Kamis, 27 Januari 2011

ESENSI PENDIDIKAN BUDI PEKERTI BAGI PENCAPAIAN INTEGRITAS DAN JATI DIRI PESERTA DIDIK




Proses pembelajaran dalam wadah formal dimulai tidak lama setelah munculnya masyarakat industri di Eropa sekitar abad 18 silam. Masyarakat Eropa saat itu beramai ramai memadati sekolah sekolah formal untuk mendapatkan pengetahuan dasar tentang tulis menulis dan administrasi agar segera dapat menyesuaikan diri dan diterima di dunia kerja yang mulai tumbuh seiring makin membesarnya kehidupan industri disana.
Di lihat dari sejarahnya, jelas sekolah bermula dari keinginan untuk mendapatkan pengetahuan tertentu saja untuk bekal mencari kerja. Disana hanya ada transfer pengetahuan (transfer of knowledge) dari pengajar ke murid yang diajar. Tapi perkembangan selanjutnya, sekolah bukan hanya tempat menimba pengetahuan, tetapi juga tempat pembentukan karakter manusia. Para ahli pendidikan dan Psikolog juga menyatakan bahkan bahwa watak dan tingkah laku manusia sangat ditentukan oleh lingkungan sekolah, disamping juga di pengaruhi linkungan keluarga dan lingkungan masyarakatnya.
Dari sudut pandang dan bahasa yang berbeda, Ian Robertson, seorang sosiolog dari University of California Los angels, menggambarkan bahwa dalam pengertian yang luas pendidikan (education) itu juga berarti sosialisasi (socialization). Ada tersirat dari pernyataan Robertson diatas bahwa sekolah bukan hanya tempat siswa belajar pengetahuan formal tapi juga tempat siswa menginternalisasikan nilai nilai, norma- norma sosial, moralitas, dan peraturan peraturan lain dalam dirinya untuk pembentukan dan pencarian jati dirinya.
Di negara kita Indonesia, bahkan telah berkembang anggapan bahwa dalam proses pembelajaran di sekolah itu ada dua proses yang berjalan simultan. Pertama adalah proses “pengajaran” dimana seorang guru mengajarkan dan mentransfer pengetahuan formal kepada para siswa sehingga siwa memiliki pengetahuan tertentu. Proses lain yang berjalan seiring adalah proses “pendidikan”, dimana seorang guru dituntut untuk mensosialisasikan nilai nilai dan norma norma sosial pada perserta didik. Sehingga seorang guru pun dianggap sangat bertanggung jawab untuk memberikan contoh yang baik tentang moralitas,. Oleh karena itu masyarakat menganggap orang terdidik bukan hanya orang yang pintar dengan pengetahuan yang banyak tetapi juga harus yang berkepribadian dengan tingkah laku yang sesuai dengan nilai nilai dan norma sosial.
Tak kurang Frans Magnis-Suseno, walau dengan bahasa yang berbeda, juga menengarai dua hal yang sama dari setiap upaya pendidikan, Untuk menggambarkan dua hasil pendidikan diatas Frans menggunakan istilah “perubahan”. Jadi menurut beliau pendidikan akan menghasilkan dua macam perubahan yaitu pertama penguasaan pengetahuan atau ketrampilan di bidang tertentu, kedua, sebetulnya mau tak mau mahasiswa sebagai manusiapun dibentuk oleh lembaga pendidikan kearah positif atau negatif.
Melihat bahwa pembentukan watak, karakter dan kepribadian manusia juga terjadi di lembaga lembaga pendidikan, maka pendidikan budi pekerti sangatlah diperlukan di semua perguruan tinggi dan lembaga lembaga pendidikan lain dibawah perguruan tinggi.
Dalam hal ini, kita memiliki setidaknya dua hal yang bisa kita berikan di setiap lembaga pendidikan. Pertama adalah pendidikan moral yang akan mendoktrinasi peserta didik tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan berdasarkan nilai nilai moral dan norma sosial lain. Kedua, kita juga bisa mengajarkan etika yang akan mengantar peserta didik untuk berfikir mandiri tentang apa dan kenapa satu hal boleh dilakukan sedangkan hal lain tak boleh dilakukan.
Untuk selanjutnya kedua ajaran itu tidak boleh begitu saja dihakimi yang satu lebih baik dari yang lain. Menurut hemat saya kedua jenis pendidikan itu perlu diajarkan dalam rangka pendidikan Budi Pekerti. Untuk tingkat pendidikan dasar dari Taman Kanak Kanak sampai dengan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas pendidikan moral lebih cocok untuk diterapkan, sebab para siswa perlu bimbingan untuk bertingkah laku. Pada tahap ini peserta didik masih belum mampu berfikir mandiri tentang baik dan buruknya suatu tindakan. Tetapi untuk mahasiswa di perguruan tinggi sudah tidak cocok lagi untuk diajari tentang dikotomi baik dan buruk. Mereka sudah harus berfikir sendiri tentang itu, oleh karena itu untuk mereka harus di berikan pelajaran etika, karena etika akan mengundang mahasiswa untuk berfikir tentang yang baik dan buruk dan mendapatkan alasan kenapa sesuatu itu baik dan kenapa yang lain buruk, dan tidak mengharuskan melakukan sesuatu seperti dalam pelajaran moral.
Etika hanya akan memberikan alat alat teoristis kepada mahasiswa untuk mencarikan alasan rasional terhadap ajaran ajaran moral yang mereka dapatkan sebelumnya. Pendek kata etika akan membantu mahasiswa mencapai kematangan intelektualitas yang akan membuat mahasiswa lebih kritis terhadap apa saja. Etika akan membantu mahasiswa untuk mengaktualisasikan dan mengintegrasikan seluruh pengalaman pengalamn hidupnya di dalam kepribadiannya. Mahasiswa akan dilatih untuk menjawab kenapa norma sosial tidak membolehkan atau membolehkan sesuatu untuk dilakukan. Dengan begitu mahasiswa akan lebih kritis dalam menanggapi segala tuntutan lingkungan yang bersifat normatif, dan mampu bersikap secara wajar terhadap hal tersebut.
Dengan begitu mahasiswa akan semakin pintar karna telah memiliki kematangan intelektualitas yang cukup. Dengan kematangan intelektualitas yang dipunya peserta didik akan lebih bersifat mandiri dan mendapatkan otonominya sebagai manusia. Mereka tidak akan mudah dipengaruhi institusi manapun diluar dirinya.
Kematangan intelektualitas mahasiswa akan memberi kemampuan pada dirinya untuk melepaskan diri dari dirinya sendiri, sehingga dia bisa melihat dirinya sebagai objek dirinya sendiri yang subjek. Dalam kondisi ini mahasiswa bisa menilai sendiri kecenderungan kecenderungan, dorongan – dorongan dalam dirinya sebagai baik atau buruk secara rasional, sehingga dia bisa menundukkan egoisitasnya dan mampu mendengarkan suara hatinya sendiri sebagai penunjuk jalannya. Dengan begitu pendidikan budi pekerti juga akan membantu peserta didik mendewasakan diri, sehingga mahasiswa akan memiliki kesadaran moral yang tinggi tentang hak – haknya dan kewjibannya sebagai individu di tengah masyarakatnya.
Selain itu pendidikan Budi Pekerti dengan landasan etika yang mantap akan menghantar mahasiswa menjadi individu yang mandiri. Bukan saja dia mampu mengendalikan dorongan dorongan egonya tapi dia bisa mempertanyakan seberapa jauh legitimasi lingkungan sekitar seperti lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan bahkan perundang undangan negara boleh menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dia lakukan. Sebagai pribadi yang mandiri, dia pertama sekali pasti akan mempertanyakan norma yang diharuskan untuk dia lakukan itu apakah bisa dipertanggung jawabkan secara nalar. Dengan begitu mahasiswa akan menjadi manusia yang punya jati diri, dia tidak akan begitu saja terhanyut mengikuti arus kehidupan dalam bermasyarakat.
Kalau mahasiswa telah sanggup menyaring seluruh tekanan, norma norma,dan nilai nilai yang datang dari luar dirinya, dan bahkan dia telah mampu menilai dorongan dorongan dari dalam dirinya sendiri sebagai dapat dan tidak dapat dipertanggungjawabkan, maka mahasiswa itu bisa dikatakan telah mencapai integritas pribadi yang utuh. Dia akan memiliki bukan saja tingkah laku, sopan santun dan kehalusan budi yang menawan tetapi juga kepercayaan diri yang luar biasa. Dialah prototipe manusia seutuhnya seperti yang dicita-citakan dalam pembangunan bangsa Indonesia sejak lama. Dan jenis manusia ini bisa kita ciptakan melalui pendidikan budi pekerti.

Rabu, 26 Januari 2011

LIMA PULUH LIMA ATURAN YANG HARUS DILAKSANAKAN GURU UNTUK DISIPLIN KELAS


Bagi yang ingin jadi guru yang dihormati siswa dan orang tuanya, professional dalam berkarya dan matinya naik surge baca dulu ini sebelum masuk kelas….

Yang perlu diingat oleh seorang guru adalah bahwa siswa hanya bisa belajar dengan baik bila ruang kelas mereka terasa AMAN dan NYAMAN. Baik siswa maupun orang tua siswa sangat mengharapkan sebuah ruang kelas yg teratur baik untuk belajar siswa itu sendiri atau untuk putra putrinya. Karena ruang kelas yg tertata dan teratur dengan baik bisa menumbuhkan rasa aman dan nyaman dalam belajar bagi siapa saja. Berikut ini adalah aturan yang akan membantu guru mengatur dan menata ruang kelasnya sehingga menjadi ruang kelas yg tertata dan teratur dengan baik.

1. Mulailah hari pertama mengajar dengan penuh semangat, antusias dan terencana. Artinya seorang guru selain harus punya niatan yang kuat dan tulus untuk mengajar, guru juga harus sudah siap dengan kurikulum, silabus dan RPP.
2. Ingatlah semua orang bisa belajar hanya pada kondisi yang terasa aman dan nyaman. Jadi jangan buat siswa merasa takut di dalam kelas anda karena siswa kan kehilangan perasaan aman dan nyamannya.
3. Siapkan metode metode belajar yang bervariasi agar siswa tidak bosan di dalm kelas. Jangan gunakan cara belajar yang monoton karena akan membuat siswa bosan dan ngatuk.
4. Kalau siswa sudah kelihatan capai, ajaklah berdiri dan pimpinlah gerak badan ringan didalam kelas, agar aliran darah ditubuh siswa lancar lagi dan pasokan oksigen ke otak bertambah dan lancar. Karena aliran darh yang lancar dan pasokan oksigen yang cukup diotak akan memudahkan siswa berfikir dan mengerti apa yang diajarkan oleh guru.
5. Mulailah tahun pelajaran yg akan berjalan ini dengan sebuah rencana kedisiplinan kelas yg sudah terpikirkan secara matang. Sebelum sekolah dimulai carilah dan pikirkan prosedur kedisiplinan yg bisa dipakai di kelas. Pakailah ide ide baru yg bisa didapatkan dan catatlah semua prosedur yg bisa dijalankan pada tahun tahun lalu dan tahun tahun mendatang.
6. Buatlah peraturan kelas bersama siswa, biarkan siswa membuat aturan mereka sendiri, agar mereka tidak merasa dipaksa untuk menjalankan aturan itu. Usahakan aturan tidak lebih dari lima hal agar mudah diingat dan mudah dijalankan.
7. Buatlah aturan kelas itu jelas dan dalam kalimat yang positif. Hindarkan kalimat negatif seperti: “ Dilarang/tidak boleh berisik dalam kelas” tapi gunakan kalimat “Semua siswa harus tenang”. Kalimat bernada positif dimaksudkan untuk menunjukkan tingkah yang bisa diterima di dalam lingkungan kelas. Sementara kalimat yang melarang harus dihindari agar siswa tidak merasa tertekan dan tidak menerti apa yang harus dilakukan.
8. Jangan lupa lima komponen aturan sekolah. Aturan sekolah haruslah:
a. adil
b. konsisten
c. tidak melanggar kehormatan dan pribadi seseorang
d. bisa dimengerti
e. bisa dilaksanakan.
9. Jangan pernah tidak memperhatikan ruang kelas. Beradalah di ruang kelas kalau siswanya sudah datang/ berada di ruang kelas.
10. Tidak semua kenakalan siswa perlu ditanggapi, menanggapi semua kenakalan siswa hanya akan buang buang waktu percuma dan kelas malah akan semakin ribut. Karena sebagian kenakaln siswa hany bermaksud memancing perhatian guru. Jangn ikuti permaian mereka.
11. Tanggapi kenakalan siswa yang :
a. Membahayakan siswa itu sendiri
b. Membahayakan siswa lain atau orang lain disekitarnya
c. Bisa merusak fasilitas sekolah.
d. Merugikan orang lain secara materi
e. Menggangu kepentingan orang atau siswa lain.

12. Jadilah guru yg bisa dipercaya dan konsisten dengan apa yg sudah diucapkan. Kalau seorang guru sudah mengatakan akan melakukan sesuatu, lakukan kalau tidak nanti tidak akan pernah dipercaya siswa.
13. Hargai setiap siswa. Aturan dan hukuman, bentakan dan caci maki kepada siswa tak akan pernah bisa menggantikan kebaikan dari rasa kasih sayang dan saling menghargai.
14. Ingatlah bahwa bentakan dan caci maki akan menimbulkan trauma psikologis pada siswa dan guru yang mencaci itu sendiri. Dan semua bentuk trauma itu akan mengganggu proses belajar.
15. Atur dan susunlah tempat duduk siswa jangan atur siswanya, karena siswa pasti duduk di tempat duduk, sementara kalau yang diatur siswanya akan terjadi keributan dalam kelas.
16. Pengaturan tempat duduk harus mencerminkan keperluan untuk belajar siswanya bukan untuk pidato gurunya. Karena yang akan belajr adalah siswa bukan guru.
17. Pengaturan tempat duduk juga harus memberi ruang dan memudahkan guru untuk memberi pengawasan dan berjalan keliling kelas untuk mendekati semua siswa.
18. Jangan pernah menganakemaskan salah satu siswa. Karena guru tugasnya adalah mengajar dan mendidik semua siswa bukan menciptakan piaraan dalam kelas.
19. Jangan pernah memakai pisau lipat sebagai gantungan kunci, gantungan HP atau asesoris lain. Sebab siswa bisa saja memakainya sebagi senjata untuk menyerang orang lain, sebagai guru anda akan ketiban apes karena harus bertanggungjawab dan pasti akan disalahkan dalam hal ini.
20. Bila guru terpaksa memakai alat alat yang bermata tajam seperti gunting, pisau, steppler, jarum dst tolong selalu dijaga dan jauhkan dari jangkauan siswa, atau kalau terpaksa siswa sendiri yang menggunakan peralatan itu maka guru harus memeberikan pengawasan yang ketat agar peralatn itu tidak melukai atau dipakai melukai siswa.
21. Jangan pernah ijinkan salah satu siswa bersembunyi dari anda (tidak ikut pelajaran, sembunyi diluar) atau sembunyi dibalik temannya yg berbadan besar ( di dalam kelas).
22. Pilihlah secara ketat permohonan permohonan siswa untuk keluar ruangan yang akan anda iyakan.
23. Gunakan suara anda untuk mengontrol tingkah laku siswa. Oleh karena itu guru harus mengembangkan nada suara yg kuat yg akan bisa dipahami oleh siswa.
24. Pengaturan kelas harus mendukung pengontrolan tingkah laku. Pisahkan siswa dari teman teman kelompoknya dan baurkan siswa itu dengan teman sekelas lainnya.
25. Siapkan pengaturan tempat duduk yg konsisten. Jangan ijinkan ada pengelompokan siswa hanya pada sudut tertentu di ruang kelas.
26. Tunjukkan bahwa nggak ada toleransi pada tingkah laku yg menyimpang di kelas anda. Jangan kasih hati pada siswa yang suka mengumpat dan berkata kotor di dalam kelas dan lingkungan sekolah.
27. Jangan pernah mencoba berbicara saat siswa siswa lagi pada ngobrol. Jangan mencoba membenamkan suara siswa dengan suara anda. Dijamin tidak akan pernah berhasil. Yang ada malah anda malu sendiri karna tidak didengar. Dan lama kelamaan kewibawaan anda bisa tergadai. Oleh karena itu diamkan dulu semua siswa baru anda bicara.
28. Kembangkan rutinitas dengan siswa, contoh” kalo mau bicara mau tanya siswa harus angkat tangan dulu”. Kalau proses ini tidak dijalankan maka sesi tanya jawab akan menjadi sesi kekacauan. Karena pertanyaan dan jawaban siswa yg tidak teratur dan tidak pada saat dan sikap yg tepat.
29. Lakukan pengawasan melekat kalo siswa berhubungan dengan sesuatu yg panas, tajam, dan berbahaya.
30. Semua hal yang dilakukan guru harus bermakna, karena siswa itu belajar makna makna. Sehingga semua hal yang dilakukan guru terhadap siswa harus ad tujuannya untuk pengajaran dan pendidikan. Jangan melakukan hal yg tidak bermakna misalnya; mengajak siswa becanda yg berlebihan, atau menghukum siswa dengan menulis sebuah kalimat berulang ulang sampai puluhan kali atau menyuruh berdiri siswa didepan kelas karena siswa tersebut menggangu temannya.
31. Tindakan guru terhadap siswa dianggap bermakna apabila dengan tindakan itu siswa bisa belajar tentang:

• Mengenal diri dan orang lain (understanding her/himself and others)
• Ketrampilan berkomunikasi (communication skills)
• Kemampuan berbaur dengan yang lain (how to get along with others)
• Belajar untuk belajar (Learning to learn)
• Membuat keputusan dan memecahkan masalah (making decision and problemsolving)
• Mengatur (managing)
• Kerja kelompok ( organizing)
• Kepemimpinan (leadership)
• Moralitas dan sopan santun (morality)
• Alam dan lingkungan hidup (environment)
• Pengembangan diri dan pembentukan karakter diri(character building)
• Toleransi
• Mengembangkan rasa tanggung jawab dan berjiwa kesatria (responsibility)

32. Jangan mentolerir dan tentu guru juga tidak boleh melakukan sikap yg merendahkan, penghinaan atau pelecehan. Semangat untuk saling menghargai dan menjaga baik pada diri dan orang lain maupun pada sarana dan prasarana sekolah harus ditumbuhkan.
33. Tempatkan siswa yg punya potensi melakukan tingkah laku yg kurang pas disekitar tempat duduk anda. Buatlah anak anak dengan kecenderungan bertingkahlaku menyimpang 100% sibuk selama guru mengajar.
34. Jangan biarkan siswa membawa pistol air, bola, gambar atau alat permaianan lain ke dalam kelas dan jangan izinkan siswa makan atau minum dikelas selama pelajaran.
35. Jangan pernah meninggalkan siswa dengan pekerjaanya diluar jangkauan pengawasan. Guru tidak boleh meninggalkan kelasnya, kalo terpaksa libatkan guru lain untuk menggantikan berada di dalam kelas.
36. Jangan pernah biarkan siswa tidak mencatat apa yg anda jelaskan dan terangkan di depan kelas.
37. Tetapkan batas toleransi yg kokoh dan konsisten. Karena siswa akan menguji guru dan menekan guru sampai sejauh yg mereka bisa untuk menentukan batas tingkah laku yg bisa mereka lakukan terhadap guru.
38. Jika ada sekelompok siswa masuk kelas dengan suara keras uring uringan. Tenangkan mereka dan suruh mereka letakkan kepala diatas meja didepan mereka, hal ini akan menenangkan mereka dan mengurangi kebisingan.
39. Hidupkan kemampuan management anda, agar mampu bereaksi secara spontan dengan respon yang tepat terhadap kesalahan tingkah laku, situasi salah urus, dan mengurangi tingkat kebisingan.
40. Sanksi yg anda berikan harus menyiratkan keadilan dengan sanksi sanksi lain yg pernah diberikan sebelumnya.Kalau terlalu sering terjadi keributan, cobalah dilihat dan dievaluasi lagi strategi pendisiplinan yg sudah di punya.
41. Skorsing dan bentuk hukuman lain sering berujung pada tuntutan hukum, berhati hatilah.
42. Jika memberi hukuman pada satu kesalahan, besok lagi ada yg melakukan kesalahan yg sama haruslah diberi sanksi yg sama. Agar siswa melihat keadilan dalam kelas dan peraturan kelas dipatuhi.
43. Hukuman keras pada siswa sebetulnya kurang efektif bagi siswa yg dihukum, sebaliknya malah akan memberi rasa takut pada siswa lain. Lingkungan sekolah yg penuh rasa takut bukanlah lingkungan yg baik untuk belajar. Di beberapa sekolah sudah tidak diijinkan lagi ada hukuman seperti itu.
44. Kalau mengkoreksi hasil test di kelas, janganlah diberikan satu persatu ketika selesai dikoreksi. Berikan hasil koreksi itu bersamaan, agar tidak menimbulkan keributan.
45. Jangan izinkan ada siswa berdiri didepan meja guru tanpa kepentingan, karena akan disusul siswa yang lain dan terjadi keributan didepan meja guru. Siswa tang dibelakang akan ikut ribut dan kelas tidak terkontrol.
46. Bila ada masalah dengan siswa harus segera diselesaikan saat itu juga, penundaaan penyelesaian masalah akan berdampak pada kurang efektifnya penyelesaian masalah yg ditetapkan.Bila pengaturan disiplin siswa diluar kelas kurang baik, maka akan berdampak buruk pada tingkah laku siswa di dalam kelas. Oleh karena itu kedisiplinan siswa harus dijaga baik di dalam maupun diluar kelas.
47. Ingatlah kalau masalah besar yg terjadi pada siswa hari ini tak akan terjadi esok hari. Jadi jangan terbawa emosi.
48. Pelaksanaan disiplin kelas yg terbaik akan muncul jikalau anda punya pemahaman yg mendalam tentang siswa siswi anda. Perlu diingat anak anak sekarang rata rata memiliki beban mental dan psikological dari rumah dan dari masyarakatnya.
49. Selalu ingat bahwa orang akan bersikap, bertindak dan bereaksi secara berbeda ketika mereka di dalam suatu kelompok dan ketika mereka sendirian. Oleh karena itu tehnik pendisiplinan yg tepat pada saat seorang siswa sendirian belum tentu tepat bagi siswa yg sama pada saat siswa itu berada di dalam lingkungan teman temannya.
50. Ruang kelas sekarang lebih bervariasi jenis etnisitasnya, kebudayaannya, pandangan hidupnya, agamanya dst. Guru diharapkan mampu mengembangkan sensitifitas terhadap perbedaan perbedaan itu.
51. Semakin terorganisir suatu kelas akan semakin disiplin kelas itu, semakin anda antusias dalam mengajar, semakin antusias juga siswa mendengarkan.
52. Jangan menaruh gelas minuman sembarangan di dalam kelas, siswa bisa menambahkan sesuatu ke minuman anda.
53. Memang benar seharusnya ada kebijakan disiplin yang disetujui semua orang disetiap sekolah. Namun anda tidak bisa juga berharap bahwa semau guru setuju semua hal yg anda mau.
54. Hadapi siswa dengan kelembutan seorang ibu atau ayah. Mereka masih memerlukan perhatian dan kasih sayang, bukan bentakan.
55. Ingatlah Mereka dititipkan orang tuanya untuk dididik bukan untuk dibentak bentak dan diajari kebencian cacimaki dan kata kata kasar.

Profil pelajar yang seharusnya dihasilkan semua sekolah



Profil pelajar ini saya ambilkan dari profil pelajar yang digariskan IBO (international baccalaureate organization)tahun 2005. beginilah profil pelajar yang akan dibangun oleh sekolah sekolah bertaraf internasioanl itu. kita coba bukan untuk mencontek tapi marilah kita belajar juga dari mereka.

Tujuan dari seluruh program program IB adalah untuk mengembangkan manusia manusia berwawasan internasional yang menyadari hakekat kemanusian secara umum dan mau bersama sama menjaga planet (bumi) ini, serta mampu menciptakan dunia yang lebih baik dan lebih damai.

Pelajar pelajar IB akan berusaha menjadi:

1. Tukang tanya
Mereka berusaha mengembangkan keingintahuan alamiah mereka. Mereka mendapatkan ketrampilan ketrampilan yang diperlukan untuk selalu bertanya dan melakukan penelitian serta menunjukkan kemandirian dalam belajar. Mereka secara aktif menikmati (proses) belajar, dan kesukaan untuk belajar ini akan berlanjut sampai akhir hayat mereka.

2. Berpengetahuan luas
Mereka menjelajahi seluruh konsep, gagasan, dan isu isu yang memiliki arti penting baik secara local maupun global. Dalam pelaksanaannya mereka akan memperoleh pengetahuan yang mendalam dan mengembangkan pemahaman dari berbagai macam disiplin yang luas dan seimbang.

3. Pemikir
Mereka melatih inisiatif penggunaan kemampuan kemampuan berfikir mereka secara kritis dan kreatif untuk memahami dan mendekati permasalahn permasalahan yang rumit guna membuat keputusan yang etis dan masuk akal.

4.Komunikator handal
Mereka mengerti dan mampu mengungkapkan gagasan serta informasi secara kreatif dan percaya diri dengan menggunakan lebih dari satu bahasa dan dalam berbagai macam bentuk komunikasi. Mereka akan bekerja secara efektif dan mau bekerjasama dengan orang lain.

5.(Orang yang) berpendirian
Mereka bertindak dengan integritas dan kejujuran, dengan ketulusan (fairness) yang tinggi, keadilan dan hormat terhadap harga diri dan kebanggaan individu, kelompok, maupun masyarakat. Mereka bertanggung jawab atas tindakan tindakan mereka dan juga akibat yang ditimbulkannya.

6. Berwawasan terbuka
Mereka memahami dan menghargai kebudayaan dan sejarah pribadi mereka sendiri dan mereka juga terbuka pada pandangan, nilai nilai, tradisi orang ataupun masyarakat lain. Mereka terbiasa dengan pencarian dan evaluasi terhadap berbagai sudut pandang, dan mau berkembang berdasarkan pengalaman.

7. Perhatian
Mereka menunjukkan empati, keharuan dan hormat terhadap keperluan dan perasaan orang lain. Mereka memiliki komitmen pribadi untuk melayani dan mereka bertindak untuk membuat perubahan perubahan positif bagi kehidupan orang lain maupun bagi lingkungan.

8. Penantang Resiko
Mereka mendatangi keadaan (situasi) yang tak mereka mengerti dan ketidakpastian dengan berani dan dengan pikiran kedepan. Mereka memiliki semangat kemandirian untuk mengekplorasi peran-peran baru, gagasan gagasan barudan strategi strategi baru. Mereka berani dan mampu berbicara jelas dalam mempertahankan keyakinan mereka.

9.Seimbang
Mereka mengerti pentingnya keseimbangan intelektualitas, keseimbangan fisik, dan keseimbangan emosional untuk menggapai kesejahteraan pribadi baik bagi mereka sendiri maupun untuk orang lain

10. Reflektif
Mereka mempertimbangkan masak-masak proses pembelajaran dan pengalaman mereka. Mereka mampu menilai dan mengerti kekuatan serta keterbatasan mereka guna mendukung pembelajaran dan perkembangan pribadi mereka sendiri.

Jumat, 14 Januari 2011

MENGGANGGU TEMAN (BULLYING)

Salah satu kenakalan siswa yang harus dihadapi, dipahami dan kemudian diselesaikan oleh seorang guru adalah gangguan seorang siswa terhadap siswa yang lain yang oleh orang yang berbahasa Inggris disebut bullying. Bullying ini bisa terjadi dalam bentuk yang beraneka ragam, mulai dari sekedar mengejek dengan kata kata, memepermalukan didepan umum, mempermainkan, merampas kemerdekaan, mengancam (intimidasi), menyakiti secara fisik, sampai pada pemerasan dan pemalakan. Kalau melihat ada tanda tanda adanya hal hal tersebut diatas seorang guru harus cepat bertindak untuk melindungi dan menyelamatkan baik korban maupun pelakunya. Ingat seorang guru harus merangkul keduanya, baik korban maupun pelakunya, karena gurulah yang berkewajiban mencegah adanya bullying dan melindungi siswa dari tindak kejahatan seperti itu. Guru harus memberi perhatian baik pada pelaku maupun korban dengan adil dan proporsional..

Hal hal yang perlu dipahami dari bullying.

1. Dalam penanganan bullying guru tidak boleh memihak pada pelaku maupun pada korban. Kedua belah pihak sebetulnya bermasalah secara psikologis. Oleh karena itu penanganan bullying harus menyeluruh yang melibatkan pelaku maupun korbannya. Secara umum orang akan lebih mudah melihat bahwa pelaku bullying itu bermasalah dan perlu ditangani, namun sebetulnya korbanpun bermasalah, karena ibarat singa, pelaku bullying pasti akan memilih korban yang lemah. Dan kelemahn korban inilah yang jadi masalah dan perlu penangan yang profesional dari gurunya
2. Tingkah laku anak sebetulnya cerminan dari apa yang mereka rasakan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Seorang anak yang bahagia dan merasa nyaman akan terlihat dari tingkah laku dan bahasa tubuhnya. Begitu juga anak yang merasa tidak bahagia, tersisih dan terancam akan terlihat jelas pula dari tingkah lakunya. Seorang guru yang profesional, akan segera mengenali ciri ciri tingkah laku itu dan segera berbuat sebelum ada kejadian.
3. Ingatlah anak nakal itu tidak pernah ada yang ada adalah anak yang kurang kasih sayang dan perhatian. Semua kenakaln siswa bermula dari rasa tidak disayang dan tidak diperhatikan. Kenakalan siswa adalah undangan terbuka bagi seorang guru untuk memberikan perhatian dan kasih sayang yang tulus pada si anak. Dengan begitu menangani anak “nakal” dengan cara kasar, membentak, menghardik dan menghukum tidak akan pernah efektif dan bahkan akan menambah si anak bertambah kurang ajar, karena harapan si anak belum kesampaian yaitu mendapatkan kehangatan perhatian dan perlindungan dari orang dewasa.
4. Keinginan untuk menggangu teman (orang lain) sebetulnya bermula dari pengalaman disakiti oleh pihak lain. Kebanyakan anak yang menggangu dan menyakiti temannya adalh anak yang sebelumnya telah pernah disakiti oleh teman yang lain, saudara, keluarga atau orang tua mereka sendiri. Rasa sakit akibat perlakuan orang lain itu mendorong anak untuk balas dendam atau mencari teman (korban) untuk merasakan penderitaan yang sama seperti yang mereka telah rasakan. Oleh karena itu guru tidak boleh menambah luka pada pelaku bullying dengan perkataan dan perlakuan yang kasar.
5. Kebahagian pengganggu atau pelaku bullying adalah ketika dia berhasil membuat takut, nangis dan menderita korbannya. Pada saat itu pelaku merasa dia berada diatas angin, merasa jagoan dan merasakan bahwa harga dirinya terangkat naik. Dengan begitu jelas bahwa pelaku bullying rata rata adalah orang yang memiliki pandangan buruk terhadap dirinya sendiri atau orang yang rendah diri. Oleh karena itu tugas guru adalah mengembalikan kepercayaan diri pelaku bullying, bukan memarahinya. Memarahi pelaku hanya akan menambah dedam kesumat dihati. Dendam yang makin besar dihati akan mendorong perbuatan yang makin brutal.
6. Rasa sakit yang ada pada hati anak seperti yang saya sebutkan di no. 4 tidak selamanya karena anak ini pernah dicaci maki, dihinakan, diancam, diomeli, ditampar ataupun karena pernah dipalak atau dijadikan korban secara fisik, tapi rasa sakit hati pada diri anak bisa timbul saat si anak merasa tidak diacuhkan, dikucilkan, tidak diperhatikan atau dijadikan korban secara psikis. Oleh karena itu guru wajib menyelami kondisi kejiwaan siswa dan bertanya “ apa sih yang sesungguhnya kamu alami anakku?”
7. Penanganan yang tepat pada pelaku bullying bukan hanya mencegahnya melakukan tindakan itu lagi, tapi juga melindungi dia dari perlakukan seperti itu dari pihak lain, termasuk dari gurunya sendiri.

Ingin lebih jelas? ingin bantuan untuk memberi pemahaman pada seluruh anggota sekolah tentang hal ini? training tentang bullying atau yang lebih luas tentang behaviour management sudah kami siapkan untuk sekolah atau guru guru anda. hubungi kami.

CLASSROOM MANAGEMENT (Manajemen Ruang Kelas)

Berbicara tentang pendidikan, satu hal yang pasti kegiatan belajar mengajar tidak akan berjalan baik pada lingkungan ataupun ruang kelas yang tidak tertata rapi, kacau dan tidak disiplin. Oleh karena itu merupakan suatu kleharusan bagi seorang guru untuk memahami cara menciptakan lingkungan belajar yang baik bagi siswa siswinya. Usaha ini memrlukan kematangan dan kemampuan guru untuk mengendalikan kelas. Bagaimanapun juga baik siswa maupun orang tuanya sangat menghargai dan bahkan menginginkan sebuah ruangan belajr yang tertata rapi terorganisisr sengan baik untuk mereka dan atau anak anak mereka belajar. Dari sinilah ati penting dqri classroom amanagemnt itu muncul.

Gagasan pokok manajemen kelas

Konsep pokok mamnajemen kelas adalah serangkain usaha untuk menciptakan dan mengendalikan kondisi kelas dan lingkunagnnya menjadi tempat yang terorganisisr dengan baik dan tepat sehingga mampu mencipta sebuah atmosfir belajar mengajar yang kondusif, nyaman dan aman bagi semua siswa yang memiliki bermacam macam karakteristik yang berbeda. Pada prinsipnya manajemn kelas memiliki tiga unsur yang harus dikembangkan yaitu:

1. Seni menagajar, yang didalamnya terdiri dari metode pengajaran, manajemen tingkah laku, dan kebutuhan khusus dalam rangka pengajaran.
2. Pengorganisasian kelas, dan
3. kerja sama anatar guru dan orang tua.

Mengingat begitu luasnya cakupan manajemn ruang kelas ini, maka tidak semua unsure akan kita bicarakan disini, Bahkan untuk manajemen kelas dan metode pengajaran masih biasa dbagi bagi lagi menjadi beberapa sub bab yang masing masing bias dibicarakan pada waktu lain secara khusus. Dalam Tulisan ini saya hanya kan mengulas sedikit mengenai pengaturan kelas, dan kaitannya dengan kerjasama dengan orang tua siswa.

Persiapan sebelum mengajar.

Mengajar yang oleh sebagian guru dianggap mudah dan dilakukan sambil lalu saja sebetulnya sama kompleks nya dengan mengatur sebuah perusahaan besar. Perusahaan yang dikelola dengan sambil lalu saja, kalaupun tidak segera bangkrut dan mati, perusahaan itu pasti akan sulit berkembang.Demikian juga dengan mengajar siswa dikelas, kalau proses beljar mengajarnya dilakukan sambil lalu saja, tanpa persiapan dan rencana yang m,emadahi maka hasilnyap[un tidak akan masksimal. Murid akan merasa jenuh, bosan, guru kehabisan bahan ajar, kebingungan. Ujung dari kebingungan guru akan timbul kegelisahan pada diri siguru, hilang kendali diri, cemas and marah pada siswa untuk menutupi ke “bego” annya. Kelas akan berjalan kacau, pelajarn tidak efektif. Pada titik ini guru ini bear benar sudah mengalami kebangkrutan total. Pada jam pengajaran berikutnya seluruh siswanya sudah malas unruk masuk kelas, mereka bosan bahkan sebelum melihat batang hidung si guru. Guru ini hopeless. Tak bias diandalkan.

Untuk menghidari hal tersebut guru harus memiliki persiapan yang matang jauh jauh hari sebelum kelas pertama dibuka. Langkah langkah persiapan yang harus ditempuh seorang guru adalah sebagai berikut:

• Pahami kurikulum dan struktur kurikulum yang diberlakukan disekolah. (seharusnya ada pelatihan khusus mengenai hal ini)
• Cari dan persiapkan sumber sumber yang sesuai dengan kurikulum tersebut.
• Buat urutan dan kerangka pembelajran yang tepat dan struktur dari bahan ajar yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
• Tuamgkan kerangka pembelajaran itu dalam sebuah struktur perencanaan belajar mengajar yang detail. Mulai dari rencana tahunan, semester, Silabus, RPP (seharusnya ada pelatihan khusus mengenai hal ini)
• Buatlah RPP harian yang detail, mulai dari pembukaan kelas sampai kelas ditutup lagi. Rencanakan apa yang akan dilakukan setiap menit yang anda akan lalui di dalam kelas.
• Tentukan alat Bantu yang tepat untuk membuat siswa mengerti.

Permulaan Mengajar.

Permulaan mengejar adalah tahap yang paling krusial dan menentukan sukses tidaknya anda dalam proses KBM satu semester yang akan anda hadapi. Oleh karena itu sebagai seorang guru sampeyan harus:

1. Memulai KBM dengan baik.

Jangan pernah dating terlambat ke kelas, persiapkan dan periksa ulang sumber sumber dan peralatan Bantu sebelum dating ke kelas. Karena kalau anda dating terlambat atau persiapan tidak maksimal, mungkin sampeyan akan merasa grogi, cemas atau bingung ,yang mana kecemasan sampeyan akan membuat sinyal negatif yang akan ditangkap siswa dan sionyal itu akan membuat mereka tidak menaruh hormat dan tidak percaya pada sampeyan. Hal ini akan membuat sampeyan makin cemas, kehilangan kontrol diri, dan marah. Kelas kacau. Murid tidak acuh pada gurunya, sampeyan akan jadi bahan ejekan dan bulan bulana siswa. Kelas sangat ribut tak terkendali. Sampeyan gagal.

2. Gunakan bahasa tubuh yang baik.

Bahasa tubuh yang yang baik sangat penting untuk memulai pelajaran. Dengan bahasa tubuh yang pas, sampeyan akn kelihatan berwibawa didepan siswa siswa sampeyan dan lebih dari itu dengan bahasa tubuh yang pas, sampeyan pun akan kelihatan lebih pintar dan sangat meyakinkan didepan siswa siswi sampeyan. Dengan beguitu pada saat pertama datng sampeyan telah langsung memenagkan kelas dan berhasil memulai pelajaran dengan mendapatkan hormat dari siswa sisi di kelas itu. Oleh karena itu tolong perhatikan hal hal berikut:

• Kontak mata
• Tegakkan kepala anda.
• Berdirilah dengan tegak.
• Gunakan isyarat tangan seluruhnya, jangan hanya menggunakan telunjuk saja di dalam kelas.
• Senyumlah dan perlihatkan ketenagan anda.
• Gunakan suara yang sedang jangan terlalu keras, ataupun terlalu lembut. Suara harus jelas.

3. Antusias.

Banyak guru yang tampil sangat kaku di depan kelas, sedikit sekali ekspresi wajahnya, gerakaknnya kaku seperti robot. Sikap ini akan dibaca siswa sebagi ketidakpedulian guru terhadap siswanya, oleh karena itu respon mreka pun akan seimbang. Mereka juga tidak mau peduli dan tidak akan ambil pusing pada guru dan apa yang diajarkannya.
Tapi ada juga guru yang tampil sebaliknya, guru jenis ini akan tampil dengan muka yang melas, takut, senyumnya hambar (cengar cengir, cengingas cengingis bahsa gunung kidulnya). Sikap seperti ini menunjukkan ketidakpercayaan pada diri sendiri, respon siswa yang akan didapat dari guru model ini adalah ketidak hormatan dan ketidak patuhan siswa. Sebagai guru sampeyan tidak akan dianggap oleh siswa sampeyan. Sampeyan insyaAllah akan dilecehkan dengan sikap yang demikian. Oleh karena itu tunjukkan antusiasme sampeyan pada pada iswa pada saat KBM. Sebagi seorang guru sampeyan dituntut untuk mampu menjadi:
• Penjinak singa.
• Seorang aktor
• Seorang Entertainer
• Seorang badut.
• Seorang pejalan tali.
• Juga dituntut untuk menjadi kamus, ensiklopedia, navigator, pemimpin, polisi dll.

4. Terfokus pada tugas

Anda harus selalu ingat bahwa sampeyan dibayar untuk menjadi GURU yang bertugas untuk Mengajar. Tugas sampeyan adalah memaksimalkan KBM. Untuk hal ini gunakan startegi yang berbeda beda.agar siswa tidak bosan dengan cara pengajarn yang itu itu saja. Ingat, jangan sampai sampeyan terpeleset dan mengerjakan tugas lain selain mengajar. Oleh karena itu upaya jangan sampai sampeyan terkecoh upaya siswa untuk mengalihkan perhatian anda dari tugas mengajar yang sampeyan emban. Kalau sekiranya sampeyan menyimpang ke arah pembicaraan lain selain mengajar, maka harus segera pegang kendali kelas dan kembali lagi ke tugas sebagi guru untuk mengajar. Ingatlah sampeyan adalh manajer kelas itu. Keputusan ada ditangan sampeyan.

5. Tetapkan Aturan

Untuk memebantu sampeyan mengatur kelas, anda harus menetapkan aturan aturan kelas yang dibuat secara demokratis bersma naggota kelas yang lain. Atruan kelas ini penting untuk dibuat bersma siswa dengan demokratis, agar siswa merasa dihormati dan terbangkitkan rasa harga dirinya sehingga mereka diharapkan bisa mematuhi aturan yang ada dengan suka rela, yang nota bene aturan buatan mereka sendiri.
Perlu diperhatikan dalam membuat aturan kelas hinari penggunaan kata “jangan”, “ dilarang”, “tidak boleh” dan kata kata sejenisnya.

6. Persiapkan bahan ajar dan peralatan yang diperlukan.

Hal ini sangat penting agar kita bias mendpatkan situasi beajar seperti yang kita rencanakan dan yang kita inginkan.

Kerjasama dengan Orang Tua Siswa

Pendididkan pada dasarnya bukan hanya didapat siswa dari sekolah saja, tapi juga dari lingkungan masyarakat dan lingkugan keluarga. Oleh karena itu, untuk dapat mencapai manajemen kelas yang bagus, kerja sama antara guru dengan orang tua perlu dilakukan demi suksesnya KBM dan keberhasilan siswa itu sendiri. Beuk kerjasama bias bermacam macam tapi pada dasarnya adalah upaya untuk mengendalikan tingkah laku siswa itu sendiri baik di dalam kelas, di sekolah maupun di masyarakat dan di dalam keluarga. Karena siswa tidak akan berhasil bila hanya terkendali tingkah lakunya dis ekolah, sedangkan di masyarakat dan di lingkungan kerluarga mereka tak ada yang mengendalikan.

Sembilan hal penting yang harus diperhatikan seorang guru yang baik:

1. Menetapkan hak, tanggungjawab dan aturan main didalam kelas secepatnya.
2. Mengatur rencana tempat duduk, jangan mengatur muridnya.
3. meminimalisir rasa malu dan permusuhan.
4. maksimalkan cara cara demokratis untuk memperbesar plihan pilihan bagi siswa.
5. Mengembangkan dan menjaga sikap saling menghormati didalam kelas.
6. Humor boleh, tapi hati hati dengan humor yang anda lontarkan.
7. Bersahabatlah denga siswa tapi jangan jadi teman sebaya mereka.
8. Konsisten dengan apa yang anda katakann
9. Jalinlah hubungan yang baik dengan rekan sekerja, bagian administrsi dan orang tua siswa.

Ingin yang lebih lengkap dan lebih jelas? agar guru tidak salah berbuat dan bertindak dalam kelas, dan agar tujuan pendidikan dan pengajaran berhasil? hubungi kami, kami sudah siapkan pelatihan spesial bagi guru dan sekolah yang ingin maju dan berdiri terdepan.

Penghinaan 2

Beberapa hari yang lalu saya melihat sebuah ANGKOT yang melewati jalur Tangerang- Serpong, dengan tulisan besar besar di kaca belakang ” NO BODY IS PERFECT”. Bagi orang lain angkot maupun tulisannya mungkin terasa biasa biasa saja, tapi bagi saya tulisan itu cukup menggelitik pikiran. Tulisannyanya memang hanya jargon biasa yang bisa kita jumpai pula di tas sekolah, di buku buku dan mungkin juga di kamus Bahasa Inggris. Sedemikian umum dan seringnya kita melihat tulisan dengan bunyi yang seperti itu hingga kita tak pernah ambil peduli dan juga tidak pernah menyangkal makna dari tulisan itu. Itu artinya kita telah secara aklamasi menerima gagasan bahwa manusia itu tak ada yang sempurna .
Namun anehnya kenapa juga masih ada orang yang menghina dan meremehkan orang lain hanya lantaran orang itu memiliki satu atau dua kelemahan dan kekurangan? Bukannya semua orang memiliki kekurangan maupun kelemahan? Lalu siapa sih sebetulnya orang yang suka menghina dan melecehkan orang lain hanya karena kekurangan yang diberikan oleh Allah padanya? Apakah dia dari golongan makluk kekasih Allah yang padanya tidak diberikan sedikitpun kelemahan dan mereka bergelimang dengan kesempurnaan? Ah, tentu tidak ada makluk semacam itu. Lalu siapkah mereka?
Coba kita tengok dulu cara pandang kita sebagai manusia tentang keberadaan kita di muka bumi ini. Secara psikologis kesadaran manusia mengenai keberadaanya di dunia ini akan diikuti oleh keinginannya untuk mendapatkan pengakuan orang lain atas keberadaannya itu. Untuk menpatkan pengakuan ini ternyata tidak mudah, karena manusia pada umumnya tidak tertarik pada yang biasa biasa saja apalagi pada yang kurang. Oleh karena itu manusia mulai berlomba untuk mengejar superioritas diri demi untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Masing masing orang ingin menjadi yang terhebat dan tak terkalahkan. Kita semua berlomba. Berlomba merebut perhatian orang lain. Yang badanya besar mengembangkan kekuatan ototnya, yang indah parasnya memamerkan kecantikannya, yang mendapatkan berkah kekayaan dalam hidup memggunakan hartanya untuk menjadi manusia super, yang otaknya encer akan pamer kepintarannya didepan khalayak dan seterusnya. Siang dan malam kita mencoba menunjukkan kehebatan dan sekaligus menyembunyikan dalam dalam kelemahan kelemahan kita untuk sekedar mendapatkan stempel ”diakuai”, berapapun dan apapun ongkosnya.. Duit dan harta bisa kita hamburkan, nyawa kadang kita pertaruhkan, jurang curam kita turuni, sungai ganas kita seberangi, pecahan kaca pun kita makan, minyak campur api kita semburkan dengan mulut kita. Itu semua kita lakukan hanya untuk mendapatkan decak kagum dan tepuk tangan, tak kurang tak lebih. Bodoh benar kita ini.
Bagi yang berhasil menyedot perhatian publik akan merasakan kepuasan bathin yang cukup untuk tetap mempertahankan hidup dengan bahagia. Orang yang berhasil ini tak akan merasa rendah diri, akan selalu merasa berguna, dan merasa diterima di tengah masyarakat. Mereka hidup senang dan tak peduli lagi dengan kekurangan kekurangan orang lain. Orang yang cantik wajahnya tak perlu lagi menghina hidung pesek orang lain untuk mendapatkan perhatian. Kecantikannya sudah cukup untuk menarik perhatian orang lain. Orang kaya tak usah repot repot mengumpat orang lain dengan kata ”dasar kere” untuk menunjukkan bahwa hartanya banyak, toh orang lain sudah mengakui bahwa dia memang berada. Pendeknya orang yang sudah menang dalam menggapai superioritas tak akan perlu lagi untuk mencela orang lain. Orang yang otaknya encer tak perlu lagi bertingkah yang aneh aneh ataupun menghina orang lain untuk mendapatkan perhatian publik, karena orang yang pintar akan selalu dihormati dan diperlukan oleh orang lain sesuai kapasitas kepintarannya.
Itu artinya orang yang suka mencela, menghina, melecehkan orang lain adalah orang orang yang sesungguhnya kalah, yang tersingkir secara sosial, yang gagal mendapatkan pengakuan dari orang lain dan yang tentu banyak kekurangannya.
Orang orang gagal seperti ini merasa perlu menghina dan mengejek orang lain untuk dua alasan: Pertama, Orang yang lemah, orang yang gagal, orang yang tak berdaya, orang yang tak punya banyak kelebihan akan merasa sedih, hidupnya pengap, jenuh, merasa tersingkir dan terasing karena tak banyak orang yang mau ”mengganggap”-nya. Dalam kekalutan hidup yang mungkin rasanya seperti dalam neraka itu, mereka tak ingin sendiri. Mereka berusaha mencari teman senasib. Dengan mengumpat, menghina dan mencela orang lain, sebetulnya mereka hanya akan mencoba mencari teman sambil mengingatkan bahwa si orang lain ini senasib dengan dia. Jadi seakan akan orang ini mengatakan ” eh bibir monyong, kamu itu jelek sama seperti aku yang juga jelek”. Oleh sebab itu umumnya orang yang pincang menghina yang giginya tongos, yang giginya tongos menghina yang matanya juling, yang miskin hidup pas pasan melecehkan yang mlarat dst. Percayalah yang wajahnya cantik semua orang suka sama dia tak akan sempat menghina dan mengatai orang yang bibirnya sumbing.
Kedua, dengan menghina dan mengatai orang lain dengan kekurangan dan kelemahannya, orang yang kalah ini bisa membohongi diri seakan akan dia orang yang berkasta tinggi. Begitu mulut melepaskan kata hinaan pada orang lain, orang yang kalah ini merasa sekan akan dia lebih baik dari orang lain, dia merasa jadi orang yang super, merasa jadi yang paling jago dan hebat. Dia hidup dalam mimpi, karena pada kenyataanya sama saja dia dengan yang dihina, sama lemahnya, sama hinanya, sama bodohnya. Atau bahkan bisa jadi yang dihina itu lebih baik dari yang menghina.. Jadi tak salahlah bila embah embah kita dulu menciptakan peribahasa yang berbunyi, ” Kuman diseberang lautan nampak, gajah dipelupuk mata tak nampak”. Orang hanya bisa melihat kekurangan orang lain. Sekecil apapun kekurangan dan kelemahan orang lain, kita bakalan tahu, tapi kekeurangan yang sangat besar dan fatal pada diri sendiri biasanya tak akan pernah disadari.

Leadership life skills di dalam pelajaran sekolah.

Jawaban dari pertanyaan mengapa kita perlu mengajarkan leadership life skills pada para siswa kita adalah bahwa saat kita ingin hidup aman dan nyaman dan berguna bagi bagi masyarakat sekitar, kita harus mampu menolong diri sendiri dan menolong orang lain serta menolong masyarakat kita untuk bisa menggapai tujuan tujuan hidupnya. Ketrampilan dan kemampuan yg diperlukan untuk menanggungjawabi tindakhan tindakan pribadi dan kelompokuntuk menggapai tujuan bersamam itulah yg disebut leadership life skills. Dan ketrampilan ini perlu sekali diajarkan karena ketrampilan ini bukan Sesutu yang memang sudah ada pada diri setiap manusia.
Pengajaran dan pengarahan siswa pada ketrampilan memimpin ini dimaksudkan untuk pembentuakan karakternya, meningkatkan kompetensinya, dan mengkokohkan rasapercaya dirinya.

Menurut The Illinois 4-H Project, ada 7 komponen ketrampilan kepemimpinan yang harus dikuasai siswa yaitu
(1) understanding one-self and others,
(2) communicating,
(3) getting along with others
(4) learning to learn,
(5) making decision,
(6) managing,
(7) working with groups.

Dan untuk memberikan landasan yg mantap serta menghilangkan keraguan akan berhasil tidaknya upaya untuk menanamkan jiwa kepemimpinan ini kepada peserta didik ada beberapa hal yang harus kita pegang sebagai sebuah keyakinan diantaranya adalah :
(1) kemampuan memimpin ini diperlukan oleh setiap orang,
(2) kepemimpinan itu bisa dipelajari melalui praktik dan pengalaman,
(3) kepemimpinan itu sebetulnya hanyalah pola hubungan antar manusia,
(4) kepemimpinan yang tepat itu tidak ada teorinya semua ditentukan oleh situasi dan kondisi.


Sikap sikap dan nilai apa saja yang perlu ditumbuhkan pada diri peserta didik terkait dengan upaya kita sebagi pendidik untuk menanamkan jiwa kepemimpinan pada siswa siswa kita?

Dibawah ini saya akan coba gambarkan unsur unsur Leadership life skills beserta nilai, kemampuan dan sikap yang diperlukan:


1. Understanding oneself and others
(Mengenal diri sendiri, memahami orang lain, empati, konsep diri, kepekaan nurani, nilai nilai, tujuan hidup, stress management, kehidupan spiritual)

2. Communicating
(Kemampuan mendengar, kemampuan bicara, komunikasi non verbal, menulis, ekspresi diri, kial tubuh)

3. Getting along with others
(Perhatian pada sesame. Empati, kemampuan bergaul, menerima orang lain apa adanya, curhat, bekerja sama dalam teamwork)

4. Learning to learn (Kreatifitas, pencarian sumber sumber informasi, mengorganisir informasi, kemampuan bertanya, kemauan berexperimen, mengajar, belajar, pola dan tehnik belajar)

5. Making decision
(Identifikasi masalah, sumber informasi, pengumpulan informasi, goal settings, pengumpulan alternatives, process pengambilan keputusan, mendefinisikan masalah)

6. Managing
(Time management, pengorganisasian, tujuan, perencanaan, supervise, pengontrolan, refleksi, evaluasi, mobilisasi)

7. Working with group (Kerja sama, penyampaian informasi, komunikasi, feedback, kebutuhan kelompok, kebutuhan individual, lingkungan , motivasi, saling menghormati)

Ingin tahu cara memasukkan nilai nilai kepemimpinan itu ke dalam pelajaran sekolah tanpa harus merusak dan mengganggu jalannnya pelajaran yg sudah direncanakan guru, ingin tahu bagaimana menjadikan nilai nilai kepemimpinan itu sebagai muatan pendidikan di sekolah tanpa merusak RPP dan silabus yang sudah ada dan menjadikannya hanya sebagi kurikulum tersembunyi (hidden curriculum)????
cepat hubungi kami, kami akan ajarkan pada guru guru diseluruh indonesia bagaiman menjadikan semua muridnya calon pemimpin handal...

PENGHINAAN


Baru saja ada seorang guru yang menceritakan kalau anak didiknya agak sulit diatur dan motivasi belajarnya rendah. Setelah ditelusuri oleh guru BP-nya sebenarnya siswa ini memiliki intelegensia yang cukup tinggi, walau hasil belajarnya jelek. Siswa underachiever seperti ini memang sering terjadi di semua sekolah. Bagi sekolah atau guru yang kurang jeli melihat hal seperti ini biasanya bukan menolong si siswa tapi malah akan memojokkan siswa sampai pada tarap yang tanpa disengaja menghancurkan masa depannya.
Namun guru yang satu ini agaknya lain dari yang lain, karena dia mampu menelusuri dan mengetahui bukan saja IQ-nya anak bermasalah ini tinggi, tapi juga mampu meraba kenapa anak ini tidak bisa mencapai nilai maksimal yang sebetulnya bisa dia dapatkan dengan mudah. Guru ini dengan sangat bangga bercerita bahwa dia sanggup mendeteksi penyebab siswanya tidak bisa belajar maksimal. ” Ternyata anak ini tidak bisa menerima dirinya sendiri” terangnya dengan bahasa yang agak berbau psikologis yang aku sebetulnya agak tidak paham. Guru ini menerangkn panjang pendek tentang siswanya yang tidak bisa menerima dirinya sendiri itu. Katanya siswa ini merasa gendut dan berwajah jelek, dia malu dengan keadaannya. Dia ingin sembunyi dari semua orang. Dia tidak PD( percaya diri) sehingga dia gerah berada dilingkungan teman temannya. Akibatnya siswa ini tidak bisa konsentrasi belajar dan bahkan tidak mau belajar sama sekali, terlebih lagi tanpa mengerti akibatnya temen temennya memanggil dia ”gendut”, maka makin hancurlah sisi psikologis anak ini. Sementara aku terbengong bengong tidak mengerti, ada banyak lagi hal yang bu guru ini sampaikan pada saya tentang siswanya tersebut yang semuanya tidak sepenuhnya aku pahami.
Hal dahyat yang tidak aku mengerti adalah kekuatan yang ada pada kata ”gendut” yang dilontarkan teman temannya pada siswa tersebut. Kata itu kalau ditulis, ya cuma pendek saja, dikatakanpun ringan saja. Tetapi ternyata daya rusaknya luar biasa. Kalau disimpulkan dari keterangan bu guru itu, kata itu mampu menghancurkan masa depan banyak orang. Bayangkan saja kalau siswanya bu guru itu benar gagal dalam hidup karena kata ”gendut” itu, bukankah anak keturunan dia juga ikut sengsara, begitu juga orang tua dan saudara saudaranya bisa saja ikut terciprat kesengsaraan akibat kegagalan siswa itu. Hal ini benar benar sebuah bencana bagi sekumpulan besar orang dan penyebabnya hanya kata ”gendut” tidak lebih. Dahsyat bukan?
Jauh jauh hari sebelum kita semua menyadari efek psiokologis dari kata ejekan seperti, ”gendut” dan lain sebaginya, Alqur’an telah memperingatkan kita tentang hal ini pada Surat Al Hujarat (49) Ayat 11 yang kira kira artinya:
Hai orang orang yang beriman, janganlah suatu kaum memperolok olokan (menghina) kaum yang lain, barangkali (kaum yang lain) itu lebih baik dari pada mereka; dan jangan pula wanita yang satu (memperolok) kaum wanita yang lain, karena boleh jadi (kaum wanita yang lain) itu lebih baik dari yang mengolok olokkan: dan jangan kamu mencela dirimu sendiri dan jangan panggil memanggil degan gelaran gelaran buruk. Seburuk beruk panggilan sesudah beriman ialah memanggil orang dengan fasik. Barang siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang yang zalim.
Menurut ayat Qur’an diatas, ternyata memanggil orang lain dengan panggilan buruk atau memperolok bukan hanya akan menjadi bencana bagi yang dipanggil atau diperolok tapi juga bahkan bisa mempermalukan yang mengolok olok. Kata Allah di ayat diatas, bisa jadi yang diperolok itu lebih baik dari yang memperolok. Dan itu benar bisa terjadi. Sekitar 20 tahun yang silam waktu aku masih di SMA, salah satu temen saya yang (maaf) giginya agak terlalu maju dari kebiasaan umum diperolok oleh temen yang lain dengan mengatakan ”untumu mronggos”. Dalam bahas Indonesia kata itu kurang lebih berarti ”gigimu tongos”. Kata itu diucapkan beberapa kali waktu itu untuk menjatuhkan mental si teman, namun yang perlu diketahui, kalau dilihat sebetulnya yang mengatakan ”untumu mrongos” ini giginya lebih maju lagi. Kala itu saya hanya bisa tersenyum agak sedikit geli.
Ternyata benar kata Qur’an, manusia itu seberapapun pintarnya tidak akan mampu mengenali diri, oleh karena itu jangan memperolok orang atau memangil orang dengan panggilan fasik, panggilan yang buruk, karena kita bisa saja lebih buruk dari yang kita perolok dan kita sama sekali tidak sadar. Bisa malu lah kita. Dan orang orang yang tidak mau bertobat, atau berhenti dari melakukan hal ini, oleh Al Qur’an disebut sebagi orang yang zalim. Tahu orang zalim itu seperti apa? Orang zalim adalah orang yang menyakiti dan menghancur orang lain. Orang yang seperti dicontohkan Ibu guru diatas.