjak bumi sehingga tidak realistis dan tidak bisa diwujudkan. Untuk menjaga kerealistisan ide yang dihasilkan, proses berfikir design mempunya tiga rambu rambu yang harus diperhatikan seperti gambar berikut:



Seperti yang terlihat pada iliustrasi diatas dalam berkreasi dan berinovasi seorang pemikir design akan memulai proses kerjanya berdasarkan tiga hal pokok. Pertama tama seorang pemikir design akan mengobservasi permasalahan yang ada un tuk dikembangkan bukan pada pencarian kekurangan dan kelemahan organisasi tapi permasalahan yang ada akan dilanjutkan pada langkah observasi pasar untuk mencari tahu apa sebenarnya yang dibutuhkan orang untuk menunjang kesejahteraan hidupnya (desirability) setelah kebutuhan pasar ditemukan maka disusunlah rumusan permasalahan yang ada dengan kalimat dan kata kata yang tepat agar tidak terjadi kesalahan implementasinya nanti.
Setelah kebutuhan pasar didapat dan telah terumuskan dengan baik, seorang pemikir design akan segera memikirkan ketersedian tehnologi yang akan mendukung proses kreatif dan inovatifnya (Feasibility) sebab ide yang terlalu tinggi dan tidak punya dukungan tehnologi yang memadahi cenderung akan mubadzir dan tidak bisa diimplementasikan. Dan yang terakhir, seorang pemikir design tidak akan membuat ide yang berada diluar kemampuan financial dan dukungan strategi organisasi (viability). Dengan berpatokan pada tiga hal ini seorang pemikir design akan berkarya mengolah kemampuan kreatif dan inovatifnya. Design thinking mengandaikan semua hal masuk akal dan bisa dilaksanakan. Hal ini sesuai dengan misi berpikir desain yang berupaya menubah observasi menjadi inspirasi yang selanjutnya inspirasi akan dijadikan produk atau jasa yang diharapakan mampu meningkatkan kualitas kehidupan dan kesejahteraan manusia (Brown, 2008)
Perbandingan Design Thinking dengan Managemen berbasis Konstrain.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya seluruh teori managemen dibuat dengan mengandaikan adanya masalah yang dihadapi organisasi, sehingga seluruh gerak langkah organisasi semua terfokus pada pencarian pemecahan masalah. Hal ini membuat organisasi dan  orang orang yang ada di dalamnya jadi kurang kreatif dan tumpul kemampuan inovasinya. Sementara perekonomian ke depan harus sudah tertumpu pada perekonomian kreatif karena sumber daya alam sudah semakin langka (Toffler, 2004) . Dengan begitu mengandalkan manajemen yang terfokus pada pencarian dan pemecahan masalah akan bermasalah besar di dunia usaha di masa mendatang. Sekolah sebagai sebuah oraganisasi tentu juga akan merasakan hal yang sama. Sepuluh tahun yang lalu boleh jadi organisasi/ sekolah yang menguasai informasilah yang akan Berjaya. Semakin banyak informasi yang didapat makin kokohlah sebuah organisasi usaha/sekolah, oleh karena itu tehnologi informasi yang mampu menyediakan real time information laris manis diborong perusahaan dan sekolah sekolahpun tak ketinggalan menyediakan internet di dalamnya. Namun sekarang berbeda perekonomian sudah bergeser pada kreatifitas. Artinya makin kreatif seseorang atau organisasi makin tangguhlah mereka. Saat perekonomian mengandalkan capital, siapa besar siapa yang kuasa, saat informasi jadi landasan jargon bergeser menjadi siapa cepat siapa dapat. Namun  saat kreatifitas menjadi raja, yang besar dan cepat tidak akan dapat apa apa, yang kreatif dan inovatiflah yang berjaya. Oleh karena itu sudah waktunya menggeser manajemen berbasis pada masalah ke perekonomian yang berbasis pada kreatifitas  seperti yang dipaparkan Daniel  L.  Pink  (2005). Dan sekolah sebagi sebuah organisasi harus juga bergeser pada fenomena perubahan managerial ini.
Theory of Constraints sebagai puncak gunung es managemen berbasis pemecahan masalah, dengan sangat jelas menerangkan bahwa perusahaan itu pasti bermasalah yang digambarkan sebagai mata rantai terlemah (the weakest chain) dan andai mata rantai terlemah itu diperkuatpun, menurut teori ini permasalahanpun akan bergeser karena pasti selalu ada rantai yang paling lemah. Terus kapan kita bisa bebas dari memikirkan masalah?  Kapan pula kita bebas berkarya tanpa dihantui rasa lemah dan bermasalah?
Berbeda dengan pemikiran design yang  menekankan pada kreatifitas. Hal pertama yang dicari permasalahan yang dihadapi perusahaan bukanlah pada permasalahannya itu tetapi pada apa yang sebenarnya di inginkan manusia. Gerak langkahnya bukan ditentukan permasalahannya tapi ditentukan oleh keinginan manusia. Bukan berorientasi pada permasalahan tapi pada manusia dan keinginannya. Fokusnya bukan pada pemecahan masalah tapi pada tindakan dan proses kreatif.
Dalam proses kreatifnya pemikir design akan melalui tiga tahapan pokok inovasi; pencarian ilham (Inspiration), Pengembangan gagasan (Ideation), dan upaya mewujudkan dalam tindakan  (Implementation) (Brown, 2008), yang bisa dijelaskan sebagai berikut:
inspirationinspirasi didapat dari permasalahan atau keinginan orang yang belum terpenuhi, dalam design thinking permasalahan dan hambatan tidak dilihat sebagi permasalahan tapi dilihat sebagi keinginan yang belum terpenuhi  dan dijadikan motivasi atau kesempatan untuk mengasah kreatifitas memenuhi harapan  itu, sehingga hasil akhirnya nanti bukan sekedar bisa mencari solusi bagi permasalahan tersebut tapi bisa menghasilakan inovasi baru. Tahapan ini mengharuskan pemikir design mengeksplorasi keinginan dan harapan orang yang terkait dengan permasalahan yang ada, pemikir design berfikir dengan empathy, mencoba memandang permasalahan dengan sudut pandang orang lain, bukan berfikir tentang solusi atas permasalahan dengan pemikiran sendiri,  kemudian merumuskan arah pemikiran  kreatifnya, membuat pertanyaan pertanyaan, mengumpulkan masukan masukan, membuat sketsa, membangun scenario dan perancangan.
ideationpada langkah kedua ini pemikir design akan melewati tahap dimana proses design thinking sampai pada langkah penelusuran dan pembangkitan gagasan. Setelah beberapa gagasan opsi diketemukan, pemikir design akan memilih yang terbaik untuk dikembangkan dan dibuatkan prototype, setelah prototype tersedia pengujian atas prototype tersebut adalah hal  penting berikutnya yang harus dilakukan. Pengujian model atau prototype  ini jadi tema sentral pemikiran design karena design tinking mempunyai komitmen untuk bekerja semaksimal mungkin untuk kesejahteraan lahir dan bathin manusia. Keseimbangan antara fungsi fungsi praktis dan daya tarik emosional atas inovasi yang akan dimunculkan adalah hal yang penting untuk dipertimbangakan dalam gerak langkah pemikir design.
implementation: langkah terakhirnya adalah memastikan bahwa gagasan yang diolah dan dimodelkan sudah tepat, diterima pasar, dan bisa dibuktikan bahwa prototype yang ada memang handal. Dilangkah terakhir ini pemikir design dituntut mampu mengkomunikasikan temuannya pada seluruh stakeholders bahwa ide itu memang OK dan bisa dilempar ke pasar. 
Dengan begitu secara keseluruhan design thinking akan mengarahkan semua orang jadi kreatif dan inovatif tanpa dibebani masalah rasa tidak percaya diri dan PR yang berat karena selalu dibayang bayangi permasalahan organisasi yang perlu dicarikan solusi.  Untuk memberi gambaran yang lebih jelas dan lebih penuh akan manfaat berfikir design, ada baiknya kita menengok sebentar proses kerja yang ditawarkan Theory of constrains sebagi perbandingan.
Theory of Constrains (Goldratt, 1986) menawarkan langkah solusi dari permasalahan sebagai berikut:
  1.  Mengidentifikasi hambatan; mencari sumber masalah atau kesalahan kebijakan  yang mengahambat oraganisasi menggapai tujuan tujuannya.
  2. Memutuskan bagaimana melenyapakan hambatan dengan meningkatkan kapasitas pada pada proses produksi yang terkendala masalah.
  3. Mengesampingkan semua proses lainnya dalam rangka mendukung keputusan untuk meningkatkan salah satu rantai proses yang terkendala.
  4. Menghilangkan permaslahan yang ada dengan membuat perubahan pada mata rantai proses yang bermasalah.
  5. Kalau dari prose situ ternyata permasalhannya pindah tempat, kembali lagi ke tahap pertama
Dan untuk diketahui, berdasarkan theory of constrains permasalhan itu memang akan pindah tempat. Jadi permasalahan itu langgeng adanya Cuma tempatnya yang berbeda. Dengan pemahaman hidup yang penuh masalah begini, organisasi mampu bertahan tetap hidup saja adalah sebuah keberuntungan, mengingat organisasi tersebut tentu akan berisi orang orang yang tidak percaya diri dan saling menyalahkan atas permasalahan yang selalu timbul. Kemajuan, kreatifitas dan inovasi apa yang bisa diharapkan dari organisasi yang selalu merasa bermasalah?

Kesimpulan.
Di dunia yang sudah tidak mudah lagi mendapatkan sumber sumber daya alamiah, tidak bisa lagi kita menggantungkan proses ekonomi pada bahan mentah dan bahan alam lagi, kalau sebuah sekolah kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan pada bagusnya gedung dan fasilitas. Ekonomi kreatif adalah jawaban atas langkanya bahan bahan mentah tersebut dan pendidikan serta pengajaran yang kreatif lah jawaban dari seluruh permasalahan organisasi sekolah. Untuk bisa membuat sebuah organisasi menjadi organisasi yang kreatif dan inovatif diperlukan sebuah pendekatan mamanjemen yang tepat. Pendekatan manajerial yang tidak berfikir sempit dan menyudutkan anggota organisasi pada jerat merasa bermasalah, merasa ada yang tidak beres baik pada diri anggota tersebut maupun pada organisasi yang menaunginya. Kepercayan yang seperti ini akan mematikan kreatifitas anggota organisasi karena mereka dibuat tidak percaya diri karena merasa memikul kekurangan dan kelemahan. Design thinking menawarkan paradigm baru dalam memandang permasalahan. Dimana permasalahan tidak dipandang sebagi Sesutu yang seram yang harus segera dibasmi, tapi permasalahan dianggap sebagi peluang atau undangan untuk berkarya dengan imaginasinya, dengan kreatifitasnya dan dengan daya inovasinya.
Dengan design thinking kita bisa meramalkan dan memvisualisakan masadepan lewat inovasi. Dengan demikian organisasi ataupun sebuah sekolah mampu menentukan strategi pengembangan dimasa mendatang bukan sekedar bisa menutup kekurangan dimasa kini seperti yang dianjurkan teori kendala. Selain itu dengan inovasi organisasi diharapkan mampu menciptakan pasar pasar baru dari produk produk yang baru juga dan sebuah sekolah mamapu menghasilkan best practices pendidikan dan pengajaran yang terbarukan setiap saat. Dan bahkan tidaklah sulit pemikir design untuk menciptakan model bisnis yang baru, demikin juga seorang guru dengan pemikiran design ini, tentu akan dengan mudah menemukan variasi variasi pengajaran yang baru dan bahkan terobosan baru di dunia pendidikan dan pengajaran.

Kepustakaan.
Brown, T. (2008). Design Thinking. Havard Business Review, 
Carnegie, Dale (1948), Petunjuk hidup tentram dan bahagia, Jakarta , PT Gramedia Pustaka Utama.
Dettmer, H. William. Goldratt's Theory of Constraints: A Systems Approach to Continuous Improvement. Milwaukee, WI: ASQC Quality Press, 1997.
Goldratt, Eliyahu M. (1986). The goal: a process of ongoing improvement. [Croton-on-Hudson, NY]: North River Press
Kottler, Philip (1997) ,  Manajemen Pemasaran, Jakarta , Prenhallindo PT
Pink, D.H. (2005). A Whole New Mind: berpindah dari jaman informasi menuju jaman konseptual. Jakarta. Penerbit Dinastindo

THE GREATEST LOVE OF ALL

sesekali yah kita bicarakan hal hal ringan tapi bermutu, seperti membicarakan lagu yang sangat bagus ini.


Kalau akhir akhir ini pemerintah Indonesia masih meraba raba bagaimana memberikan pendidikan terbaik bagi putra putri bangsa dengan mencoba mengeluarkan jurus pendidikan karakter dengan konsep yang tidak jelas dan juga tak dibarengi konsep implementasinya, yang membuat kebijakan itu seperti tidak menginjak tanah, di suatu tempat yang lain seorang seniman, musisi kelas dunia dari amerika malahan sudah lama menunjukkan bagaimana mendidik anak yang baik.  

 Coba simak bait bait syair lagu dibawah ini. Kalau kita cermati lagu ini mengajarkan pada kita bagaimana mendidik anak  yang benar.
Pendididkan menurut lagu ini haruslah ditujukan pada pengembangan sesutau yang ada didalam diri kita, “ Show them all the beauty they posses inside”. Inilah pendidikan karakter itu. Pendidikan karakter hanya akan berhasil bila kita “Give them a sense of pride to make it easier” membuat mereka menyadari harga dirinya. Bagaimana dengan kita? Perasaan guru guru dan orang tua indonesia lebih cenderung membuat anak menjadi robot yang penurut ketimbang jadi manusia yang punya harga diri. Bahkan ada kecenderungan harga diri siswa dihancurkan demi mereka menjadi anak yang penurut, tidak nakal.....hadewhhhh.

Selebihnya lagu ini juga mendorong untuk memberikan dan mengajarkan kemandirian pada siswa. Gagal dan berhasil tidaklah penting yang penting adalah kegagalan dan keberhasilan itu adalah hasil usahanya sendiri, dibawah keyakinannya sendiri. Kita di indonesia di negri tercinta yang korupsi sudah dilakukan seperti kita bernafas, malah masih sibuk nyari contekan dan bocoran kunci jawaban UN. Modar aku....
Cape ahhh nikmati sendiri saja yah lagunya....dan resapi maknanya. yakin...anda sebagai seorang guru akan ngerti pesan dari lagu ini





THE GREATEST LOVE OF ALL
Written by Dolly Parton/Sung by Whitney Houston

I believe that children are our future. Teach them well and let them lead the way
Show them all the beauty they posses inside. Give them a sense of pride to make it easier
Let the children’s laughter remind us how we used to be.
Everybody’s searching for a hero. People need someone to look up to
I never found anyone who fulfills my needs. A lonely place to be
And so I learned to depend on me
I decided a long ago. Never walk in anyone’s shadow
If I fail.  If I succeed.  At least I live as I believe
No matter what they take from me. They can’t take away my dignity
Because the greatest love all is happening to me. I’ve found the greatest love of all inside of me
The greatest love all is easy to achieve. Learning to love yourself.  It is the greatest love of all
And if by chance that special place that you’ve dreaming of leads you to a lonely place
Find your strength in love.

Kamis, 19 Januari 2012

Menyoal Ketidaktepatan Manajemen Pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah Kita.


Maaf rekan rekan guru semua, sudah sekian lama kami tidak menambah tulisan diblog ini, karena satu dan lain hal yang membuat menambah tulisan itu terasa berat dan tidak ada waktunya. Kali ini saya akan sempatkan berbagi pemikiran dari apa yang kita lihat sehari hari pada praktek pengajaran dan pendidikan di sekolah sekolah kita. Kali ini mari kita soroti kesalahan mendasar yang menjadi biang kerok kegagalan pengajaran Bahasa Inggris di sekolah kita.
Sebelum terlalu jauh kita membicarakan kekeliruan praktek dan kebijakan pengajaran Bahasa Inggris dan semua aspek yang terkait,  ada baiknya kita melihat dulu kondisi riil, fakta  lapangan  dan semua yang terkait dengan pengajaran Bahasa Inggris  di Indonesia. Ada beberapa fakta yang perlu kita perhatikan karena mendukung pembahasan topik yang akan kita bicarakan saat ini. Fakta fakta yang saya maksud adalah:
       Bahasa Inggris telah diajarkan disekolah sekolah di negara kita sejak th 1960an. Untuk diketahui angka tahun 1960an ini tidak penulis ketahui dengan benar. Kesimpulan ini penulis ambil dari kenyataan bahwa Bapak penulis sudah belajr bahasa Inggris sewaktu sekolah di PGA enam tahun di awal tahun 1960an. Dengan begitu bisa saja Bahasa inggris sebetulnya sudah diajarkan di sekolah jauh sebelum tahun itu.
       Lulusan SMA/SMK secara umum belum bisa  berbahasa   inggris. Tentu saja tidak semua lulusan SMA tidak bisa berbahasa inggris. Secara umum disini penulis maksudkan bahwa sebagian besar lulusan SMA/SMK tidak bisa berbahasa Inggris. Jangankan berbahasa inggris sedang untuk memperkenalkan diri dengan bahasa inggris saja mereka tidak bisa, Kebanyakan dari lulusan sekolah menengah kita hanya mampu berbahasa Inggris sebatas mengatakan “yes” dan “OK” atau “I love you” . Untuk berbica lebih dari itu mereka sama sekali tidak ada kemampuannya, sedangkan secara faktual mereka setidaknya telah belajar bahasa inggris selama 6 tahun di sekolah. Pertanyaannya kemana saja mereka itu selama enam tahun?
     Lebih parahnya lagi, kita juga menjumpai tidak banyak sarjana yang bisa berbahasa inggris. Tidak hanya lulusan sekolah tingkat atas saja yang gagal menunjukkan kemampuan berbahasa inggris, namun juga sarjana sarjana  indonesia sebagian besar juga tidak paham Bahasa Inggris walau selama  kuliah mereka bergulat dengan literatur literatur berbahasa inggris dan mereka sudah puluhan tahun berinteraksi dengan Bahasa Inggris itu sendiri.  Mengenaskan bukan?
       Kalau mau bisa berbahasa inggris harus ikut kursus. Ini merupakan fenomena yang aneh. Di sekolah mereka belajar bahasa inggris tiga sampai empat kali dalam seminggu namun kalau ingin bisa berbahasa inggris mereka harus mengeluarkan uang lebih banyak dengan mengikuti kursus bahasa inggris di lembaga lembaga kursus yang bertebaran di mana mana. Pertanyanyaannya kenapa pelajaran sekolah tidak cukup untuk membuat siswa berbicara Bahasa Inggris?
     Hanya sedikit guru Bahasa Inggris yang bisa berbahasa inggris. Ironis memang tapi ini adalah kenyataan yang kita hadapi dalam dunia pendidikan kita. Seorang guru yang mengajar Bahasa Inggris tidak mampu berbahasa inggris untuk dirinya sendiri. Hal ini bahkan bisa kita jumpai di sekolah sekolah pemerintah yang mereka sebut sebagi berstandard internasional (RSBI), tidak banyak dari guru bahasa inggris mereka yang benar benar mampu berbahasa inggris. Hal ini juga dirasakan penulis bila sedang mencari guru bahasa inggris untuk sekolah sekolah yang penulis asuh. Dari puluhan guru bahasa inggris berpengalaman yang kita wawancara belum tentu ada satu yang bagus bahasa inggrisnya. Ini fakta loh mas.... tenan kuwi…sumpah….lihat video diatas walau nampaknya guru itu mampu membawa suasana berbeda dalam pengajaran bahasa inggris, kelihatan guru ini mampu membuat kelas yang aktif belajar, tapi sebetulnya gurunya sendiri belum mampu berbahasa inggris dengan baik atau kasarnya bahasa inggrisnya masih payah.... terus bagaimana guru yang laian ?

Dengan begitu sejauh ini apa yang bisa kita katakan tentang Pengajaran Bahasa Inggris di sekolah sekolah kita? Gagal? Mengerikan? Sulit dipercaya? Mengenaskan? Atau bikin trenyuh? bapak ibu nilai sendiri sendiri saja...

Empat Kesalahan  mendasar pengajaran bahasa asing.


Nah sampailah kita pada pembahasan kekeliruan mendasar pada kebijakan pengajaran bahasa inggris disekolah sekolah Indonesia. Saat ini saya hanya soroti kesalahan kebijakan  pengajaran bahasa inggris dan  metode pengajarannya secara sekilas saja. Untuk kesalahan metode pengajaran bahasa inggris yang mendetail insyaAllah nanti saya akan bahas tersendiri.
Dari pengamatan penulis, kita bisa mendapatkan ada setidaknya empat kesalahan kebijakan mendasar  yang menjadi penyebab gagalnya upaya membuat siswa siswi sekolah kita mampu berbahasa inggris dengan baik.
  1. Ketidaktepatan  pemilihan guru
Seperti yang sudah saya singgung diatas bahwa  sekolah sekolah di Indonesia masih sering menempatkan orang yang salah sebagi guru Bahasa Inggris. Kesalahan memilih guru ini menjadikan jarang ada sekolah yang memiliki guru bahasa Inggris yang kompetensinya cukup sebagai seorag pendidik.  Fakta bahwa guru guru bahasa inggris kita ini tidak kompeten dan berkualifikasi rendah bukanlah bualan penulis sematan, Chodidjah (2000), pelatih dari British Council  juga melaporkan bahwa dari hasil penelitiannya di dapati bahwa di daerah DKI hanya 20% guru Bahasa Inggris yang benar-benar layak sebagai guru. Memang penelitianchodidjah masih terbatas di DKI, namun pertanyaanya , lha kalau DKI saja kedodoran bagaimana di daerah lain di Indonesia? Apakah tidak lebih parah, karena pada galipnya di DKI sekolah akan lebih gampang mencari guru yang bisa berbahasa inggris.

  1. Ketidaktepatan metode pengajaran
Entah memang karena gurunya yang memang tidak kompeten atau karena memang belum ada kesadaran yang mendalam pada diri guru bahasa inggris, sehingga  pengajaran bahasa inggris. hamper  seluruhnya hnya difokuskan pada upaya pembelajaran bahasa. Sehingga yang terjadi pengajaran bahasa inggris menjadi pelajarn yang mati, membosankan dan tanpa greget bahkan cenderung menjadi pelajaran yang menakutkan. Siswa bukannya diajari untuk berbicara bahas inggris tapi malah diminta untuk menghafal rumus, menghafal kosa kata yang tidak jelas kapan kosa kata itu akan berguna bagi si siswa. Jarang ada guru bahasa inggris yang penuh dengan kesadaran mengarahkan pelajaran bahasa inggrisnya pada penguasan bahasa, sehingga focus utama pengajaran adalah mengajarkan siswa untuk berbicara dengan bahasa inggris. Kalaupun toh siswa harus menghafal yang dihafal adalh ungkapan ungkapan penting yang akan mereka pakai dalam kehidupan sehari hari, bukan lagi rumus rumus tenses atau kosa kata kosa kata yang tidak jelas kegunaannya.  
Hal itu terjadi karena guru salah memilih pendekatan dalam pembelajaran bahasa inggris. Banyak guru bahasa inggris salah persepsi dalam memandang pelajaran bahasa inggris , bahasa inggris  didiajarakn dengan pendekatan pengajaran pengetahuan. Yah , guru bahasa inggris kita mengajar siswanya seakan akan bahasa inggris itu sebuah pengetahuan yang harus siswa pahami dan mengerti, sementara sesungguhnya bahasa inggris adalh sebuah ketrampilan yang harus mereka praktekkan agar terampil dalam menggunakan bahasa inggris.  Disinilah kesalahan terbesar  dalam pengajaran bahasa inggris dan titik krusial dari kegagalan pengajaran bahasa inggris di sekolah. Anak anak dipaksa memahami struktur bahasa tapi tidak pernah diminta untuk praktek bicara. Akibatnya terjadi kemandulan kemampuan bicara siswa dan kejumudan kemampuan guru bahasa inggrisnya. Kesalahn pendekatan ini pada akhirnya membuat siswa tidak pernah bisa berbahasa inggris dan gurunyanyapun setali tiga uang sudah mengajar bahasa inggris belasan tahun tapi disuruh bicara bahasa inggris masih juga gagap.  Ini semua berawal dari menempatkan bahasa inggris ebagai pengetahuan dan bukan ketrampilan. Siswa  tidak mempraktekkan Bahasa Inggris begitupun gurunya. Dua duanya tidak berkembang walau pelajarnbahasa inggris akan selalu ada. Dengan begitu, sudahilah penekanan pengajaran bahasa inggris pada pengajaran tata bahasa. Berikan siswa kosa kata dan ungkapan yg berguna dalam percakapan dan mulailah bicara. Yakinlah semuanya akan lebih baik nantinya..

  1. Ketidaktepatan Tata ruang kelas
Seperti  yang kita tahu, rata rata sekolah kita menerapkan layout ruang kelas yang sangat standard. Papan tulis dan meja guru didepan, meja dan kursi siswaberderet deret ke belakang. Sepintas memang seperti tidak ada hubungannya anatar tata letak kursi siswa dengan kemampuan berbahasa inggris, namun cobalah kita renungkan. Dengan kondisi bangku siswa yang berderet dadi kiri kekanan dan dari depan ke belakang, secara otomatis akan menempatkan guru didepan kelas berhadapan langsung dengan seluruh siswa. Kondisi seperti ini akan memaksa  guru untuk terus berkomunikasi dengan siswa, karena  sedetik juga guru tidak mengkomunikasikan sesuatu pada siswa, siswa akan kehilangan focus perhatian, dan mereka akan mulai resah dan bikin rebut suasana kelas. Hal inilah yang menyebabkan kebanyakan guru senang sekali menerangkan banyak hal dikelas dari pada mendengarkan siswa bicara. Akhirnya dikelas yang terjadi adalah cara belajar guru aktif. Gurunya terus bicara sepanjang ada dikelas dan siswanya jadi penonton yang bosan dan ngantuk. Kalau saja pengajarn bahasa inggris juga seperti ini, yang terjadi adalh bahwa siswa tidak punya kesempatan mempraktekkan ketrampilan berbahasa dan siswa tidak akan pernah paham dan ngerti cara berbicara bahasa inggris. Dan gagallah upaya pengajarn bahasa ini.
Andai saja guru kita pintar, maka lay out ruang kelas akan dipermak sehingga siswa bisa berinteraksi dengan sesame siswa, sehingga mereka bisa diskusi dan mempraktekan bahsa Inggris yang sedang mereka pelajari. Guru tidak harsu sepanjang masa berbicara, cukup menjadi fasilitator, siswa akan aktif belajar sendiri, berdiskusi dengan teman atau akan mudah mempraktekkan bahasa inggrisnya. Kedepan masihkan sampeyan mau membiarkan meja kursi berderet deret dalam kelas, tanpa greget untuk merombak layoutnya?

  1. Ketidaktepatan pemilihan buku referensi
Satu hal lagi kesalahan yang muncul dalam pengelolaan kelas bahasa inggri di sekolah. Karena minimnya pemahaman guru dan kepala sekolah tentang  pelajaran bahasa inggris, maka mereka memberikan buku referensi untuk pengajaran bahasa inggris bukan berdasarkan kebutuhan siswa tapi berdasar dari penawaran buku dari percetakan yang murah tapi discountnya besar. Dengan pemilihan buku pelajaranbahasa inggris yang model begini sering kali mengakibatkan buku pelajarn yang dipakai  tidak sesuai dengan psikologi perkembangan anak . Menurut  teori perkembangan Jean Piaget (1896–1980), ada empat tahap perkembangan pada setiap anak: - sensorimotor stage, (lahirsampai usia 2 tahun), - preoperational stage (2–8 tahun), - concrete operational stage (8–11 tahun), - dan formal stage (11–15 tahun keatas).  Buku pelajaran, dan juga buku peljaran bahasa inggris utamanya haruslah memeprhatiakn pola perkembangan anak ini, agar peljaran bisa sesuai dengan jiwa dan karakter yang sesuai dengan anaknya. Sebagai contoh, anak SD yang sedang dalam tahap concrete operational stage, buku pelajarn yang mereka perlukan adalah buku pelajarn dengan bahasan yg sesuai dalam belajar  yang  banyak ilustrasi, model, gambar, dan mendorong  kegiatan-kegiatan fisik lain. Karena pada tahap ini siswa sedang pada posisi sensitive terhadap warna, gambar dan gerak.
Untuk pembahasan lebih lanjut tentang kesalahan pemilihan buku ajar bahasa inggris ini, nanti lain waktu akan saya coba tuliskan dalam  tulisan dengan judul tersendiri.  Semoga bermaanfat bagi sampeyan ditempat kerja sebagi guru dan bermanfaat bagi saya diakhirat nanti.