Kamis, 27 Januari 2011

ESENSI PENDIDIKAN BUDI PEKERTI BAGI PENCAPAIAN INTEGRITAS DAN JATI DIRI PESERTA DIDIK




Proses pembelajaran dalam wadah formal dimulai tidak lama setelah munculnya masyarakat industri di Eropa sekitar abad 18 silam. Masyarakat Eropa saat itu beramai ramai memadati sekolah sekolah formal untuk mendapatkan pengetahuan dasar tentang tulis menulis dan administrasi agar segera dapat menyesuaikan diri dan diterima di dunia kerja yang mulai tumbuh seiring makin membesarnya kehidupan industri disana.
Di lihat dari sejarahnya, jelas sekolah bermula dari keinginan untuk mendapatkan pengetahuan tertentu saja untuk bekal mencari kerja. Disana hanya ada transfer pengetahuan (transfer of knowledge) dari pengajar ke murid yang diajar. Tapi perkembangan selanjutnya, sekolah bukan hanya tempat menimba pengetahuan, tetapi juga tempat pembentukan karakter manusia. Para ahli pendidikan dan Psikolog juga menyatakan bahkan bahwa watak dan tingkah laku manusia sangat ditentukan oleh lingkungan sekolah, disamping juga di pengaruhi linkungan keluarga dan lingkungan masyarakatnya.
Dari sudut pandang dan bahasa yang berbeda, Ian Robertson, seorang sosiolog dari University of California Los angels, menggambarkan bahwa dalam pengertian yang luas pendidikan (education) itu juga berarti sosialisasi (socialization). Ada tersirat dari pernyataan Robertson diatas bahwa sekolah bukan hanya tempat siswa belajar pengetahuan formal tapi juga tempat siswa menginternalisasikan nilai nilai, norma- norma sosial, moralitas, dan peraturan peraturan lain dalam dirinya untuk pembentukan dan pencarian jati dirinya.
Di negara kita Indonesia, bahkan telah berkembang anggapan bahwa dalam proses pembelajaran di sekolah itu ada dua proses yang berjalan simultan. Pertama adalah proses “pengajaran” dimana seorang guru mengajarkan dan mentransfer pengetahuan formal kepada para siswa sehingga siwa memiliki pengetahuan tertentu. Proses lain yang berjalan seiring adalah proses “pendidikan”, dimana seorang guru dituntut untuk mensosialisasikan nilai nilai dan norma norma sosial pada perserta didik. Sehingga seorang guru pun dianggap sangat bertanggung jawab untuk memberikan contoh yang baik tentang moralitas,. Oleh karena itu masyarakat menganggap orang terdidik bukan hanya orang yang pintar dengan pengetahuan yang banyak tetapi juga harus yang berkepribadian dengan tingkah laku yang sesuai dengan nilai nilai dan norma sosial.
Tak kurang Frans Magnis-Suseno, walau dengan bahasa yang berbeda, juga menengarai dua hal yang sama dari setiap upaya pendidikan, Untuk menggambarkan dua hasil pendidikan diatas Frans menggunakan istilah “perubahan”. Jadi menurut beliau pendidikan akan menghasilkan dua macam perubahan yaitu pertama penguasaan pengetahuan atau ketrampilan di bidang tertentu, kedua, sebetulnya mau tak mau mahasiswa sebagai manusiapun dibentuk oleh lembaga pendidikan kearah positif atau negatif.
Melihat bahwa pembentukan watak, karakter dan kepribadian manusia juga terjadi di lembaga lembaga pendidikan, maka pendidikan budi pekerti sangatlah diperlukan di semua perguruan tinggi dan lembaga lembaga pendidikan lain dibawah perguruan tinggi.
Dalam hal ini, kita memiliki setidaknya dua hal yang bisa kita berikan di setiap lembaga pendidikan. Pertama adalah pendidikan moral yang akan mendoktrinasi peserta didik tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan berdasarkan nilai nilai moral dan norma sosial lain. Kedua, kita juga bisa mengajarkan etika yang akan mengantar peserta didik untuk berfikir mandiri tentang apa dan kenapa satu hal boleh dilakukan sedangkan hal lain tak boleh dilakukan.
Untuk selanjutnya kedua ajaran itu tidak boleh begitu saja dihakimi yang satu lebih baik dari yang lain. Menurut hemat saya kedua jenis pendidikan itu perlu diajarkan dalam rangka pendidikan Budi Pekerti. Untuk tingkat pendidikan dasar dari Taman Kanak Kanak sampai dengan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas pendidikan moral lebih cocok untuk diterapkan, sebab para siswa perlu bimbingan untuk bertingkah laku. Pada tahap ini peserta didik masih belum mampu berfikir mandiri tentang baik dan buruknya suatu tindakan. Tetapi untuk mahasiswa di perguruan tinggi sudah tidak cocok lagi untuk diajari tentang dikotomi baik dan buruk. Mereka sudah harus berfikir sendiri tentang itu, oleh karena itu untuk mereka harus di berikan pelajaran etika, karena etika akan mengundang mahasiswa untuk berfikir tentang yang baik dan buruk dan mendapatkan alasan kenapa sesuatu itu baik dan kenapa yang lain buruk, dan tidak mengharuskan melakukan sesuatu seperti dalam pelajaran moral.
Etika hanya akan memberikan alat alat teoristis kepada mahasiswa untuk mencarikan alasan rasional terhadap ajaran ajaran moral yang mereka dapatkan sebelumnya. Pendek kata etika akan membantu mahasiswa mencapai kematangan intelektualitas yang akan membuat mahasiswa lebih kritis terhadap apa saja. Etika akan membantu mahasiswa untuk mengaktualisasikan dan mengintegrasikan seluruh pengalaman pengalamn hidupnya di dalam kepribadiannya. Mahasiswa akan dilatih untuk menjawab kenapa norma sosial tidak membolehkan atau membolehkan sesuatu untuk dilakukan. Dengan begitu mahasiswa akan lebih kritis dalam menanggapi segala tuntutan lingkungan yang bersifat normatif, dan mampu bersikap secara wajar terhadap hal tersebut.
Dengan begitu mahasiswa akan semakin pintar karna telah memiliki kematangan intelektualitas yang cukup. Dengan kematangan intelektualitas yang dipunya peserta didik akan lebih bersifat mandiri dan mendapatkan otonominya sebagai manusia. Mereka tidak akan mudah dipengaruhi institusi manapun diluar dirinya.
Kematangan intelektualitas mahasiswa akan memberi kemampuan pada dirinya untuk melepaskan diri dari dirinya sendiri, sehingga dia bisa melihat dirinya sebagai objek dirinya sendiri yang subjek. Dalam kondisi ini mahasiswa bisa menilai sendiri kecenderungan kecenderungan, dorongan – dorongan dalam dirinya sebagai baik atau buruk secara rasional, sehingga dia bisa menundukkan egoisitasnya dan mampu mendengarkan suara hatinya sendiri sebagai penunjuk jalannya. Dengan begitu pendidikan budi pekerti juga akan membantu peserta didik mendewasakan diri, sehingga mahasiswa akan memiliki kesadaran moral yang tinggi tentang hak – haknya dan kewjibannya sebagai individu di tengah masyarakatnya.
Selain itu pendidikan Budi Pekerti dengan landasan etika yang mantap akan menghantar mahasiswa menjadi individu yang mandiri. Bukan saja dia mampu mengendalikan dorongan dorongan egonya tapi dia bisa mempertanyakan seberapa jauh legitimasi lingkungan sekitar seperti lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan bahkan perundang undangan negara boleh menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dia lakukan. Sebagai pribadi yang mandiri, dia pertama sekali pasti akan mempertanyakan norma yang diharuskan untuk dia lakukan itu apakah bisa dipertanggung jawabkan secara nalar. Dengan begitu mahasiswa akan menjadi manusia yang punya jati diri, dia tidak akan begitu saja terhanyut mengikuti arus kehidupan dalam bermasyarakat.
Kalau mahasiswa telah sanggup menyaring seluruh tekanan, norma norma,dan nilai nilai yang datang dari luar dirinya, dan bahkan dia telah mampu menilai dorongan dorongan dari dalam dirinya sendiri sebagai dapat dan tidak dapat dipertanggungjawabkan, maka mahasiswa itu bisa dikatakan telah mencapai integritas pribadi yang utuh. Dia akan memiliki bukan saja tingkah laku, sopan santun dan kehalusan budi yang menawan tetapi juga kepercayaan diri yang luar biasa. Dialah prototipe manusia seutuhnya seperti yang dicita-citakan dalam pembangunan bangsa Indonesia sejak lama. Dan jenis manusia ini bisa kita ciptakan melalui pendidikan budi pekerti.