Sabtu, 12 Februari 2011

KEGAGALAN PENGAJARAN STRUKTUR BAHASA UNTUK MEMBUAT PESERTA DIDIK BERCAKAP BAHASA INGGRIS

(pernah dimuat di jurnal Padma th 2003)




The failure of English teaching in our country is the thing that we cannot longer denied. Our national English curriculum has failed to reach its target. No one of our students can speak English, if they only rely on the English lessons they get from formal English class. They still have to take an English course to master this language. These all troubles are caused by the facts that our national English curriculums still heavily emphasize on teaching English sentence patterns.
English teachers teach nothing but English tenses and grammars, so students only know English formally, but they don’t understand how to speak English in informal ways. As we know approaching English in formal ways will be boring and uneasy, that is why English learners will never understand English at all for mostly we use any language informally.
In this writing, writer will try to give a guidance how to put a right approach to English teachings. We cannot afford formal approach to English teaching any more. We should put language learning in its natural ways. So Students can easily learn any foreign language, especially English easily.

A. Pendahuluan.

Dengan mengasumsikan bahwa pendapat Alvin Toffler tentang pembagian tiga zaman peradaban manusia itu benar, kita saat ini telah berada pada dataran peradaban yang ia sebut sebagai era informasi.Di zaman ini, informasi hampir bisa dikatakan adalah segala-galanya. Tak perlu heran kiranya kalau tehnologi informasi berkembang sangat cepat akhir-akhir ini. Perkembangan tehnologi informasi sudah bukan lagi dalam hitungan tahun atau bulan, bahkan perkembangan tehnologi informasi boleh dikatakan bergerak dalam hitungan hari. Jadi saat kita minum kopi setelah bangun tidur esok hari, sebetulnya diluar sana sudah menunggu sebuah penemuan baru di bidang tehnolgi yang perlu segera kita kuasai atau kita akan tertinggal oleh laju perkembangannya. Informasi dengan segala macam perangkat lunak dan kerasnya akan semakin mendapatkan tempat pada hamparan peredapan manusia dengan rencana dibukanya pasar bebas dan era kesejagadan di awal abad 21 sekarang ini. Di era kesejagadan, di mana bumi ini akan menjadi semacam desa dunia, informasi akan menjadi sangat mahal dan sangat penting bagi kelangsungan kehidupan. Bahasa, sebagai tehnologi yang paling dan sangat purba, juga akan sangat berperan besar dalam perputaran roda di seluruh aspek kehidupan di era informasi dan globalisasi mendatang. Tehnologi informasi sehebat apapun tak akan berharga lebih mahal dari seonggok rongsokan besi tua kalau tak ada kemampauan berbahasa yang mendukungnya. Mungkin kenyataan inilah yang mendorong Laird (1953) mengatakan “ Tiada kemanusiaan tanpa bahasa dan tiada peradaban tanpa bahasa tulis”. Ungkapan Laird itu menunjukkan betapa besar peran bahasa dalam peradaban dan kehidupan manusia dulu, sekarang dan yang akan datang.

Tidak bisa kita ingkari, di era kesejagadan tidak hanya pasar dan informasi yang akan bersifat mondial, tapi juga bahasa yang menjadi sarana komunikasi juga harus ada yang bersifat global. Bahasa Inggris yang telah lama menempatkan diri sebagai bahasa internasional berpeluang besar menjadi bahasa global yang akan menjembatani segala macam bentuk komunikasi dan informasi. Belum lagi kekuatan Amerika yang selama beberapa dasa warsa belakangan ini mampu mendominasi perekonomian dunia makin memperkuat kedudukan Bahasa Inggris sebagai Bahasa dunia di masa-masa mendatang(Brumfit,1992). Itu berarti setiap orang didunia ini yang menginginkan akses informasi global harus menguasai bahasa Inggris.

Arti penting penguasaan Bahasa inggris, belakangan ini juga sangat di rasakan oleh para pekerja dan para pencari kerja di negara kita. Di Indonesia sekarang, Bahasa Inggris sudah menjadi tuntutan bagi para pekerja yang menginginkan jabatan yang lebih tinggi, dan untuk para pencari kerja kemampuan berbahasa Inggris adalah juga suatu keharusan kalau benar ingin memasuki dunia kerja, sebab segala macam bisnis, segala macam ilmu pengetahuan dan juga tehnologi semua dikembangkan melalui Bahasa Inggris. Lagi pula kita tak bisa menutup mata kalau hubungan antar bangsa di dunia ini di akomodasikan dengan Bahasa Inggris

Sebetulnya Bangsa Indonesia telah lama mengantisipasi dan memahami betapa pentingnya bahasa Inggris. Hal ini bisa kita lihat dari usaha pemerintah dengan memasukkan Bahasa Inggris sebagai kurikulum wajib di sekolah menengah pertama sampai di perguruan tinggi sejak tiga puluhan tahun yang lalu. Bahkan akhir akhir ini Bahasa Inggris sudah dicobakan untuk diajarkan di sekolah dasar dan taman kanak-kanak.

Usaha pembelajaran Bahasa inggris yang telah kita lakukan lebih dari tiga puluh tahun ini nampaknya sia sia kalau tidak boleh dikatakan tidah berguna. Asumsi ini didasarkan pada kenyataan bahwa usaha pembelajaran Bahasa Inggris ini mengalami kegagalan. Buktinya tidak banyak sarjana kita yang bisa berbahasa Inggris, padahal mereka rata rata telah memepelajari Bahasa Inggris lebih dari tujuh tahun.

Dengan asumsi bahwa setiap usaha untuk belajar yang diikuti metode belajar yang baik akan meningkatkan kemampuan, maka ketidakberhasilan usaha pengembangan Bahasa Inggris di negara kita ini tentu disebabkan kesalahan metode pengajaran yang dipakai selama ini. Kalau kita cermati buku-buku pelajaran Bahasa Inggris yang kita pakai di sekolah sekolah menengah dan juga apa yang di ajarkan di perguruan perguruan tinggi - dan ini tentu saja telah sesuai dengan kurikulum yang berlaku - semua dititik beratkan pada pengajaran dan pembelajaran struktur bahasa yang berupa tenses dan grammmar. Artinya metode pengajaran Bahasa Inggris dengan penekanan penguasaan pada struktur bahasa telah menjadi prioritas sistim pengajaran yang utama di negara kita selama tiga puluh tahun terakhir ini.

B. Kegagalan Pengajaran Struktur Bahasa.

Manusia, sebagai makluk sosial memerlukan wadah dan sarana untuk mensosialisasikan diri. Lingkungan kekerabatan dan lingkungan kemasyarakatan mungkin cukup sebagai wadah bagi seorang anak manusia untuk mensosialisasikan diri. Akan tetapi wadah saja belumlah cukup untuk tujuan itu, untuk mensosialisasikan diri orang perlu sarana yang mampu mengakomodasikan proses sosialisasi tersebut. Untuk sarana ini manusia perlu bahasa. Hanya simbol simbol yang terekam dalam bahasa dan kemampuan menggunakan bahasa itulah yang akan mampu membawa manusia pada tingkatan sosialisai setinggi yang dia harapkan. Semakin tinggi kemampuan dan semakin tinggi pemahaman orang terhadap bahasa semakin tinggi pula kelas sosial yang akan dia dapatkan.

Mengingat arti pentingnya bahasa bagi kehidupan manusia, maka tak heran kalau sejak masih bayi manusia sudah diajar dan belajar berbahasa. Bahasa pertama yang yang didapat atau yang lazim disebut bahasa ibu ternyata akan sangat berpengaruh pada kemampuan berikutnya untuk belajar bahasa kedua, ketiga dan seterusnya. Pola pola struktural, pola pola fungsional dari bahasa ibu akan mempermudah atau sebaliknya akan menghambat penerimaan pada bahasa kedua. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa bahasa yang memiliki banyak kesamaan dengan bahasa ibu akan cenderung mudah dipelajari. sebagai contoh anak- anak kecil yang menjadikan Bahasa Jawa sebagai bahasa ibu akan dengan mudah menyerap dan mempelajari Bahasa Indonesia di bangku sekolah. Seorang jawa yang lain akan mampu berbahasa Sunda setelah merantau ke Jakarta dan berkawan dengan seorang Sunda, meskipun, seperti yang kita ketahui, lingkungan Jakarta sama sekali tidak mendukung orang belajar berbahasa Sunda sebab semua orang berbahasa Indonesia disini. Tentu saja sebaliknya semakin banyak perbedaan antara bahasa target pembelajaran dengan bahasa pertama yang dikuasai pelajar akan semakin sulit bagi si-pelajar untuk menguasai bahasa sasaran.

Secara umum bisa dikatakan bahwa pengajaran dan pembelajaran bahasa bertujuan untuk membuat pelajar (learner) mampu berkomunikasi menggunakan bahasa target baik secara lisan maupun tulisan. Mengingat semakin banyak perbedaan bahasa target dengan bahasa ibu semakin sulit untuk mempelajarinya, banyak orang mencoba formula - formula pengajaran dan makin banyak metoda dan sistem pembelajaran bahasa yang ditemukan.

Pada prinsipnya semua orang yakin kalau pelajar (learner) sudah mampu menggunakan bentuk bentuk bahasa, kata-kata, serta ungkapan ungkapan dari bahasa terget dengan baik dan benar secara gramatikal dan mampu mengungkankan ide-idenya dengan menggunakan bahasa target secara alamiah dan apa adanya, itu berarti pelajar tersebut sudah menguasai bahasa sasaran tersebut. Bertitik tolak dari pendapat tersebut, maka pengajaran bahasa melalui pengajaran kaidah-kaidah tata bahasa menjadi kegemaran semua guru bahasa asing, utamanya guru Bahasa Inggris. Kegemaran mengajarkan struktur bahasa pada anak didik ternyata mendapatkan legitimasi, itu terbukti dengan maraknya penerbitan buku buku pelajaran Bahasa Inggris, yang sudah disesuaikan dengan kurikulum, yang penekanannya masih pada struktur bahasa.

Pembelajaran Bahasa Inggris melalui pengajaran struktur bahasanya sama sekali tidak tanpa masalah. Terlalu asyiknya sang guru mengajarka kaidah-kaidah struktural dari bahasa Inggris membuat mereka lupa bahwa mereka hanya mengajarkan bentuk bahasa dan mereka sama sekali tak pernah mengajarkan bagaimana menggunakan bahasa itu untuk bertutur kata. Yang pada akhirnya pengajaran bahasa Inggris yang sudah kita lakukan lebih dari tiga puluh tahun di Indonesia gagal total. Padahal yang terpenting dari pengajaran bahasa adalah kemampuan pelajar untuk menggunakan bahasa target dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Kenyataan bahwa sebetulnya bukan struktur bahasa yang diperlukan oleh pelajar tetapi bagaimana menggunakan bahasa tersebut pernah juga diutarakan oleh seorang pakar kebahasaan, Chomsky (1965), yang menyatakan :

It would not be at all surprisingly to find that normal language learning requires use of language in real life situation in some way”.

Pendapat yang hampir senada juga disampaikan seorang ahli kebahasaan berkebangsaan Amerika Serikat Bloomfield (1942). Bloomfield berpendapat bahwa pengetahuan tentang struktur bahasa sangat menolong sekali dalam pembelajan bahasa, tetapi pengetahuan ini tak akan ada gunanya bila pelajar bahasa tidak melatih bentuk bentuk bahasa tersebut berulangkali sehingga pelajar mampu membangun kalimat kalimat sebagai suatu kebiasaan tanpa harus berfikir dulu.

Kelemahan pengajaran struktur bahasa guna menciptakan pengguna bahasa yang baru adalah ketidak mampuan pengetahuan struktur bahasa untuk mengungkapkan bahwa setiap kalimat bisa mempunyai makna yang berbeda-beda pada setiap situasi yang berbeda dan pada kontek situasi sosial berbahasa yang tidak sama. Selain itu teori struktural bahasa juga tidak menyediakan pengetahuan bahwa setiap makna kebahasaan bisa diungkapkan dengan tindak bahasa yang berlainan. Dalam hal ini Gleason (1961) pernah mengatakan:

A grammar might be written to account for what people actually do say in probable situation, but this would not really be a grammar at all, but accomplete account of the environment and culture of the people.

Gleason disini lebih jauh mengungkapkan perlunya pemahaman budaya dari masyarakat pengguna bahasa sasaran untuk bisa benar menguasai bahasa yang dipelajari, selain dia juga mengakui bahwa situasi dan lingkungan di mana kita berbicara menentukan pola dan bentuk serta model ungkapan yang kita perlukan untuk bercakap yang mana ini semua tak akan mampu diterangkan dengan metode pengajaran struktur bahasa kepada para pelajar.

C. Kelemahan Pengajaran Struktur Bahasa.

Seperti yang telah kita pahami tujuan pengajaran bahasa adalah untuk membuat pelajar memahami bahasa target, dalam arti mampu mengartikulasikan pikiran dan angannya dalam bentuk ucapan maupun tulisan, dengan baik. Karena pikiran dan angan manusia secara simbolis sebetulnya tersimpan dalam makna bahasa, maka tugas utama pelajar bahasa sebetulnya adalah belajar menggunakan makna makna bahasa dan bukan struktur bahasa.walau perlu diakui tabpa pengetahuan struktur bahasa orang juga tak bisa mengungkapkan sebuah makna dengan baik.

Dalam mempelajari makna bahasa ini , setidaknya secara psikologis , seorang pelajar bahasa harus menguasai empat makna utama bahasa yaitu makna bahasa sebagai simbolisasi ungkapan tentang persepsi, perasaan, rasio, dan keinginan.(Nababan).

Peran persepsi dalam psikologi bahasa adalah untuk menuntun penutur bahasa dalam mengungkapkan pengetahuan atau ketidaktahuannya tentang sesuatu. Perasaan adalah media expresi tentang suka dan tidak suka. Sedangkan rasio akan memunculkan ungkapan tentang setuju atau tidak setuju dan keinginan adalah wahana ungkapan tentang mau dan tidak mau. Ke empat makna bahasa ini adalah dasar utama dari psikologi berbahasa, tanpa kemampuan mengungkapankan empat karakter dasar makna bahasa tersebut orang tidak akan mampu berbahasa dengan baik. Dan pemebelajaran bahasa adalah upaya untuk membuat pelajar mampu menangkap dan mengungkapkan keempat makna dasar bahasa tersebut.

Tugas berat mengajarkan empat makna dasar bahasa ini tentu saja tidak pernah tersentuh sama sekali dalam pengajaran struktur bahasa di dekolah sekolah. Dan inilah awal dari seluruh kegagalan pengajaran struktur bahasa untuk membuat peserta didik memahami bahasa sasaran.

Kelemahan lain dari pengajaran sruktur bahasa adalah ketidaksadaran para pengajar bahasa bahwa setiap kalimat sebetulnya memiliki dua struktur, seperti yang diungkapkan Chomsky dalam kecamannya terhadap golongan strukturalis. Menurut Chomsky setiap kalimat memilik struktur luar (surface structure) yaitu pola dan struktur lahiriah dari sebuah kalimat yang kedengaran dan bisa dilihat, selain itu ada struktur dalam (deep structure) yaitu bentuk kalimat yang mendasari timbulnya makna kalimat tersebut. Contoh klasik yang ditawarkan chomsky adalah:

(1) John is eager to please

(2) John is easy to please.

Meskipun kedua kalimat diatas memiliki struktur luar yang sama tetapi keduanya memiliki struktur dalam yang berbeda. Oleh karena itu makna dari kalimat itupun tidak bisa berada pada rel yang sama. Kalimat pertama artinya “ John ingin sekali menyenangkan (orang lain)” tapi kalimat yang kedua artinya “ John mudah untuk disenangkan (oleh orang lain)”, dan bukan berarti “John mudah menyenangkan( orang lain)” seperti arti struktur kalimat pertama.

Kalimat yang memiliki makna ganda juga bisa menjelaskan bedanya antara struktur luar dan struktur dalam, misalnya:

“My father asked me to stop working at noon” .

Kalimat ini memang memiliki satu struktur luar namun seseungguhnya memiliki dua struktur dalam. Karena kalimat itu bisa mendua arti. Pertama kalimat tersebut bisa diartikan “ Bapak meminta saya berhenti bekerja pada siang hari”, tapi bisa juga diartikan “ Bapak meminta saya menghentikan pekerjaan (yang dilakukan orang lain) di siang hari”. Oleh sebab para strukturalist hanya memperhatikan struktur luar, mereka tak bisa menjelaskan kalimat yang bermakna ganda atau pun yang memiliki struktur dalam yang berbeda. Ketidaktahuan ini dan ditambah kebingungan para pelajar ketika mendapati sebuah gagasan yang harus diungkapkan dengan struktur tertentu yang belum pernah dipelajari akan membuat pelajar kebingungan dalam berbahasa.

Dengan demikian pengajaran bahasa target termasuk juga pengajaran bahasa Inggris yang terfokus pada pengajaran struktur bahasa telah gagal membuat pelajar paham bahwa struktur bahasa yang sama dengan kalimat yang sama akan memiliki arti yang berbeda bila berada pada situasi dan kondisi percakapan yang berbeda seperti contoh diatas. Selain itu pengajaran struktur bahasa juga tidak mampu menginformasikan bahwa satu ide yang sama bisa diungkapkan dengan kalimat dan struktur bahasa yang berlainan. Sebagai contoh; kita bisa mengatakan “Do you understand?”, “Do you know what I mean?” atau “Have you got it? Dalam bahasa Inggris untuk menggantikan “Apakah kamu mengerti?” dalam bahasa Indonesia.

Atau kita bisa menjawab dengan, “it’s OK. Just go ahead”, It’s no matter, help yourself” atau It’s OK. Be my guest” untuk pertanyaan “ Boleh pinjam telfonnya?” yang oleh pengguna bahasa Indonesia hanya akan dijawab; “Boleh, silahkan!”

Yang Lebih naif dari itu semua, ternyata pengajaran struktur bahasa tidak menjamin peserta didik mampu membawa dirinya berfikir secara bahas inggris ketika mereka berbicara bahasa Inggris. Ada pengalaman pribadi yang pernah penulis alami. Waktu itu seorang teman penulis mencoba mempraktekkan Bahasa Inggrisnya kepada penulis dengan mengatakan; “ I buy a newspaper first, yes?” Tentu saja kalimat ini sangat menggelikan bagi pembicara Bahasa Inggris. Karena susunan kalimat seperti ini tak dikenal dalam Bahasa Inggris. Kalimat diatas sebetulnya kalimat Bahasa indonesia dengan kata kata Inggris, karena sebetulnya kawan ini mengatakan “ Saya beli Koran dulu, ya?

Sebuah candaan yang tenar di tahun 80an dimana orang mengatakan “ I do not know what what” untuk menggantikan “ saya tidak tahu apa apa” dalam Bahasa Inggris juga mengisyaratkan bahwa belajar bahasa asing memerlukan lebih dari sekedar pelajaran grammmar, dan struktur bahasa.

D. Kesimpulan.

Kegagalan pengajaran bahasa asing utamanya Bahasa Inggris merupakan akibat dari kesalahan persepsi kita tentang pelajaran bahasa. Selama ini kita memandang pengajaran bahasa itu sama saja dengan pengajaran ilmu ilmu lainnya. Kita tidak menyadari bahwa bahasa bukanlah sebuah ilmu tapi lebih dekat ke sebuah ketrampilan. Seperti layaknya sebuah ketrampilan, bahas tidak harus dipelajari secara text book dan teoritis tapi harus dengan cara di praktekkan. Dalam hal ini, menurut Austin dan Searle dua orang pakar bahasa yang mendukung teori tindak bahasa (Speech acts theory), ada tiga ketrampilan yang harus dikuasai seorang pelajar bahasa. Dalam berbahasa manusia sebetulnya melakukan tiga tindakan (acts) sekaligus, yaitu:

(1) tindak lokusi, yaitu bahwa pembicara menggambarkan suatu hal, misal ; “Bapak itu mengajar Bahasa Inggris” . dalam kalimat ini pembicara telah membagi kalimat menjadi tiga bagian, “Bapak Itu” adalah subjek kalimat, “mengajar” sebagi predikat dan “Bahasa Inggris” adalah Objeknya.

(2) tindak ilokusi, yaitu mengidentifikasikan kalimatnya sebagai suatu tindakan tertentu, misal: pernyataan, ajakan, suruhan, pertanyaan, tanggapan dan sebagainya. Contoh; “Saya lapar” adalah sebuah pernyataan, “ Ayo makan!” adalah ajakan, “ Makanlah yang banyak, jangan malu malu” adalah upaya menyuruh orang lain, “ Rendang ini bumbunya apa?” adalah tindakan bertanya, dan “ Mana aku tahu?” adalah sebuah tanggapan.

(3) Tindak perlokusi, adalah upaya memahami tanggapan lawan bicara terhadap kalimat yang diucapkan pembicara tergantung situasi dan kondisi saat kita bicara. Misal saja kta mengatakan “ Sudah jam sembilan”. Bagi kita yang menanyakan informasi tentang waktu tentu kalimat itu hanya sekedar pernyataan yang menggambarkan kenyataan. Tapi bagi seorang perjaka yang sedang apel ke rumah pacar kalimat itu bisa berarti “ Ini sudah malam tolong kamu pulang saja”, atau lebih kasarnya kalimat itu berari pengusiran secara halus.

Ketiga tindakan ini adalah ketrampilan yang harus di pelajari bagi pelajar bahasa asing, dan ketrampilan ini tak akan didapat hanya dengan belajar struktur bahasa. Dengan demikina bagi pengajar bahsa asing perlu memperhatikan ketiga ketrampilan itu dalam pembuatan SAP (Satuan Acara Pengajaran) maupun kurikulum pengajaranya.

Daftar Pustaka

Austin, J.L. How to Do Things with Words, New York, OUP 1962.

Bloomfield, Leonard, Outline Guide for The practical Study of Foreign languages, Baltimore,1992.

Brunfit, CJ, “ From Defining to Designing: Communicative Specifications Versus Communicatives Methodology in Foreign language teaching” dalam Muller (ed) The foreign language Syllabus and communicative Approaches to Teaching: Proceeding of a European-American Seminar. Special Issue of Studies in second Language Acquisation, 3(1): 1-9. 1980.

Chomsky, Naom, Syntatic Structure.: Mouton, The Haque, 1965.

Gleason,Jr, H.A. An Introduction to Descriptive Linguistics, New York: Holt, Rinehart and Winston, 1955.

Laird, Charlton, The Miracle of Languages, Greenwich, Connecticut: Fawchet Publication, Inc. 1960.

Nababan, Sri Utari Subyakto, Psikoliguistik dan Pembelajaran Bahasa: Tinjauan Perspektif Ketrampilan Berbahasa, dalam Parameter: Aspek Aspek Bahasa, tahun XI.

Searle, John, Speech Acts: An Eassy in Philoshopy of language, Cambrige: CUP 1969.